Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjaga Amanah, Mewujudkan Harapan: Kiprah Panti Asuhan Aisyiyah Melampaui Zaman

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -

Perkembangan Panti Asuhan Aisyiyah di Masa Penjajahan

Pada akhir tahun 1931, Aisyiyah menerima artikel dari PKO Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka bahwa terjadi eksploitasi perdagangan perempuan dan anak yang semakin merajalela di Yogyakarta. Artikel tersebut memberikan sedikitnya gambaran bahwa pentingnya perlindungan anak dan perempuan yang diusahakan Aisyiyah dalam pengembangan panti ini. Upaya Aisyiyah dalam melindungi anak-anak tidak hanya terbatas pada Panti Asuhan Aisyiyah sebagai wadah penyantunan dan pemeliharaan anak yatim. Aisyiyah juga memperluas usahanya ke lembaga sosial lain di Yogyakarta. Perluasan ini menarik perhatian kelompok perempuan di Batavia, mendorong mereka untuk aktif dalam ranah politik dengan mengajukan permohonan dana bagi janda dan anak yatim di seluruh Hindia Belanda melalui federasi perempuan Hindia-Belanda.

Perubahan dari penjajahan Belanda ke Jepang memberikan dampak signifikan dalam kehidupan individu dan kelompok pribumi. Dimulai tahun 1941, peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang menyebabkan terhentinya sebagian kegiatan Aisyiyah. Hambatan yang ditunjukkan Jepang kepada Aisyiyah justru di respon berbeda dengan berdirinya Panti Asuhan Aisyiyah di Surakarta tahun 1942. Cabang baru ini merupakan bentuk keberhasilan Panti Asuhan Aisyiyah dalam memelihara dan merawat anak yatim, sehingga dibutuhkan daerah lain demi bisa menampung dan merawat anak-anak lebih banyak.

Di tahun pertamanya berdiri, Panti Asuhan Aisyiyah di Surakarta beroperasi dengan mencetuskan program pengasuhan foster care dan foster parents yang cenderung menguntungkan anak-anak dan keluarganya.2 Foster care adalah layanan penitipan anak pada keluarga ‘mampu’ atau adopsi, dengan persetujuan semua pihak terkait. Program ini menawarkan pilihan pengasuhan yang beragam untuk mendukung tumbuh kembang anak. Sementara itu, foster parents merujuk pada anak-anak yang tinggal bersama keluarga wali.

Pendirian Panti Asuhan Aisyiyah di Surakarta bertepatan dengan kekosongan jabatan pengurus Muhammadiyah yang tak berselang lama digantikan oleh Ki Bagus Hadikusumo dan wakilnya, H. Badawi. Pada kepemimpinannya program dan amal usaha Muhammadiyah mengalami pasang surut akibat penerapan pembatasan yang ketat oleh Jepang. Reorganisasi Muhammadiyah oleh Ki Bagus Hadikusumo menghadirkan kendala rumit bagi Aisyiyah, yang terancam bubar akibat aturan penggabungan organisasi wanita di bawah pengawasan Fujinkai. Aturan ini tentu membatasi gerak Aisyiyah termasuk dalam mengawasi dan menjalankan kegiatan panti. Pada tahun 1943, sebagai organisasi yang berkomitmen menjalankan amanah, Muhammadiyah berperan sebagai payung pelindung bagi organisasi otonomnya dengan mengambil langkah strategis yakni meniadakan seluruh amal usaha Aisyiyah.

Aktivitas Aisyiyah yang mengalami kevakuman mempengaruhi Panti Asuhan Aisyiyah selama beberapa waktu. Panti tidak menerima anak yang masuk di tahun-tahun tersebut. Secara terpaksa Aisyiyah menyerahkan pemeliharaan anak- anak yatim di Panti Asuhan Aisyiyah kepada Muhammadiyah. Namun, pengumpulan dana dan infaq berupa beras, pakaian, dan uang tetap diam-diam dilakukan oleh Aisyiyah untuk panti. Aksi tersebut dipimpin oleh Ny. Badillah Zuber selaku ketua umum Aisyiyah periode 1941-1943.

Kondisi Setelah Kemerdekaan

Setelah Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan, Panti Asuhan Aisyiyah kembali beroperasi di Kauman. Kondisi tersebut memantik Aisyiyah untuk tampil dalam kongres wanita di Solo pada Februari 1946. Kongres tersebut menghasilkan pembentukan Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Aisyiyah mendukung penuh Kowani sebagai federasi nasional yang menyatukan suara perempuan. Dalam pertemuan tersebut perwakilan Aisyiyah juga menyampaikan kesan bahwa “Penjajahan memberikan efek buruk terhadap perkembangan gerakan perempuan di masa itu”. Kongres tersebut menandai keberpihakan Aisyiyah kembali dalam operasional panti.

Setelah Aisyiyah tampil dalam wajah Indonesia pasca kemerdekaan, keputusan dalam pembangunan panti secara terpisah direalisasikan dalam peremuan Panti Asuhan Aisyiyah di Serangan dilaksanakan pada 17 September 1957. Letak panti berada di Jl. Munir No. 109, Notoprajan, Ngampilan, Kota Yogyakarta di atas tanah seluas 9289 m2. Peresmian tersebut dipimpin oleh Siti Hayyinah selaku Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah periode 1953-1959. Acara peresmian tersebut menandai perubahan kepengurusan panti dari Muhammadiyah Bagian PKO kepada Pimpinan Muhammadiyah Cabang Ngampilan. Secara hukum, Pimpinan Muhammadiyah Cabang Ngampilan membentuk kepengurusan Panti Asuhan Aisyiyah, yang mana Aisyiyah kini memiliki otonomi penuh dalam kepemimpinan, kekuasaan, tanggung jawab, pengelolaan hak milik, dan pengasuhan anak-anak.

Dengan sejarah panjang yang sarat perjuangan, Panti Asuhan Aisyiyah bukan sekadar tempat tinggal bagi anak-anak yatim, melainkan bukti nyata bahwa kepedulian, keteguhan, dan visi perempuan berkemajuan mampu mengubah masa depan. Dari lorong sempit Kauman hingga megahnya gedung di Serangan, Aisyiyah telah menjadikan cinta, ilmu, dan iman sebagai fondasi pengasuhan. Kini, panti ini tidak hanya menjadi tempat bertumbuh, tetapi juga kawah candradimuka lahirnya generasi muslimah tangguh—mandiri, cerdas, dan berdaya saing. Sebuah warisan abadi yang terus menebar cahaya dari masa ke masa. (*)

Editor Wildan Nanda Rahmatullah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu