Dalam menjalankan amal kebaikan, yang terberat itu adalah menjaga agar tetap istikamah.
Memulai suatu kebaikan memang berat, namun menjaga agar kebaikan yang sudah dimulai tetap bisa istikamah, justru sering kali jauh lebih berat.
Sebab memulai biasanya lahir dari semangat yang sedang menyala, sedangkan istikamah menuntut kesetiaan ketika semangat mulai redup.
Ibarat menanam pohon. Menanamnya mungkin hanya butuh satu jam. Tetapi menyiramnya setiap hari, membersihkan rumput di sekitarnya, menjaga dari hama, dan menunggunya berbuah. Itulah proses panjang yang melelahkan. Banyak orang bersemangat menanam, tetapi tidak semua sabar merawat.
Bagi yang belum terbiasa mengerjakan shalat fardhu berjamaah di masjid, tentu untuk memulainya adalah berat. Hari pertama mungkin terasa canggung. Hari kedua masih ada rasa malas. Namun ketika sudah berjalan sepekan, hati mulai merasakan nikmatnya.
Tetapi ujian sesungguhnya datang setelah itu. Ketika hujan turun deras. Ketika badan terasa lelah sepulang kerja. Ketika ada siaran pertandingan bola yang seru. Ketika teman-teman mengajak nongkrong. Di situlah istiqamah diuji.
Ada seorang pegawai yang bertekad salat subuh berjamaah setiap hari. Awalnya ia sangat bersemangat. Alarm dipasang lima sekaligus.
Namun setelah sebulan, rasa jenuh datang. “Sekali saja tidak apa-apa,” bisik hatinya. Sekali menjadi dua kali. Dua kali menjadi kebiasaan. Tanpa sadar, ia kembali pada rutinitas lama.
Di sinilah makna istiqamah terasa berat: bukan pada langkah pertama, tetapi pada langkah ke-100, ke-200, bahkan ke-1000.
Bangun di sepertiga malam untuk mengerjakan shalat tahajud, memulainya tentu saja tidaklah ringan. Dingin, kantuk, dan rasa nyaman di tempat tidur menjadi penghalang pertama.
Namun lebih tidak ringan lagi adalah menjaga agar tetap istiqamah bangun di sepertiga malam. Apalagi ketika pekerjaan menumpuk, tubuh kelelahan, atau sedang tidak ada masalah besar yang mendorong kita untuk banyak berdoa.
Banyak orang rajin tahajud ketika sedang menghadapi ujian hidup—sakit, masalah ekonomi, atau kesulitan keluarga. Namun ketika keadaan mulai membaik, tahajud pun perlahan ditinggalkan. Padahal justru dalam kelapanganlah istiqamah lebih diuji.
Istikamah berarti beribadah bukan hanya saat butuh, tetapi karena cinta dan kesadaran sebagai hamba.
Sama juga ketika kita menjalankan ibadah puasa. Menjaga lisan, mata, telinga, tangan, dan hati agar tidak melakukan maksiat kepada Allah adalah hal yang berat. Namun lebih berat lagi adalah tetap menjaga semua itu meskipun bukan bulan Ramadhan.
Ketika Ramadan, suasana mendukung. Masjid ramai. Kajian di mana-mana. Media sosial penuh nasihat. Lingkungan seolah membantu kita menjadi baik.
Tetapi setelah Ramadan berlalu, suasana berubah. Tidak ada lagi pengingat yang kuat. Godaan kembali seperti biasa. Di sinilah istiqamah diuji: apakah kebaikan itu hanya musiman, atau benar-benar menjadi karakter?
Ada orang yang selama Ramadan mampu menahan diri dari berkata kasar. Namun setelah Ramadhan, amarah mudah kembali meledak. Ada yang rajin membaca Al-Qur’an setiap hari selama sebulan, tetapi setelahnya mushaf kembali berdebu.
Istikamah berarti menjadikan Ramadan sebagai latihan, bukan sekadar perayaan tahunan. Istikamah tidak hanya dalam ibadah mahdhah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang guru yang awalnya penuh idealisme ingin mengajar dengan sepenuh hati. Namun bertahun-tahun menghadapi murid yang beragam karakter, administrasi yang menumpuk, dan penghargaan yang minim, membuat semangatnya perlahan menurun. Istiqamah berarti tetap mengajar dengan niat ibadah, meski tidak selalu mendapat apresiasi.
Seorang pedagang yang bertekad jujur dalam timbangan dan harga. Awalnya ia teguh. Namun ketika melihat pesaingnya curang dan justru lebih laris, hatinya mulai goyah. Istikamah berarti tetap jujur meski godaan keuntungan instan begitu dekat.
Seorang aktivis dakwah yang dulu rajin hadir di setiap kajian. Namun setelah sibuk bekerja dan berkeluarga, ia mulai jarang hadir. Istikamah berarti pandai mengatur waktu agar cahaya ilmu tetap menyala dalam hidupnya.
Untuk memulai suatu kebaikan, setelah ilmu, dibutuhkan kemauan yang kuat untuk menjalankannya. Sedangkan agar tetap dapat istikamah di jalan kebaikan, di samping ilmu dan kemauan, dibutuhkan pula kesabaran dalam menjalaninya.
Kesabaran menghadapi rasa bosan. Kesabaran menghadapi godaan. Kesabaran menghadapi ejekan. Kesabaran menghadapi hasil yang tidak instan.
Karena pastilah setiap orang yang menempuh jalan kebaikan tidak akan mudah. Mereka pasti akan diuji dengan berbagai godaan dan rintangan. Ujian itu bukan tanda kegagalan, tetapi justru bagian dari proses pemurnian niat.
Tidak adanya kesabaran inilah yang kerap menjadikan para penempuh jalan kebenaran tidak dapat istikamah dan akhirnya berhenti, bahkan berputar balik dari arah tujuan.
Karena itulah ketika Rasulullah saw ditanya oleh salah seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku suatu perkataan tentang Islam yang tidak mungkin aku tanyakan kepada siapa pun selain kepadamu,”
Rasulullah menjawab, “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.”
(HR. Muslim)
Jawaban ini singkat, tetapi dalam maknanya. Iman bukan hanya pengakuan di lisan, tetapi komitmen yang dijaga sepanjang hayat. Istiqamah adalah bukti nyata dari iman itu sendiri.
Pada akhirnya, istikamah bukan tentang seberapa besar amal kita, tetapi seberapa konsisten kita menjaganya. Amal kecil yang terus-menerus, lebih dicintai Allah daripada amal besar yang hanya sesekali.
Maka, jangan terlalu khawatir jika langkah kita kecil. Khawatirlah jika langkah itu berhenti.
Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk bukan hanya memulai kebaikan, tetapi juga menjaganya hingga akhir hayat. Aamiin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments