Ini adalah pertama kalinya saya melakukan joging pagi di Bojonegoro, Jumat (23/1/2026). Sejujurnya, ada sedikit keraguan. Saya baru tiba di kota ini pukul 23.00 WIB dan baru sempat merebahkan badan selama beberapa jam. Namun, karena kegiatan ini—boleh dibilang—semiwajib bagi saya, maka pada pukul 05.30 saya pun keluar dari Hotel Aston.
Tujuan saya sederhana: Alun-Alun Bojonegoro.
Saya berjalan kaki dari Hotel Aston di Jalan Arif Rahman Hakim. Jalan ini terasa nyaman—bersih, rapi, dengan trotoar yang terawat dengan baik. Namun, kenyamanan itu mulai terusik saat saya berbelok ke Jalan Imam Bonjol. Awalnya masih tertata, tetapi semakin mendekati alun-alun, trotoar mulai “kehilangan haknya”.
Warung-warung portabel berdiri tepat di atas trotoar, memaksa pejalan kaki turun ke badan jalan. Lebih parah lagi, sebuah toko menutup seluruh trotoar dengan kain terpal tebal. Bukan sekadar mengganggu, tetapi benar-benar meniadakan fungsi trotoar. Akibatnya, saya terpaksa berjalan di jalan raya—sebuah risiko yang seharusnya tidak perlu terjadi apabila trotoar difungsikan sebagaimana mestinya.
Ini bukan sekadar soal ketidaknyamanan pejalan kaki, melainkan juga persoalan penataan kota. Trotoar adalah fasilitas publik, bukan ruang tambahan untuk berdagang. Barangkali hal ini luput dari perhatian Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) atau pengelola tata kota.
Setelah melewati perempatan, saya tiba di Alun-Alun Bojonegoro. Saya menyeberang dua kali hingga akhirnya masuk ke kawasan alun-alun yang ternyata sangat luas. Alun-alun ini terbagi dua: satu sisi berupa hutan kota dan taman, sementara sisi lainnya merupakan lapangan terbuka untuk upacara dan kegiatan publik.
Saya pun mulai bergerak—bukan joging penuh, melainkan jalan kaki cepat.
Di sisi barat alun-alun berdiri Masjid Agung Darussalam. Masjid kebanggaan Bojonegoro ini tampak sederhana dari luar. Tidak terlalu megah seperti masjid agung di kota-kota lain yang pernah saya kunjungi, seperti Malang atau Sumenep. Bangunannya terlihat relatif baru atau telah direnovasi, dengan arsitektur yang fungsional dan bersahaja.
Berbeda dengan pemandangan di sudut barat daya alun-alun. Di sana berdiri megah Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro, bangunan tujuh lantai yang langsung mencuri perhatian. Dari alun-alun, rumah sakit ini tampak gagah dan modern. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi Muhammadiyah yang, semoga, juga diiringi dengan mutu layanan terbaik bagi masyarakat.
Saya terus memutari alun-alun. Di salah satu sudut terpampang tulisan besar “Alun-Alun Bojonegoro” di atas bangunan yang kemungkinan digunakan sebagai tempat tamu kehormatan. Di sisi lain berdiri Gedung Bakorwil. Sementara itu, di kawasan tenggara tampak kompleks kantor pemerintahan Kabupaten Bojonegoro yang menjulang sekitar sembilan hingga sepuluh lantai—megah dan dominan.

Menariknya, alun-alun ini belum memiliki lintasan joging khusus. Aktivitas olahraga dilakukan di jalur jalan yang mengelilinginya. Mungkin pada akhir pekan kawasan ini berubah menjadi area hari bebas kendaraan bermotor (car free day).
Pagi itu, mayoritas yang berolahraga adalah para pensiunan. Meski usia tidak lagi muda, semangat mereka luar biasa. Ada yang telah menghitung hingga lima putaran—sebuah capaian yang membuat saya tersenyum, karena satu putaran saja sudah cukup menguras energi.
Di sela-sela putaran, saya menemukan gerobak-gerobak kopi dan jajanan kukus. Seorang penjual menawarkan jagung, pisang, telo kuning, telo ungu, hingga kacang rebus. Harganya ramah di kantong: Rp1.500 per item atau paket empat seharga Rp5.000. Saya membeli dua paket—bukan untuk sekarang, melainkan untuk makan siang nanti. Pilihan sederhana, sehat, dan mengenyangkan.

Setelah tiga putaran, saya menghentikan langkah. Stopwatch menunjukkan satu jam perjalanan pagi. Bagi siapa pun—terutama yang sedang berjuang mengendalikan kadar gula darah—jalan cepat selama 30 menit hingga satu jam setiap hari merupakan ikhtiar kecil yang sangat berarti.
Pagi itu, saya kembali ke hotel dengan perasaan lega dan senang. Joging di Alun-Alun Bojonegoro memberi lebih dari sekadar keringat: ada cerita tentang kota, ruang publik, dan manusia-manusia yang menjalaninya.
Bagaimana dengan Anda? Di manakah tempat joging pagi yang paling berkesan?






0 Tanggapan
Empty Comments