Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjelang Pulang, Menata Niat: Tausiyah Ammah Kesantrian Putra Al Mizan Lamongan

Iklan Landscape Smamda
Menjelang Pulang, Menata Niat: Tausiyah Ammah Kesantrian Putra Al Mizan Lamongan
Suasana Tausiyah Ammah Kesantrian Putra menjelang perpulangan. (Alfain Jalaluddin Ramadlan/PWMU.CO)
pwmu.co -

Udara pagi Sabtu (20/12/2025) di Masjid Al-Ghoihab masih dingin ketika para santri Putra Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan duduk rapi selepas salat Subuh.

Di tengah suasana hening itu, digelar Tausiyah Ammah, sebuah penguatan ruhani menjelang momen yang paling dinanti santri, yaitu perpulangan.

Kegiatan yang diikuti seluruh santri dan Dewan Ustadz ini bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi ruang refleksi, tempat santri menata kembali niat, memahami makna kesibukan, dan menyiapkan diri menghadapi dunia luar pondok.

Dalam tausiyahnya, Kepala Kesantrian Putra, Husnul Aqib, S.Pd, mengajak santri menyadari bahwa padatnya aktivitas yang mereka lalui bukanlah beban tanpa makna. Ujian diniyah, ujian sekolah, lomba Porseni, O2SM, Me Confest, hingga Kemah Santri Muhammadiyah Jawa Timur; semuanya adalah bagian dari proses kaderisasi dan penguatan kualitas diri.

“Ibarat besi,” tuturnya, “kalau ingin menjadi pedang, harus dipanaskan dan dipalu terlebih dahulu.”

Begitulah santri. Ditempa melalui kesibukan, dilatih secara mental, fisik, dan ilmu, agar kelak mampu menghadapi persoalan hidup dengan tenang, percaya diri, dan tidak mudah grogi.

Husnul Aqib menegaskan, kesibukan di pondok sejatinya adalah kebaikan untuk santri itu sendiri. Hingga akhirnya, tibalah di puncak yang selalu dinanti: hari perpulangan. Sebuah momen yang pasti datang, meski tanpa ditunggu-tunggu.

Namun, ia mengingatkan, yang terpenting bukanlah kapan pulang atau ke mana liburan, melainkan sejauh mana persiapan santri dalam menjaga hafalan Al-Qur’an, adab, dan kebiasaan baik. Liburan bukan waktu untuk melalaikan ibadah, tetapi justru menjadi ajang pembuktian hasil tempaan pondok.

“Liburan jadikan kesempatan untuk mengenalkan apa yang kamu dapat di Al Mizan; ilmu, hafalan, dan pengalaman. Bukan hanya untuk santai dan jalan-jalan,” pesannya.

Meski tanpa ustadz, IPM, dan aturan pondok, lanjutnya, santri diminta tetap istiqamah. Sebab hakikat hidup di pesantren bukan untuk manusia, melainkan untuk meraih rida Allah SWT. Liburan adalah bagian dari pengabdian, bukan jeda dari ketaatan.

Di akhir tausiyah, Husnul Aqib berpesan agar di rumah berbakti kepada orang tua dan pandai memilih teman saat di rumah. Karakter santri harus tetap terlihat dalam pergaulan. “Hidup itu mewarnai, bukan diwarnai,” tegasnya. Santri diharapkan mampu membawa nilai kebaikan ke lingkungan sekitar, karena kejelekan selalu lebih mudah dilakukan dibanding kebaikan.

Tausiyah pagi itu pun berakhir dengan suasana hening penuh makna. Menjelang pukul 15.00 WIB, perizinan perpulangan dibuka. Para santri bersiap pulang, bukan sekadar kembali ke rumah, tetapi membawa amanah nilai, adab, dan cahaya pesantren untuk ditebarkan di tengah masyarakat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu