Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjaga Kebajikan Meski Dunia Seumur Jagung

Iklan Landscape Smamda
Menjaga Kebajikan Meski Dunia Seumur Jagung
Oleh : Hasanuddin, S.Pd.I,M.Si Guru Agama Islam di SMK Negeri 1 Pasean dan Aktivis Muhammadiyah Kangean
pwmu.co -

Bukan rahasia lagi bahwa kehidupan dunia ini singkat. Hal ini berulang kali ditegaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi.

Para juru dakwah tak pernah lelah mengingatkannya, dan para ahli hikmah terus menyebarkan nasihat tersebut melalui berbagai media, mulai dari kitab, buku, dan majalah, hingga media modern seperti Facebook, TikTok, Instagram, dan YouTube.

Tidak dapat dimungkiri, beragamnya sumber pengetahuan dan media yang diasup akan memengaruhi pola pikir seseorang.

Seseorang yang mempelajari kitab suci, hadis, dan pengetahuan umum cenderung memiliki pemikiran yang komprehensif.

Sebaliknya, mereka yang hanya mengandalkan satu atau segelintir ilmu akan memiliki pemikiran yang sempit dan picik karena gagal mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu.

Sebagai contoh, orang yang hanya mengutip satu ayat suci tanpa berupaya mengaitkannya dengan ayat-ayat yang lain, maka ada kecenderungan menjadi bersikap tertutup, fanatis buta dan cenderung taqlid.

Dalam menatap kehidupan dunia ini, ia akan cenderung memakai kacamata agama atau ayat suci secara parsial. Mereka memahami ayat maka pemikirannya terkontaminasi penyakit yang namanya closed minded/tertutup.

Menurutnya hidup di dunia ini yang penting ibadah sebanyak-banyaknya. Ia masa bodoh dengan dunianya. Ia tak memperdulikan apakah pendidikan baik atau buruk.

Ia abai dengan keadaan umat apakah maju atau terbelakang. Ia membiarkan apakah lembaga kesehatan bagus atau tidak.

Mereka memandang kehidupan dunia ini hanya melalui sudut pandang agama atau ayat suci secara parsial akan memiliki pemikiran yang kerdil dan terkungkung.

Pemikirannya cenderung terkontaminasi oleh perspektif yang tertutup (closed-minded).

Pandangan yang tertutup (closed-minded) semacam ini membuat mereka menganggap hanya ibadah sebagai satu-satunya prioritas, sementara urusan duniawi tidak dianggap penting.

Mereka bersikap abai terhadap mutu pendidikan, tidak peduli pada kemajuan atau keterbelakangan umat, dan membiarkan kondisi lembaga kesehatan apa adanya.

Padahal sikap yang berpikiran sempit (closed-minded) seperti ini sesungguhnya telah mendapatkan peringatan dan koreksi dari Nabi Muhammad SAW.

Hal ini sebagaimana sabda beliau, “Jika kiamat telah tiba dan salah seorang dari kalian sedang memegang tunas, lalu sempat untuk menanamnya, maka tanamlah”.

Karena itu, sesungguhnya tidak ada alasan bagi siapapun untuk menyia-nyiakan hidup ini, meski pun besok atau bahkan saat ini hendak tutup usia.

Dunia ini memang singkat, bahkan jauh lebih singkat nilainya daripada akhirat.

Namun kita juga harus tetap menjaga semangat untuk selalu berbuat kebajikan di dunia.

Tetap semangat mengejar pendidikan dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Selalu bersemangat untuk meraih ilmu setinggi-tingginya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tetap bersemangat dalam berdakwah,  rajin hadir dalam pengajian dan cekatan dalam beramal.

Dunia ini bukanlah “penjara” yang membatasi gerak kita.

Sebaliknya, dunia adalah tempat untuk mengumpulkan kebajikan sebagai bekal di akhirat.

Nasib kita di akhirat berhubungan erat dengan perbuatan kita selama hidup di dunia.

Jika kita sedikit berbuat kebajikan, maka di akhirat kita pun akan “miskin” pahala.

Dengan kata lain, jika keburukan lebih banyak kita lakukan, kita akan menjalani kehidupan akhirat dalam kesengsaraan.

Jangan jadikan pemahaman hadis bahwa dunia adalah ‘penjara’ bagi orang beriman sebagai alasan untuk bermalas-malasan, enggan berprestasi, atau sungkan menjadi manusia yang berguna.

Konsep itu juga tidak seharusnya disalahartikan hingga membuat kita merasa nyaman di zona aman, lalu berpikir, “Untuk apa bersusah payah mengajak orang pada kebaikan, berjuang keras mencari rezeki yang halal, atau bersungguh-sungguh menyekolahkan anak-anak ke sekolah yang bermutu?”

Kata “penjara” harus kita maknai sebagai energi positif untuk menggerakkan jiwa kita untuk melakukan kebajikan dan mengajak kaki kita untuk segera melangkah dalam berlomba-lomba mengerjakan kebaikan.

Terkait dengan hal tersebut, As-Sa’diy dalam tafsirnya terkait hal ini menyebutkan bahwa “perintah berlomba dalam kebaikan berada di atas level melakukan kebaikan. Karena berlomba dalam kebaikan mencakup mengerjakan, menyempurnakan, berusaha mengerjakannya (kebaikan) sebaik mungkin, dan bersegera terhadap sebuah kebaikan. Barangsiapa yang ketika di dunia ia gemar berlomba dalam kebaikan, maka kelak di akhirat ia akan mendapat kesempatan menjadi golongan yang lebih dahulu ke surga dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 72)

Jadi, kita jangan salah dalam memahami kehidupan dunia ini.

Jika kita tidak mengisinya dengan kebaikan, lantas siapakah yang akan mengisinya?

Haruskah kita menyuruh orang-orang kafir, fasik, munafik, atau mereka yang gemar berbuat kerusakan? Tentu tidak.

Mereka yang merusak bumi ini tidak memiliki hak untuk menjadi perwakilan kita.

Maka, kitalah yang harus bertindak, kitalah yang harus menjadi khalifah untuk memakmurkan bumi ini.

Menurut Imam al-Ghazali, untuk mencapai keberuntungan sejati, seseorang harus larut dalam urusan akhirat dan menjalani kehidupan dunia sewajarnya.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu