Matahari pagi baru saja memanjat langit Kota Blitar, Jawa Timur, ketika sebuah mobil boks berwarna biru cerah dengan modifikasi rak buku di bagian lambungnya perlahan memasuki gerbang SMP Muhammadiyah 1 Blitar, Selasa (27/1/2026). Di badan mobil itu tersemat tulisan yang tak asing bagi warga Bumi Bung Karno: Perpustakaan Keliling Kota Blitar.
Kedatangan unit layanan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Blitar ini segera mengubah suasana jam istirahat yang biasanya riuh menjadi antrean rapi siswa yang haus bacaan. Program ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah kota untuk mendekatkan akses literasi ke jantung institusi pendidikan, terutama sekolah yang tengah merevitalisasi budaya baca.
Aisyah, siswi kelas VIII SMP Muhammadiyah 1 Blitar, tampak antusias membolak-balik halaman sebuah novel sastra yang selama ini sulit ia temukan di toko buku lokal. Baginya, kehadiran perpustakaan keliling menghadirkan sensasi berbeda dibanding membaca lewat gawai.
“Membaca buku fisik punya kepuasan tersendiri. Aroma kertas dan tekstur halamannya tidak bisa digantikan e-book di ponsel. Pilihan bukunya juga sangat terbaru. Saya tadi menemukan buku pengembangan diri yang sedang viral,” ujar Aisyah dengan mata berbinar.
Ia mengakui, meski generasinya akrab dengan teknologi digital, distraksi dari notifikasi media sosial kerap mengganggu fokus membaca. “Kalau pegang buku seperti ini, saya bisa benar-benar tenggelam dalam cerita. Semoga mobil ini bisa datang lebih sering, mungkin seminggu sekali, supaya kami punya jadwal rutin meminjam dan mengembalikan buku,” tambahnya.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari itu mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah. Di tengah tantangan rendahnya indeks literasi nasional, kehadiran layanan jemput bola seperti ini dianggap sebagai oase yang menyegarkan.
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Blitar, Siti Muhibbah S.Ag, yang memantau langsung kegiatan tersebut, menyatakan bahwa kolaborasi antara sekolah dan pemerintah kota melalui perpustakaan keliling merupakan langkah taktis untuk memicu kembali minat baca siswa.
“Koleksi perpustakaan sekolah kami masih terbatas karena kendala anggaran pengadaan. Dengan hadirnya Perpustakaan Keliling Kota Blitar, variasi bacaan yang diperoleh siswa menjadi jauh lebih luas. Ini sangat mendukung program literasi sekolah yang kami laksanakan setiap pagi sebelum pelajaran dimulai,” tuturnya.
Siti Muhibbah menegaskan, literasi bukan sekadar kemampuan mengeja kata, melainkan kecakapan mengolah informasi dan berpikir kritis. Menurutnya, lingkungan sekolah harus menjadi ekosistem yang mendukung pertumbuhan intelektual tersebut.
“Tantangan terbesar guru saat ini adalah bersaing dengan algoritma media sosial yang sangat adiktif bagi anak-anak. Kami tidak bisa melarang mereka menggunakan teknologi, tetapi kami bisa menawarkan alternatif yang menarik. Melihat anak-anak berebut buku di depan mobil tadi, saya optimistis minat baca itu sebenarnya ada. Mereka hanya membutuhkan fasilitas yang lebih dekat dan menarik,” jelasnya.
Fenomena “jemput bola” literasi ini menjadi krusial mengingat berbagai data menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia cukup baik, tetapi akses terhadap bahan bacaan berkualitas masih menjadi kendala. Di Kota Blitar, perpustakaan keliling menjadi garda terdepan dalam memitigasi persoalan tersebut.
Seorang pustakawan yang mendampingi unit mobil menjelaskan bahwa setiap kunjungan membawa sekitar 500 hingga 1.000 eksemplar buku yang diputar secara berkala. Pemilihan koleksi disesuaikan dengan profil pembaca di lokasi kunjungan. Untuk tingkat SMP, porsi buku fiksi, biografi tokoh inspiratif, dan sains populer diperbanyak.
Meski antusiasme siswa tampak tinggi, pekerjaan rumah belum usai. Keberlanjutan budaya membaca tetap memerlukan pendampingan. Literasi bukan kegiatan instan, melainkan kebiasaan yang harus dipupuk secara konsisten.
Kunjungan 27 Januari 2026 di SMP Muhammadiyah 1 Blitar hanyalah satu dari sekian banyak titik singgah dalam peta literasi Kota Blitar. Namun, bagi setiap siswa yang menemukan buku impiannya hari itu, kunjungan tersebut bisa menjadi awal perjalanan intelektual yang kelak mengubah masa depan mereka. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments