Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjembatani Perbedaan Hisab dan Rukyat: Harmoni dalam Keberagaman

Iklan Landscape Smamda
Menjembatani Perbedaan Hisab dan Rukyat: Harmoni dalam Keberagaman
pwmu.co -
Gambar ilustrasi (Sumber gambar: pngtree.com)

Oleh: Nashrul Mu’minin – Kader Muhammadiyah Lamongan dan Content Writer Yogyakarta

PWMU.CO – Sebagai kader Muhammadiyah yang aktif sebagai content writer di Yogyakarta, saya ingin mengungkap misteri di balik penetapan Idul Fitri yang kerap menjadi bahan diskusi hangat. Sering muncul pertanyaan, “Mengapa Muhammadiyah sering berbeda dengan pemerintah dalam menentukan Idul Fitri?” Pertanyaan sederhana ini sebenarnya mencerminkan dinamika pemikiran dalam tubuh umat Islam, serta menjadi bukti bagaimana ijtihad dan metodologi hisab serta rukyat terus berkembang dalam tradisi keislaman.

Allah SWT berfirman dalam QS. Yunus ayat 5:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا…

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya…”

Ayat ini menjadi landasan filosofis bagi metode hisab dalam penentuan awal bulan hijriah, karena menunjukkan keteraturan peredaran benda langit yang dapat dihitung secara pasti.

Selain itu, hadits riwayat Bukhari-Muslim:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya…”Hadits ini menjadi dasar bagi metode rukyat, yang mengutamakan pengamatan langsung terhadap hilal sebagai penentu awal bulan hijriah.

Dua Pendekatan Ilmiah dalam Menentukan Awal Bulan Ramadan

Muhammadiyah menggunakan hisab wujudul hilal, yang didasarkan pada perhitungan astronomi dengan kriteria:

• Hilal telah wujud (≥ 0 derajat)

• Ketinggian hilal saat matahari terbenam ≥ 2 derajat

• Umur bulan setelah ijtimak ≥ 8 jam

• Didukung oleh data astronomi modern

Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) RI mempertahankan metode rukyat bil fi’li, yang mengutamakan pengamatan visual dengan kriteria:

• Hilal ≥ 3 derajat

• Elongasi bulan-matahari ≥ 6,4 derajat

• Verifikasi lapangan oleh para perukyat di berbagai titik pengamatan

Perbedaan dalam penggunaan metode ini mencerminkan dinamika keilmuan Islam dan keterbukaan dalam berijtihad. Meskipun terkadang menghasilkan perbedaan hari dalam perayaan Idul Fitri, kedua metode ini sama-sama memiliki landasan syar’i dan ilmiah yang kuat.

Harmonisasi di Era Digital

Perkembangan teknologi seharusnya menjadi jembatan rekonsiliasi dalam perbedaan metode penentuan Idul Fitri. Di era digital ini, sistem Lajnah Hisab Rukyat (LHR) Muhammadiyah telah terintegrasi dengan data satelit, memungkinkan perhitungan hisab yang semakin akurat dan modern. Selain itu, hadirnya aplikasi seperti “Hilal Finder” semakin memudahkan pelacakan posisi bulan secara real-time, memberikan akses kepada siapa saja yang ingin memahami bagaimana hilal diamati dan dihitung.

Tak hanya itu, forum diskusi para astronom Muslim juga semakin intensif, menjadi wadah bagi pertukaran gagasan dan penyatuan persepsi dalam memahami ilmu falak.

Daripada terus memperdebatkan mana metode yang paling benar, generasi milenial sebaiknya mengambil sikap yang lebih bijak. Memahami dasar ilmiah dari kedua metode yakni hisab dan rukyat akan membuka wawasan bahwa perbedaan ini bukanlah perpecahan, melainkan kekayaan intelektual dalam Islam.

Menghormati perbedaan pendapat juga menjadi kunci dalam menjaga ukhuwah Islamiyah, karena pada akhirnya, esensi Idul Fitri bukan terletak pada tanggalnya, tetapi pada makna spiritual di baliknya yaitu hari kemenangan, kebersamaan, dan kembali kepada fitrah sebagai manusia yang lebih baik.

Selain itu, perkembangan teknologi digital sebenarnya telah membuka peluang besar untuk konvergensi kedua metode. Observatorium modern seperti di Bosscha kini mampu memadukan hisab dan rukyat secara simultan, di mana perhitungan matematis divalidasi melalui pengamatan langsung dengan teleskop canggih.

Generasi Z yang melek teknologi bisa menjadi aktor utama dalam mendamaikan perbedaan ini, dengan memanfaatkan platform digital untuk edukasi astronomi Islam yang komprehensif, sekaligus menjaga adab perbedaan pendapat yang diajarkan ulama salaf.

Peran Ulama dan Ilmuwan dalam Penyatuan Perspektif

Para ulama dan ilmuwan Muslim kontemporer sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk mendekatkan kedua metode ini. Melalui forum-forum seperti Konferensi Penyatuan Kalender Hijriyah Internasional, mereka berusaha mencari titik temu dengan mengembangkan kriteria baru yang memadukan keunggulan hisab dan rukyat.

Muhammadiyah sendiri melalui Lajnah Falakiyah-nya aktif berkontribusi dalam diskusi-diskusi semacam ini, menunjukkan sikap terbuka terhadap perkembangan metodologi.

Namun, persoalan mendasar yang sering memicu perdebatan adalah kurangnya pemahaman masyarakat awam mengenai dasar-dasar ilmiah dari kedua metode tersebut. Di sinilah peran strategis lembaga pendidikan dan media massa menjadi krusial dalam memberikan penjelasan yang komprehensif.

Sekolah-sekolah Muhammadiyah, misalnya, dapat memasukkan materi astronomi Islam dalam kurikulum untuk membekali siswa dengan pemahaman tentang hisab dan rukyat. Sementara itu, masjid-masjid dapat menyelenggarakan pengamatan hilal terbuka, yang dikombinasikan dengan kajian ilmiah tentang metode hisab, sehingga masyarakat dapat memahami langsung bagaimana penentuan awal bulan dilakukan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu