Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjaga Amanah, Mewujudkan Harapan: Kiprah Panti Asuhan Aisyiyah Melampaui Zaman

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -

Diresmikannya Panti Asuhan Aisyiyah

Rencana dalam pembangunan panti asuhan kemudian baru ditunjukkan di masa kepemimpinan KH Ibrahim (periode 1923-1933). Keputusan ini diambil sebagai langkah awal dalam restrukturisasi organisasi Muhammadiyah untuk mengawasi operasional panti melalui PKO dan Aisyiyah.

Panti Asuhan Aisyiyah di awal peresmiannya menempati rumah KH Ahmad Dahlan yang terletak di Jayeng Prakosa. Bangunan tersebut merupakan pondok Sapa Tresna sebelumnya. Penerimaan anak-anak calon penghuni panti juga dilaksanakan di tempat tersebut. Acara tersebut dibuka dengan menyanyikan lagu Mars Muhammadiyah oleh anak- anak dan sambutan ketua panti yakni pengurus Aisyiyah. Dalam peresmian tersebut dihadiri juga oleh dinas sosial dan pemerintah setempat.

Pada awalnya, sistem pola asuh anak panti masih perorangan, yakni satu orang mengasuh beberapa anak dari pondok Sapa Tresna dan diberikan pengajaran di rumah masing-masing pengasuh. Kemudian sistem diubah lebih kelembagaan dan semua kegiatan anak-anak panti putri dipusatkan di rumah KH Ahmad Dahlan. Dalam proses pendirian panti, bidang Sapa Tresna bertanggung jawab penuh dalam pengelolaan dan pemeliharaan panti. Termasuk penerimaan calon anak-anak panti. Kegiatan ini mendapatkan dukungan dan simpati masyarakat. Pada awal berdirinya, Panti Asuhan Aisyiyah menerima 15 anak. Penerimaan anak ini berdasarkan rekomendasi organisasi setempat, diutamakan dari Muhammadiyah atau Aisyiyah, berusia madrasah, mampu mengurus diri, dan sukarela.

Dalam urusan penerimaan anak-anak yatim, di awal berdirinya Panti Asuhan Aisyiyah menargetkan bahwa beberapa kategori anak yang layak huni. Kebijakan tersebut diambil karena kurangnya fasilitas yang ada dan sumber daya pengasuh yang saat itu hanya dipegang oleh para anggota Aisyiyah. Kategori tersebut antara lain anak-anak yatim-piatu miskin, anak miskin dan terlantar, anak yang membutuhkan perlindungan khusus, dan anak yang berada dalam krisis ideologi.  Kebijakan tersebut merupakan mandat dan amanah dari Muhammadiyah.

Tiga tahun setelah penerimaan anak-anak calon penghuni panti, Panti Asuhan Aisyiyah mulai beroperasi di Kauman. Setelah peresmiannya, koran Hindia Belanda Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie menampilkan kolom khusus terkait Panti Asuhan Aisyiyah. Dalam artikel tersebut dijelaskan ada sebanyak 20 anak perempuan serentak yang mendaftarkan diri menjadi  anak asuh panti.

Aisyiyah menunjukkan komitmen kuatnya terhadap Panti Asuhan Aisyiyah dengan merumuskan visi yang tegas: mencetak muslimah bertaqwa, terampil, mandiri, dan cerdas yang bermanfaat bagi bangsa, negara, dan agama. Komitmen ini tercatat dalam Boendelan Rapat Kongres Aisyiyah tahun 1965, yang menegaskan peran Panti Asuhan sebagai bagian dari perjuangan Aisyiyah dalam memberdayakan perempuan di Hindia Belanda, termasuk kontribusinya dalam publikasi Soeara Aisyiyah tahun 1931.

Sejak awal, anak-anak di Panti Aisyiyah aktif dalam pengkaderan dan kegiatan Nasyiatul Aisyiyah, termasuk menulis dan mengikuti kongres serta kajian. Di bawah kepemimpinan Siti Bariyah, mereka turut mendukung perkembangan Aisyiyah sebagai organisasi wanita berkemajuan.

Pada tahun 1931, dalam sebuah Boendelan Aisyiyah mengembangkan kajian tentang perempuan dan pengajaran psikologis untuk membina anak yatim putri, membantu mereka mencintai fitrah dan memperkuat peran wanita. Boendelan tersebut memuat tiga unsur penting yang menjadi fundamental bagi perempuan. Pertama, perempuan sebagai anggota masyarakat harus menekankan pentingnya moral dan harga diri di tengah masa transisi remaja yang penuh pencarian pengakuan. Kedua. Perempuan sebagai istri harus patuh terhadap suami sesuai dengan syariah Islam. Ketiga, perempuan sebagai ibu harus menanamkan cinta kepada Allah kepada anaknya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu