Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjaga Nyala Api Perjuangan dari Suara-Suara Sunyi

Iklan Landscape Smamda
Menjaga Nyala Api Perjuangan dari Suara-Suara Sunyi
Oleh : Rokhmat Widodo Kader Muhammadiyah Kudus
pwmu.co -

Muhammadiyah sering dinarasikan melalui bahasa gerakan, amal usaha, dan capaian-capaian besar yang tampak di ruang publik.

Namun jarang menyadari bahwa penentu keberlanjutan gerakan ini justru berada di ruang yang paling sunyi dan paling dekat: rumah.

Di sanalah keikhlasan pertama kali diuji — bukan dalam sorotan forum atau hiruk-pikuk struktur, melainkan dalam relasi sehari-hari antara pasangan, orang tua, dan anak-anak kader.

Ketika rumah kehilangan ketenangannya, keikhlasan mudah terkikis; dan ketika ikhlas melemah di rumah, keberlanjutan Muhammadiyah perlahan kehilangan pijakan paling dasarnya.

Ikhlas dalam keluarga bukan konsep romantik yang lahir dari retorika indah.

Ia adalah proses batin yang panjang, sering kali melelahkan, dan tidak jarang penuh pergulatan.

Menuju Organisasi yang Ramah Keluarga

Ketika seorang kader Muhammadiyah memilih jalan pengabdian, keputusan itu tidak pernah berhenti pada diri sendiri saja.

Ia selalu beresonansi ke rumah: pada pasangan yang harus menata ulang ekspektasi hidup, pada anak-anak yang belajar berbagi perhatian orang tua dengan umat, serta pada keluarga besar yang tidak selalu memahami pilihan tersebut.

Di titik inilah, ikhlas bukan lagi sekadar jargon dakwah, melainkan sebagai laku hidup yang nyata.

Muhammadiyah kerap dipahami sebagai organisasi modern, rasional, dan sistemik.

Namun denyut nadinya justru terletak pada hal-hal yang sangat manusiawi: kesabaran, pengertian, dan keikhlasan dalam keluarga.

Amal usaha yang berdiri megah—sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, hingga berbagai gerakan sosial—tidak hanya disokong oleh sistem dan manajemen, tetapi oleh keluarga-keluarga kader yang rela hidup bersahaja demi menjaga nyala perjuangan.

Mungkin mereka tidak kaya secara materi, namun kaya dalam pengorbanan.

Kekayaan inilah yang jarang terekam dalam catatan sejarah, padahal merupakan modal sosial paling berharga bagi Muhammadiyah.

Ikhlas dalam keluarga tidak berarti meniadakan rasa lelah, kecewa, atau bahkan cemburu.

Justru sebaliknya, ia mengakui bahwa semua emosi itu nyata, lalu mengolahnya menjadi kesadaran bersama.

Ikhlas bukan penyangkalan emosi, melainkan pendewasaan emosi.

Keluarga yang dipaksa “ikhlas” tanpa ruang dialog berpotensi melahirkan luka yang sunyi.

Dan luka yang dibiarkan terlalu lama akan menjelma menjadi jarak —bukan hanya dalam keluarga, tetapi juga antara kader dan gerakan yang ia cintai.

Oleh karena itu, ikhlas yang menguatkan Muhammadiyah adalah ikhlas yang lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan.

Pasangan kader tidak cukup hanya dituntut “mengerti perjuangan”, tetapi perlu diajak memahami arah, nilai, dan makna perjuangan itu sendiri.

Anak-anak tidak cukup hanya diminta bersabar karena orang tuanya sibuk dakwah, tetapi perlu diperkenalkan pada spirit Al-Ma’un—bahwa pengabdian kepada umat adalah manifestasi iman.

Dari sinilah ikhlas tumbuh sebagai kebanggaan, bukan sebagai beban yang dipendam.

Sejarah Muhammadiyah mengajarkan bahwa pembaruan selalu dimulai dari keberanian menata ulang cara pandang, termasuk cara memandang keluarga.

Keluarga bukan penghambat gerakan, melainkan pusat kaderisasi paling awal dan paling menentukan.

Nilai-nilai Muhammadiyah —tajdid, keberpihakan sosial, kejujuran, disiplin, dan kesederhanaan— pertama-tama bukan diuji di ruang rapat, melainkan di ruang makan, ruang tamu, dan meja belajar anak-anak.

Jika nilai itu gagal hidup di rumah, maka ia akan rapuh ketika dibawa ke ruang publik.

Ikhlas dalam keluarga juga menuntut keberanian untuk hidup secukupnya.

Di tengah budaya yang mengukur keberhasilan dengan materi dan status, pilihan hidup sederhana sering dianggap sebagai kegagalan.

Muhammadiyah sejak awal menegaskan bahwa kemuliaan tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari kebermanfaatan.

Keluarga kader yang ikhlas memahami bahwa rezeki bukan sekadar angka, tetapi arah dan keberkahan.

Mereka mungkin tidak selalu memiliki banyak, tetapi tahu untuk apa mereka hidup dan berjuang.

Namun keikhlasan tidak boleh terreduksi menjadi alat pembenaran atas ketimpangan internal.

Lebih berbahaya lagi jika ikhlas menjadi alasan untuk mengabaikan kesejahteraan keluarga kader.

Ikhlas bukan menerima ketidakadilan dengan senyum, melainkan kesiapan berjuang bersama dalam kesadaran yang utuh.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Karena itu, Muhammadiyah dituntut untuk lebih adil, lebih peduli, dan lebih manusiawi terhadap keluarga-keluarga penggeraknya.

Gerakan yang besar tidak boleh tumbuh di atas keluarga yang tertekan dan kelelahan.

Penting bagi Muhammadiyah membangun budaya organisasi yang ramah keluarga.

Ikhlas akan lebih mudah tumbuh ketika keluarga merasa dihargai, dilibatkan, dan diakui perannya.

Perhatian terhadap pendidikan anak kader, ritme kegiatan yang manusiawi, hingga sekadar pengakuan moral atas pengorbanan keluarga —semua itu adalah bentuk konkret penghormatan terhadap ikhlas yang selama ini bekerja dalam diam.

Muhammadiyah yang matang bukan hanya yang rapi secara struktural, tetapi yang peka terhadap denyut batin keluarga penggeraknya.

Kehadiran yang Utuh dan Tantangan Regenerasi

Tantangan ikhlas dalam keluarga semakin kompleks di era digital.

Waktu kebersamaan tergerus bukan hanya oleh rapat dan agenda, tetapi oleh layar yang tak pernah padam.

Ironisnya, sebagian kader sibuk menyuarakan Islam Berkemajuan di ruang publik digital, namun gagal menghadirkan di rumah sendiri.

Ikhlas pada titik ini menuntut disiplin baru: keberanian menutup gawai demi mendengarkan cerita anak, kesediaan menunda urusan organisasi demi menemani pasangan yang lelah, dan kesadaran bahwa dakwah paling awal adalah kehadiran yang penuh.

Ikhlas dalam keluarga juga berkelindan dengan isu regenerasi.

Banyak keluarga pejuang Muhammadiyah yang tangguh di generasi pertama, namun melayu pada generasi berikutnya.

Anak-anak yang tumbuh dengan ingatan akan orang tua yang “hilang” demi umat sering kali menyimpan luka emosional.

Saat dewasa, mereka menjauh bukan karena benci pada Muhammadiyah, melainkan karena trauma masa kecil yang tak pernah disembuhkan.

Ini adalah cermin jujur yang harus dibaca jika Muhammadiyah ingin tetap relevan melintasi zaman.

Keikhlasan sejati tidak sama dengan kepasrahan yang mematikan daya kritis.

Ia justru melahirkan keberanian untuk bersuara demi perbaikan.

Keluarga kader berhak menyampaikan kelelahan dan harapan mereka—bukan untuk melemahkan gerakan, melainkan untuk menyelamatkannya dari ketidakpekaan.

Muhammadiyah yang dewasa adalah Muhammadiyah yang mampu mendengar suara-suara dari rumah kadernya.

Akhirnya, ikhlas menuntut konsistensi moral. Integritas teruji ketika narasi amar ma’ruf nahi munkar di ruang publik berbanding lurus dengan keadilan dan kasih sayang di rumah.

Anak-anak belajar dari teladan, bukan pidato.

Jika nilai Muhammadiyah hanya hidup di forum dan mati di keseharian, maka keterasingan batin terhadap persyarikatan menjadi tak terelakkan.

Keluarga harus menjadi laboratorium nilai, tempat “Islam Berkemajuan” diuji secara konkret. Tanpa konsistensi ini, gerakan hanya akan menjadi bangunan narasi yang kehilangan legitimasi moral.

Di tengah dunia yang bising oleh perebutan pengaruh, ikhlas dalam keluarga menghadirkan wajah Islam yang teduh: tidak agresif namun kokoh, tidak reaktif namun konsisten.

Muhammadiyah akan dikenang bukan hanya karena institusi raksasanya, tetapi karena karakter manusia yang dilahirkannya dari rumah-rumah yang ikhlas.

Pada akhirnya, pertanyaan paling jujur bagi setiap kader Muhammadiyah bukanlah seberapa mentereng jabatan yang diemban, seberapa sering mimbar didaki, atau seberapa luas jejaring yang dirajut, melainkan: apakah rumah kita tetap utuh di tengah keletihan perjuangan itu?

Apakah pasangan kita masih merasakan kehadiran kita, apakah anak-anak masih menemukan teladan yang nyata, dan apakah nilai-nilai Muhammadiyah benar-benar mendarah daging dalam keseharian—bukan sekadar noktah dalam pidato dan dokumen organisasi.

Muhammadiyah tidak akan runtuh oleh hantaman kritik dari luar, namun ia bisa keropos karena abai terhadap suara-suara sunyi dari dalam rumah kadernya sendiri.

Di sanalah pembaruan sejati seharusnya bermula: dari keberanian menata ulang niat, mengembalikan hakikat pengabdian, dan menempatkan keluarga sebagai mitra suci perjuangan—bukan sekadar penonton yang terpaksa harus maklum.

Ikhlas bukanlah tentang seberapa besar sesuatu pengorbanan, melainkan tentang bagaimana pengorbanan itu mampu melahirkan cinta, bukan luka.

Jika Muhammadiyah ingin tetap berdiri tegak melampaui zaman, ia harus berani kembali ke sumber energi paling primordial: keluarga yang ikhlas, sadar, dan merdeka secara batin.

Dari rumah-rumah yang teduh itulah, akan lahir kader yang jernih niatnya, panjang napasnya, dan teguh langkahnya.

Perjuangan ini tidak membutuhkan gemuruh atau sorak-sorai; ia hanya membutuhkan kesetiaan yang sunyi—sebuah keikhlasan yang tidak banyak bicara, namun sanggup menjaga api perjuangan tetap menyala, bahkan ketika dunia memilih untuk berpaling.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu