Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. KH. Syamsuddin, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dalam kehidupan manusia.
Syamsuddin menegaskan bahwa seluruh jagad raya ini diciptakan oleh Allah dengan harmoni dan keseimbangan yang sempurna, tanpa cacat dan tanpa kekeliruan sedikit pun.
Dia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Mulk ayat 3-5: “Alladzi khalaqa sab’a samawatin tibaqa, ma tara fi khalqir-rahmani min tafawut, farji’il bashara hal tara min futur.” (Dialah Allah yang menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat; kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?).
Menurutnya, ayat ini menjadi bukti bahwa ciptaan Allah selalu seimbang dan harmonis, dan dari keseimbangan inilah manusia mendapatkan ketenteraman dan kebahagiaan hidup.
“Selama manusia mampu menjaga keseimbangan alam, maka selama itu pula ia akan hidup dalam kesentosaan,” ujarnya dikutip dari kanal Youtube Masjid An-Nur Sidoarjo.
Lebih lanjut, Kiai Syamsuddin menjelaskan bahwa keseimbangan yang dimaksud bukan hanya pada alam fisik, tetapi juga alam batin atau rohani manusia. Jika manusia mampu menjaga keseimbangan pada dua sisi ini, maka akan tercipta kehidupan yang damai dan penuh berkah.
“Kalau alam jasmani dijaga dengan baik, jasmani kita sehat. Jika alam rohani dijaga, maka batin kita juga akan tenang,” tutur Kiai Syamsuddin.
Dia kemudian menghubungkan hal tersebut dengan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ayat ini, menurut para mufasir yang dikutip Kiai Syamsuddin, mengandung makna bahwa nikmat dan keseimbangan yang telah Allah berikan bisa berubah menjadi bencana jika manusia merusak atau mengabaikannya.
“Ketika manusia tidak lagi mampu menjaga keseimbangan alam, maka yang terjadi adalah bencana — baik bencana jasmani seperti kerusakan lingkungan, maupun bencana rohani seperti hilangnya nilai moral dan spiritual,” jelas dosesn Universitas Islam Negeri Sunan Ampal (UINSA) Surabaya ini.
Untuk menggambarkan konsep keseimbangan, Kiai Syamsuddin memberikan perumpamaan sederhana. Menurutnya, menanam satu pohon dan merawatnya dengan baik berarti menghasilkan energi positif berupa oksigen yang dapat menyelamatkan kehidupan.
“Pohon yang kita tanam mengeluarkan oksigen yang bertemu dengan zat beracun seperti karbon dioksida dari kendaraan dan pabrik. Di situlah manusia berkontribusi pada keselamatan lingkungan,” ujarnya.
Namun, keseimbangan alam tidak hanya berbicara tentang hal fisik. Ia menegaskan bahwa alam rohani juga memerlukan oksigen, yaitu amal saleh.
“Ketika kita salat, puasa, membaca Al-Qur’an, berzakat, dan bersedekah, kita mengeluarkan energi positif yang bisa disebut ‘oksigen rohani’. Sebaliknya, maksiat dan perbuatan dosa memunculkan ‘karbon dioksida rohani’,” ungkap Kiai Syamsuddin.
Kedua energi itu, lanjutnya, akan bertemu dan menentukan dominasi suasana rohani di alam semesta. Maka, setiap amal saleh sekecil apa pun, menurut Syamsuddin, berkontribusi dalam menjaga keselamatan rohani manusia dan alam.
Kiai Syamsuddin mengingatkan bahwa dalam Islam, amal saleh tidak diukur dari banyaknya, tetapi dari kualitas dan keikhlasan pelakunya.
Ia mengutip sabda Nabi Muhammad saw: “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meski sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Serta hadis lain yang menjelaskan bahwa iman memiliki banyak cabang , dari yang paling tinggi seperti kalimat Lailahaillallah hingga yang paling sederhana seperti menyingkirkan duri dari jalan. Semua itu menunjukkan bahwa tidak ada hari tanpa amal saleh bagi seorang mukmin.
“Allah tidak menuntut besarnya amal, tapi bobot dan ketulusannya,” kata Kiai Syamsuddin.
Dia juga menutup dengan ayat yang menggambarkan betapa besar balasan bagi orang yang berinfak di jalan Allah:
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261).
Kiai Syamsuddin kemudian menegaskan bahwa menjaga keseimbangan alam — baik jasmani maupun rohani — merupakan bagian dari ibadah dan wujud rasa syukur atas nikmat Allah.
“Mari kita isi hari-hari kita dengan iman dan amal saleh. Karena dengan itu, kita telah berkontribusi dalam menyelamatkan manusia, menjaga alam jasmani mereka, dan memelihara alam rohani mereka,” pesannya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments