Allah menciptakan bumi dengan segala keindahannya, sawah, laut, hutan, dan seluruh ciptaan yang menopang kehidupan manusia.
Alam bukan sekadar pemandangan yang indah, tetapi sumber kehidupan yang tiada henti memberi. Oksigen yang kita hirup setiap detik berasal dari proses fotosintesis tumbuhan, pangan yang kita makan tumbuh dari tanah yang subur. Sawah menghasilkan beras, dan hasil panen itulah yang menjadi makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia. Singkatnya, manusia hidup karena ekosistem terus bekerja.
Dalam Islam, cinta lingkungan bukan sekadar pilihan, tetapi amanah. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa merawat bumi adalah bagian dari iman, bahkan beliau menganjurkan untuk menanam pohon meski hari kiamat tiba.
Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 60: “Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.”
Ayat Al-Qur’an juga menegaskan manusia sebagai khalifah, pengelola dan penjaga, bukan perusak. Ironisnya, amanah ini sering kita abaikan. Alam yang indah berubah menjadi saksi kemalasan dan ketidakpedulian manusia. Padahal, mencintai lingkungan lahir dari hati yang bersyukur, sebab setiap daun dan setiap hembusan angin adalah nikmat Allah yang patut dijaga.
Di zaman modern, kerusakan lingkungan semakin mengkhawatirkan. Polusi udara, pencemaran air, penebangan hutan, dan perubahan iklim bukan lagi isu jauh yang hanya dibicarakan aktivis.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa 72 persen masyarakat Indonesia masih tidak peduli sampah dan BPS memperkirakan lebih dari 70 persen masyarakat belum memiliki kesadaran lingkungan.
Bahkan, 65 persen responden mengakui bahwa perubahan iklim di Indonesia dipicu oleh aktivitas manusia.
Dampaknya nyata. Deforestasi dalam kurun 2021-2022 masih mencapai 104 ribu hektare, dan wilayah seperti Kalimantan, Sumatra, serta Sulawesi mengalami krisis ekologis.
Banjir besar di Sumatera pada akhir November 2025 yang menewaskan lebih dari 1.178 orang adalah peringatan keras bahwa kerusakan alam berujung tragedi kemanusiaan.
Padahal alam memberi lebih banyak daripada yang kita ambil. Hutan adalah rumah keanekaragaman hayati, pelindung resapan air, sekaligus stabilisator iklim. Ketika pohon ditebang sembarangan, tanah kehilangan penahan air dan bencana seperti banjir dan longsor menjadi tak terhindarkan.
Islam sudah jauh lebih dahulu memberikan pedoman pelestarian. Hewan-hewan yang dianjurkan untuk dikonsumsi adalah spesies berpopulasi besar, bukan satwa langka. Ajaran ini menunjukkan bahwa keberlanjutan telah menjadi pesan moral Islam sejak 14 abad lalu.
Maka menjaga bumi bukan sekadar aksi lingkungan, ini adalah ibadah, wujud syukur, dan tanggung jawab spiritual. Kita dapat memulainya dari hal kecil: membuang sampah pada tempatnya, mengurangi plastik, menghemat air, serta menanam pohon.
Hubungan manusia dan alam adalah hubungan timbal balik. Lingkungan baik akan melahirkan manusia yang baik, dan manusia baik akan menciptakan lingkungan yang layak untuk generasi mendatang.
Bumi adalah titipan. Jika kita mengaku beriman, tidak ada alasan untuk tetap diam.
Mari kita jaga bumi sebaik-baiknya karena menjaga bumi berarti menjaga masa depan, menjaga makhluk Allah, dan menjaga amanah yang dititipkan kepada kita sebagai khalifah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments