Mental healing dibahas secara gamblang pada pengajian Ahad Pagi Kyai Haji Ahmad Dahlan, yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh PD Muhammadiyah Kota Batu, Ahad (3/8/2025). Kali ini menghadirkan Dr dr Thontowi Djauhari MKes (Wakil Direktur 1 RS UMM), sebagai pemateri.
Di awal kajiannya, dr Thontowi menjelaskan bahwa mental adalah keadaan jiwa, karakter, dan hal-hal yang berkaitan dengan batin seseorang. Watak memang tidak bisa diubah, tetapi bisa dibentuk. Di sinilah letak pentingnya pembentukan mentalitas, yakni cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak dalam menghadapi kehidupan.
Selanjutnya, dijelaskan bahwa pikiran dapat dipengaruhi oleh perasaan, dan perasaan pun dipengaruhi oleh emosi. Dalam istilah, “e-” terdapat makna energi. Artinya, baik pikiran maupun perasaan mengandung energi. Bahkan satu perasaan bisa melahirkan ribuan pikiran. Maka, bila kita gagal mengendalikan perasaan, pikiran kita pun akan sulit diarahkan.
“Pusat kendali pikiran kita berada di otak, khususnya bagian prefrontal cortex yang terletak di bagian depan kepala. Bagian ini sangat penting karena berfungsi sebagai pengatur keputusan, kreativitas, watak, dan mental seseorang. Oleh sebab itu, otak kita harus diisi dengan hal-hal yang baik, misalnya dengan belajar, membaca al Quran, dan berbuat kebajikan, agar jaringan saraf yang terbentuk adalah saraf-saraf positif yang memperkuat karakter kita” kata dr Thontowi.
“Namun, bagian otak depan ini juga mengatur sisi negatif manusia, termasuk saat berbohong. Menariknya, ketika seseorang berdusta, energi yang dikeluarkan lebih besar dibanding saat ia berkata jujur,” lanjutnya.
Sebab, otak harus bekerja lebih keras untuk menciptakan kebohongan. Itulah mengapa kita diwajibkan untuk sujud dalam salat: agar aliran darah ke otak depan menjadi lebih lancar. Sujud memberi asupan oksigen dan energi ke pusat kendali otak, sehingga pikiran tetap terjaga dan digunakan untuk kebaikan.
Lebih lanjut, dr Thontowi menjelaskan bahwa tubuh manusia juga memiliki medan magnet. Semakin tinggi energi positif dalam diri kita, semakin kuat medan magnet yang kita pancarkan. Hal ini membuat kita lebih mudah menarik orang-orang dan hal-hal baik dalam kehidupan. Sebaliknya, energi negatif yang dominan akan membuat medan magnet melemah dan membuat kita dijauhi.
Vibrasi Spiritual: Kekuatan Iman dalam Mental Healing
Pikiran dan emosi manusia memiliki berbagai tingkatan energi atau getaran. Ada getaran power (energi kuat/positif) dan getaran force (energi lemah/negatif). Getaran dianggap negatif apabila frekuensinya berada di bawah 200 Hz. Contoh bentuk-bentuk energi negatif yaitu rasa malu, takut, sombong, dan marah.
Mengutip dari penelitian David R. Hawkins, getaran energi di bawah 200 Hz dapat menyebabkan seseorang lebih mudah terserang penyakit. Sebaliknya, seseorang dengan frekuensi positif di atas 700 Hz memiliki kekebalan tubuh dan vitalitas yang sangat tinggi.
Getaran energi positif, misalnya semangat, berada pada posisi 200 Hz. Semakin bagus energi positif yang dimiliki, maka vibrasi energi dalam tubuh kita juga akan semakin tinggi, bahkan bisa menembus angka 700 Hz atau lebih.
“Vibrasi tubuh meningkat ketika kita berpikir positif, semangat, dan berprasangka baik. Vibrasi yang tinggi memudahkan kita menarik kebaikan. Sebaliknya, pikiran negatif akan menurunkan vibrasi dan mengundang hal-hal negatif,” jelas dr Thontowi.
Adapun cara meningkatkan vibrasi tubuh agar energi positif kita mencapai angka di atas 200 yaitu dengan
- Berwudu: menjaga kebersihan tubuh akan menaikkan vibrasi energi.
- Shalat: gerakan salat membantu melepaskan energi negatif. Semakin rutin kita salat, terutama secara berjamaah, maka semakin besar energi kolektif yang dipancarkan, sehingga doa pun lebih mudah dikabulkan.
- Haji/umrah: di Mekah, jutaan orang tawaf menciptakan energi spiritual yang sangat tinggi. Kedekatan fisik dengan Ka’bah meningkatkan kekuatan doa untuk menembus ruang dan waktu.
- Puasa: melatih diri menahan hawa nafsu akan memperkuat energi internal.
- Sedekah: satu sedekah bisa diganjar 700 kali lipat. Energi yang keluar dari memberi akan kembali dalam bentuk keberkahan.
Dengan demikian, mental healing bukan sekadar wacana psikologis, melainkan juga bagian dari ikhtiar spiritual yang terhubung erat dengan cara kita menjaga pikiran, perasaan, dan tindakan. Melalui pemaparan dr Thontowi Djauhari, kita diajak memahami bahwa energi positif dalam diri tidak hanya menyehatkan mental dan fisik, tetapi juga menguatkan hubungan kita dengan Allah SWT. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments