Latihan Dasar Kepemimpinan Penghela (LDKP) Hizbul Wathan Al Mizan terus menjadi ruang strategis dalam menyiapkan kader-kader muda Hizbul Wathan yang berkarakter, berdaya saing, dan berjiwa kepemimpinan.
Memasuki hari kedua pelaksanaan, Sabtu (24/01/2026) pukul 13.30 WIB, kegiatan LKP berlangsung di Aula KH Abdul Fattah dengan menghadirkan materi pembelajaran kepanduan yang aplikatif dan inspiratif.
Pada sesi tersebut, menghadirkan pemateri keempat, Bendahara Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur, Lia Fitrianingrum.
Ia menyampaikan materi bertema Metode Pembelajaran dalam Kepanduan, yang menitikberatkan pada proses pendidikan yang humanis, efektif, serta berorientasi pada pembentukan karakter pandu.
Mengawali kegiatan, Ayunda Lia Fitrianingrum mengajak seluruh peserta mengikuti senam kefokusan.
Kegiatan pembuka ini bertujuan membangun konsentrasi, mencairkan suasana, sekaligus menumbuhkan semangat peserta sebelum memasuki materi inti.
Para peserta tampak antusias mengikuti setiap gerakan, mencerminkan kesiapan dan semangat belajar yang tinggi.
Dalam pemaparan materi, ia menjelaskan salah satu pendekatan evaluasi yang dikenal dengan metode sandwich. Metode ini menekankan penyampaian evaluasi secara konstruktif melalui tiga tahapan utama, yakni memberikan pujian sebagai bentuk apresiasi, menyampaikan koreksi sebagai bahan pembelajaran, serta menutup dengan motivasi agar peserta terdorong untuk terus berkembang.
Menurutnya, pendekatan ini sangat relevan diterapkan dalam pembinaan kepanduan karena mampu menjaga semangat sekaligus meningkatkan kualitas peserta didik.
Lebih lanjut, Ayunda Lia yang juga Alumni Al Mizan, juga mengulas berbagai metode pembelajaran bagi pandu pengenal. Salah satu metode yang ditekankan adalah metode demonstrasi, yaitu pembelajaran melalui praktik langsung dengan pendekatan sederhana dan komunikatif.
Metode ini dinilai efektif karena membantu peserta memahami materi secara konkret sekaligus menumbuhkan kedekatan antara pembina dan pandu.
Pada sesi diskusi, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan terkait tantangan mengajak teman sebaya untuk aktif berorganisasi di era saat ini.
Menanggapi hal tersebut, Ayunda Lia menyampaikan bahwa pendekatan yang digunakan sangat bergantung pada lingkungan pergaulan.
Ia menegaskan bahwa teman sebaya memiliki peran strategis sebagai ujung tombak dalam mengajak dan memotivasi lingkungan sekitarnya.
Di tengah tantangan zaman, generasi muda diharapkan mampu menjadi pelopor, teladan, sekaligus tameng nilai-nilai positif, khususnya dalam menjaga semangat kebersamaan, kepedulian, dan pengabdian.
Melalui materi ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teknis tentang metode pembelajaran kepanduan, tetapi juga diajak merefleksikan peran mereka sebagai calon pemimpin yang mampu mendidik, menginspirasi, dan memberi teladan di tengah masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments