
Oleh Dinil Abrar Sulthani – Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Turki 2022-2024
PWMU.CO – Pengertian dari tauhid adalah meyakini yang esa, satu atau tunggal. Dalam ajaran Islam, tauhid merupakan dasar ajaran Islam yang pertama dan utama. Karena itu, ketahuidan harus tertanamkan dalam jiwa sejak dini.
Dalam Islam, tauhidullah bisa berarti sebagai meyakini Allah sebagai Tuhan yang Esa, atau Tunggal atau Satu. Tidak ada Tuhan yang lain selain Allah. Sederhananya, tauhid merupakan keyakinan terhadap Allah Tuhan yang sesembahan, kiblat puja dan puji oleh seluruh ciptaannya. Pemujaan kepada Allah harus dengan penuh keyakinan. Tidak boleh ada keraguan sedikitpun. Apapun yang berupa perkatakan, bisikan, bahkan ajakan untuk mengabaikan, tidak boleh menggoyahkan keyakinan kepada Allah.
Kegigihan dalam mempertahankan tauhid harus menjadi perisai bagi orang yang beriman. Dengan kegigihan itu, semoga dapat menangkis semua pernyataan dan pertanyaan yang borientasi melemahkan keimanan (tauhid).
Belajar dari itu, maka manusia perlu memahami konsep tauhid dengan benar. Dengan konsep tahuid yang benar, maka keimanan akan semakin kuat.
Tauhid sebagai norma
Norma dalam bahasan tauhid terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu: tauhid rububiyah, tauhid mulkiyah, dan tauhid uluhiyah. Bahasan ini sebagai gambaran akan pentingnya memahami ilmu tauhid sebagai dasar amal ibadah seseorang. Harapannya, setelah mengkaji tentang tauhid ini, dapat memperkuat keyakinan kepada Allah dan juga semakin meningkat kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah. Siapa yang selalu mengasah pemahaman tauhidnya, insyaallah semakin bertambah iman dan amal salehnya.
Intisari dari “tauhid rububiyah” adalah meyakini dan mengimani Allah sebagai Maha Pencipta, Maha Pengatur, dan Maha Pembimbing bagi semesta alam dan seluruh ciptakan-Nya. Semesta alam ini selalu dalam aturan Allah hingga kiamat. Hal inilah yang kita kenal dengan istilah sunnatullah. Alam mengikuti takdir dan kehendak Allah, begitu juga peran manusia yang mengikuti aturan Allah dengan mengikuti ajaran agama Islam dengan baik. Makna tauhid rububiyah menunjuk pada manusia yang harus mengikuti aturan agama secara totalitas.
Landasan “tauhid mulkiyah” bermakna sebagai keyakinan bahwa Allah adalah Raja Maha Diraja. Pemimpin mutlak dunia dan akhirat yang memiliki kuasa memerintah dengan Kalamullah dan Sunnatullah di arsy-Nya. Allah sebagai Pemimpin mutlak dan kekal, berkuasa menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya pada bumi dengan misi memakmurkan dunia dengan berpegang pada kalam dan sunnah Allah.
Khalifah itu adalah manusia, sebagai makhluk pilihan yang memegang tanggung jawab sebagai pemimpin bagi diri dan alam semesta. Allah membekali kesiapan pemimpin tersebut dengan akal, hati dan fisik yang berfungsi sebagai dukungan keberhasilan manusia menjalankan tanggung jawabnya.
Dengan demikian, esensi tauhid mulkiyah adalah Allah sebagai pemimpin mutlak, kekal, dan utama. Seluruh ciptaanNya wajib mengikuti, mengimani, dan mentaati, serta selalu menggantungkan kepentingan kepada-Nya.
Adapun “tauhid uluhiyah” berarti pengakuan atau kesaksian bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang wajib diyakini dengan sepenuh hati. Kesaksian yang murni, bersih, dan kuat menanamkan dalam hati kepercayaan patuh tunduk kepada Allah. Tidak menyekutukan, tidak menduakan, dan tidak maksiat kepada Allah. Artinya, jadikan Allah hanya satu-satunya Tuhan, tidak ada yang lain. Satunya atau Esa-nya Allah tidak beranak dan diperanakkan. Dengan demikian, tauhid uluhiyah tandanya dengan taat kepada yang Satu, yaitu Allah yang Maha Esa.
Bentuk tiga bahasan tauhid di atas, sebenarnya untuk mempermudah para pembaca memahami bahwa esensi manusia dalam beragama haruslah berlandaskan tauhid. Pemahaman yang baik tentang tauhid akan menghasilkan motivasi beribadah dan berakhlak. Ibarat pohon, tauhid adalah akar tunggang yang tertancap kuat ke dasar bumi, ibadah adalah batang, cabang dan rantingnya, sedangkan akhlak adalah buah-buahnya.
Refleksi dari analogi pohon itu perlu terpahami dengan seksama bagi manusia yang ingin menjadi manusia paripurna (insan kamil). Karena dalam beragama mempunyai tujuan membentuk manusia paripurna yang membawa misi sebagai ahli ibadah (hamba) dan tokoh pemimpin (khalifah). Misi tersebut adalah tugas dan tanggung jawab manusia selama berada dan menetap di dunia ini.
Ahli ibadah memahami sebagai manusia yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Sedangkan, tokoh pemimpin sebagai manusia yang sadar bahwa diri adalah pemimpin untuk diri sendiri, keluarga, agama dan bangsanya.
Manusia adalah raja bagi diri sendiri, mengatur diri sendiri, jangan mau dalam aturan atau kendali orang lain. Jangan sampai orang lain yang memengaruhi dan menentukan hidup hendak kemana. Keputusan hidup harus muncul dari diri sendiri, hasil olahan pikir dan rasa. Itulah tanda sebagai raja yang independen, mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas perbuatan sendiri.
Akhirnya, kita perlu untuk melakukan resolusi tauhid. Resolusi tauhid ini bisa melalui tiga langkah: belajar bersungguh-sungguh untuk memperdalam ilmu agama; mempraktikkan kekuatan iman dan amal saleh secara serius; dan istiqomah dalam menjalankan hingga akhir hayat. Tak lupa dengan selalu berdo’a dengan harapan bisa memberikan pengaruh pada diri menjadi insan yang paripurna.
Editor Notonegoro






0 Tanggapan
Empty Comments