Suasana khidmat menyelimuti aula SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) pada Selasa siang (24/2/2026). Di tengah momentum bulan suci Ramadan, para guru dan karyawan mengikuti Kajian Ramadan yang mengupas aspek mendasar dalam beragama, yakni fikih wudu dan salat.
Hadir sebagai narasumber, Ustaz Tajun Nasher, Lc., M.Pd., alumni Pondok Pesantren Maskumambang tahun 2008 yang kini aktif di Bidang Tabligh PDM Gresik. Kajian yang berlangsung pukul 13.00–14.30 WIB itu menekankan pentingnya menjaga kualitas ibadah sebagai fondasi hubungan seorang hamba dengan Sang Khalik.
“Kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah sangat ditentukan oleh sah atau tidaknya wudu dan ketenangan dalam salatnya,” ujar Ustaz Tajun di hadapan peserta kajian.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa wudu memiliki enam rukun yang wajib dipenuhi sebagaimana tuntunan dalam Surat Al-Maidah ayat 6. Keenam rukun tersebut meliputi niat, membasuh wajah, membasuh tangan hingga siku, mengusap kepala, membasuh kaki hingga mata kaki, serta dilakukan secara tertib.
“Enam rukun ini adalah harga mati. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka wudunya tidak sah,” tegasnya.
Selain rukun, Ustaz Tajun juga mengajak peserta menyempurnakan wudu dengan melaksanakan sunah-sunahnya, seperti bersiwak, melakukan mubalaghah saat berkumur dan istinsyaq, serta membasuh tangan dengan benar, dimulai dari ujung jari hingga siku. Ia menekankan pentingnya ketelitian, termasuk menyela-nyela jari dan mengusap seluruh bagian kepala hingga tengkuk agar setiap tetes air benar-benar menyucikan lahir dan batin.
Kajian semakin menarik saat membahas hal-hal yang membatalkan wudu, seperti keluarnya sesuatu dari qubul dan dubur, hubungan suami istri, menyentuh kemaluan, serta tidur nyenyak dalam posisi miring atau terlentang hingga bagian pantat tidak lagi menempel ke lantai.
“Menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan wudu adalah bagian dari menjaga kesucian salat kita,” jelasnya.
Pembahasan kemudian berlanjut pada rukun salat yang berjumlah 14. Pada bagian ini, Ustaz Tajun menekankan urgensi tumakninah sebagai ruh dalam salat. Ia mengingatkan agar jamaah tidak tergesa-gesa dalam setiap gerakan.
Dalam sesi tanya jawab, Muhammad Khoirul Anwar mengajukan pertanyaan mengenai standar minimal seseorang dapat dikatakan telah mencapai tumakninah.
Menanggapi hal tersebut, Ustaz Tajun menjawab, “Ukuran tumakninah yang paling mudah adalah ketika posisi tubuh sudah benar-benar menetap, minimal selama durasi membaca satu kali tasbih.”
Melalui kajian ini, keluarga besar SDMM diharapkan mampu membawa semangat “salat dengan tenang” dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi menjadi sarana komunikasi yang berkualitas dengan Allah Swt. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments