Menuntut ilmu harus dengan niat tulus, bukan untuk bersaing, mencari pujian, atau menonjolkan diri. Hadis ini mengingatkan bahwa ilmu yang disalahgunakan bisa menjerumuskan pemiliknya.
مَنْطَلَبَالْعِلْمَلِيُجَارِيَبِهِالْعُلَمَاءَ، أَوْلِيُمَارِيَبِهِالسُّفَهَاءَ، أَوْيَصْرِفَبِهِوُجُوهَالنَّاسِإِلَيْهِ، أَدْخَلَهُاللهُالنَّارَ
Terjemahan
“Barangsiapamenuntutilmuuntukmenyaingi para ulama, atauuntukmendebat orang-orang bodoh, atauuntukmemalingkanpandanganmanusiakepadanya (ingintenar), maka Allah akanmemasukkannyakedalamneraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654)
Analisis & Tafsir Per Potongan Kalimat
1. “Barang siapa menuntut ilmu untuk menyaingi…” (لِيُجَارِيَبِهِ)
Kalimat ini menyentil fenomena “Pendidikan sebagai Kompetisi”. Sering kali, kita atau anak-anak kita didorong belajar hanya agar “lebih hebat” dari orang lain, lebih tinggi gelarnya, atau lebih banyak sertifikatnya. Pendidikan yang niat dasarnya adalah persaingan hanya akan melahirkan kesombongan intelektual, bukan kearifan.
2. “…atau untuk mendebat orang-orang bodoh…” (أَوْلِيُمَارِيَبِهِالسُّفَهَاءَ)
Pendidikan sejati seharusnya membuat seseorang semakin bijak dan mampu merangkul. Namun, hadis ini memperingatkan orang yang belajar hanya agar punya “senjata” untuk merendahkan orang lain, merasa paling benar, atau sekadar memenangkan perdebatan di media sosial. Ilmu di tangan orang seperti ini hanya menjadi alat pemecah belah, bukan solusi.
3. “…atau untuk memalingkan pandangan manusia kepadanya…” (أَوْيَصْرِفَبِهِوُجُوهَالنَّاسِإِلَيْهِ)
Ini adalah teguran keras bagi budaya “Personal Branding” yang berlebihan dalam dunia pendidikan. Banyak orang mencari ilmu atau gelar hanya demi status sosial, agar dihormati, atau demi likes dan pengakuan. Ketika pendidikan hanya demi citra (pencitraan), maka esensi dari ilmu itu sendiri akan hilang.
4. “…maka Allah akan memasukkannya kedalam neraka.” (أَدْخَلَهُاللهُالنَّارَ)
Ancaman ini sangat serius. Mengapa? Karena ilmu adalah amanah. Menggunakan sesuatu yang suci (ilmu) untuk tujuan yang rendah (kesombongan dan duniawi) adalah bentuk pengkhianatan terhadap ilmu itu sendiri.
Ilmu Sebagai “Cahaya”, Bukan “Lampu Sorot”
Pendidikan hari ini sering kali salah arah. Kita belajar untuk menjadi “Lampu Sorot” agar semua orang melihat ke arah kita. Padahal, ilmu seharusnya menjadi “Cahaya” yang membantu kita (dan orang lain) melihat jalan di kegelapan.
Ilmu yang bermanfaat adalah yang membuat pemiliknya semakin merasa kecil di hadapan kebesaran Tuhan, bukan semakin merasa raksasa di hadapan manusia.
Krisis Adab dalam Pendidikan
Dunia pendidikan kita saat ini sangat mahir memproduksi orang pintar, tetapi sering kali gagal melahirkan orang yang beradab.
Hadis ini mengingatkan bahwa pendidikan tanpa pelurusan niat hanya akan melahirkan “penjahat berijazah”—orang yang menggunakan kecerdasannya untuk menipu, merendahkan, dan memanipulasi orang lain demi kepentingan ego.
Tujuan Akhir: Menjadi Manfaat
Pendidikan yang keren bukanlah yang membuat kita duduk di puncak menara gading sambil melihat ke bawah. Pendidikan yang keren adalah yang membuat tangan kita terampil untuk membantu, hati kita luas untuk memaafkan, dan pikiran kita tajam untuk memberi solusi tanpa harus merasa paling berjasa.
Kesimpulan & Penutup
Dunia tidak kekurangan orang pintar; dunia kekurangan orang yang pintarnya mendamaikan. Jika pendidikan hanya melahirkan persaingan dan rasa haus akan pujian, maka itu bukanlah pendidikan, melainkan latihan ego.
Mari kita kembalikan pendidikan ke jalur semestinya. Belajarlah untuk memperbaiki diri, bukan untuk menjatuhkan lawan. Belajarlah untuk mengabdi, bukan untuk dipuji.
Karena pada akhirnya, setinggi apa pun gelar di depan nama kita, yang akan ditanya bukanlah seberapa banyak orang yang mengenal kehebatan kita, melainkan seberapa banyak kebaikan yang lahir dari ilmu yang kita miliki.






0 Tanggapan
Empty Comments