Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjaga Amanah, Mewujudkan Harapan: Kiprah Panti Asuhan Aisyiyah Melampaui Zaman

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Pembukaan Panti Asuhan Aisyiyah (Arsip UMY/PWMU.CO)

Oleh: Lenni Ayu Lestari (Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Airlangga)

PWMU.CO – Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912. Organisasi ini berkomitmen untuk menegakkan ajaran Islam demi kejayaan dan kemuliaan Islam serta umatnya. Muhammadiyah berupaya agar setiap kegiatan dan perjuangannya sebagai penggerak Islam berlandaskan pada prinsip Amar Ma’ruf Nahi Munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah yang buruk. Pandangan tersebut kemudian disyiarkan melalui tiga pilar Muhammadiyah, yaitu pelayanan sosial, pelayanan kesehatan, dan pendidikan.

Siti Walidah merupakan salah satu sosok yang berperan besar dalam membantu perjuangan dakwah Muhammadiyah. Sebagai istri dari founding father Muhammadiyah, secara tidak langsung mengikutsertakan Siti Walidah dalam gerak langkah Muhammadiyah. Pada tahun 1914, Siti Walidah bersama para perempuan Kauman mengadakan pengajian khusus yang dikenal dengan Sapa Tresna. Kampung Kauman merupakan tempat tinggal para abdi dalem Keraton Yogyakarta yang masih kental terhadap sistem patriarki. Kelompok pengajian ‘siapa suka’ ini pada awalnya hanya sebatas pertemuan diskusi perjuangan dalam melawan penyimpangan adat dan tradisi Jawa yang mengakar kuat dan menciptakan hierarki antara laki-laki dan perempuan. Kelompok pengajian inilah yang nantinya menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Aisyiyah.

Letusan Gunung Kelud dan Dakwah Sosial

Pada tahun 1918, terjadi bencana alam letusan Gunung Kelud yang menewaskan hampir 5.000 korban. Para korban dari bencana ini ada yang harus kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarganya. Melihat kondisi tersebut, anggota Muhammadiyah melakukan penggalangan dana yang kemudian direalisasikan dalam openbare vergadering (pertemuan publik )pada 17 Juni 1920. Dari pertemuan ini, disepakati bahwa Muhammadiyah akan membentuk subdivisi di bidang sosial yang dinamakan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) dengan HM Soedja’ sebagai ketuanya. Berdirinya PKO ini juga yang menjadi pendorong didirikannya rumah yatim yang menjadi cikal bakal berdirinya Panti Asuhan Aisyiyah.

Dalam rapat besar di Batavia pada 29 Maret 1924, pembahasan terkait pembangunan rumah yatim dan keberadaan organisasi Aisyiyah menjadi salah satu topik utama. Perwakilan Aisyiyah sebagai salah satu organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah menyuarakan bahwa keberadaan Aisyiyah bukan semata-mata karena partisipasi Siti Walidah dalam memperkuat hubungan sosial Muhammadiyah dengan kaum wanita. Sebaliknya, semangat Aisyiyah dipicu oleh surat kabar yang menyatakan bahwa laki-laki Islam memiliki kewajiban untuk mendukung kemajuan perempuan Islam. Hal ini menjadi bentuk respons terhadap berbagai kondisi yang mengancam posisi dan hakikat perempuan di masa penjajahan.

Oleh karena itu, setiap cabang Muhammadiyah di seluruh Hindia Belanda diharuskan memiliki cabang Aisyiyah sebagai manifestasi kepemimpinan perempuan. Dengan kata lain, organisasi laki-laki bernama Muhammadiyah, sementara organisasi perempuan bernama Aisyiyah, sesuai dengan penafsiran Surah al-Maidah ayat 6. Kehadiran perwakilan Aisyiyah dalam kongres tersebut menandai keikutsertaan Aisyiyah dalam membangun panti asuhan untuk Muhammadiyah.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu