Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi menara gading yang megah menjulang ke langit, tetapi terpisah dari realitas masyarakat.
Apalagi jika budaya hedonisme mulai menjangkiti unsur pimpinan, ketika turun ke bawah (turba) justru berharap berbagai fasilitas disiapkan, program rihlah atau studi banding diutamakan, dan berbagai kegiatan serupa yang pada akhirnya membebani biaya organisasi atau amal usaha.
Sebagai organisasi besar dan berpengaruh, pimpinan Muhammadiyah seharusnya hadir dan kuat di akar rumput.
Kekuatan sejati sebuah organisasi lahir dari kedekatan dan keterlibatan langsung para pemimpinnya dengan masyarakat bawah.
Dengan berakar kuat di tengah masyarakat, pimpinan Muhammadiyah akan mampu memahami kebutuhan, tantangan, dan harapan umat, sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat dan relevan.
Kehadiran pimpinan di tengah-tengah masyarakat juga memperkuat kepercayaan dan solidaritas umat. Hal ini menjadikan Muhammadiyah bukan hanya simbol intelektual dan kebijakan, tetapi juga kekuatan sosial yang nyata dan berdampak langsung.
Oleh karena itu, pimpinan Muhammadiyah harus aktif dalam pembinaan, pemberdayaan, dan penguatan komunitas di akar rumput agar nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dapat hidup dan berkembang dengan baik di seluruh lapisan masyarakat.
Muhammadiyah harus menjadi jembatan antara ilmu dan tindakan, antara gagasan dan masyarakat, sehingga mampu menciptakan perubahan yang berkelanjutan dan bermakna.
Pimpinan yang kuat di akar rumput adalah kunci untuk mewujudkan visi tersebut — membumikan semangat kebangsaan dan keislaman secara kolektif dan nyata.
Dalam Muktamar Muhammadiyah di Solo, pilar ekonomi telah ditetapkan sebagai salah satu gerakan utama dalam rangka menjawab tantangan kebutuhan zaman.
Memajukan Muhammadiyah melalui gerakan jihad ekonomi dapat dilakukan dengan tiga kunci utama: reorientasi teologis, reorientasi strategis, dan orientasi praksis ekonomi.
Pertama, reorientasi teologis menjadi dasar penting agar umat Islam menyadari pentingnya perhatian terhadap dunia ekonomi sebagai bagian dari ibadah dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Kedua, reorientasi strategis diperlukan untuk mengembangkan dan mendorong unit-unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta amal usaha Muhammadiyah agar lebih terstruktur dan terorganisir.
Ketiga, orientasi praksis ekonomi menandai percepatan pengembangan usaha agar naik kelas, dengan kapitalisasi unit bisnis yang dimiliki Muhammadiyah untuk menciptakan kemandirian ekonomi umat.
Selain itu, penguatan ekonomi umat harus dilakukan secara masif, terstruktur, dan sistematis melalui kolaborasi antarjamaah serta distribusi keuntungan yang merata hingga tingkat daerah, cabang, dan ranting, agar pertumbuhan ekonomi bersifat inklusif.
Pendirian Bank Muhammadiyah, pengembangan ritel seperti Suryamart, serta pemberdayaan sektor riil seperti usaha di bidang tambang, perkebunan, dan penciptaan produk-produk berlabel Muhammadiyah. Di antaranya IT-MU, AC-MU, MIE-MU, dan produk “MU” lainnya — merupakan contoh langkah konkret dari gerakan jihad ekonomi Muhammadiyah.
Gerakan ini bukan hanya soal keuntungan ekonomi, tetapi juga wujud dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang memperkuat posisi umat dalam berbagai aspek kehidupan sosial, politik, dan budaya.
Dengan jihad ekonomi, Muhammadiyah diharapkan menjadi kekuatan strategis ekonomi umat Islam, sekaligus mampu mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan daya saing umat di tingkat nasional maupun global. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments