Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menyalakan Lentera Literasi: Dari Membaca Menjadi Manusia Berpengetahuan

Iklan Landscape Smamda
Menyalakan Lentera Literasi: Dari Membaca Menjadi Manusia Berpengetahuan
Maftuhah. (Dok. Pribadi/PWMU.CO)
Oleh : Maftuhah, M.Pd. Dosen STIT Muhammadiyah Paciran Lamongan Bidang Keahlian Bahasa & Sastra Indonesia
pwmu.co -

Di zaman ketika informasi berhamburan seperti hujan meteor: cepat, padat, dan sering tak tertebak, literasi menjadi payung yang menjaga kejernihan pikiran sekaligus keteduhan hati. Tanpa literasi, manusia mudah terombang-ambing; tetapi dengan literasi, kita memiliki kompas yang menjaga arah dan makna.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks. Ia adalah kecakapan menafsir kehidupan, menemukan pesan di balik peristiwa, dan mengubah pengalaman menjadi pengetahuan. Seperti benih yang tak akan tumbuh tanpa tanah dan air, pengetahuan pun tak akan hidup tanpa tradisi membaca, menulis, dan berdialog.

Sejak awal sejarah turunnya wahyu, Allah telah menanamkan kesadaran luhur ini dalam jiwa manusia. Ketika Jibril turun membawa pesan langit, yang pertama kali disampaikan bukan perintah berperang, bukan bersedekah, bukan pula beribadah ritual melainkan perintah membaca.

Allah berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5:

Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq….

Alladzi ‘allama bil-qalam.

‘Allama al-insāna mā lam ya‘lam.”

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan… Yang mengajar manusia dengan pena, Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Ayat ini bukan hanya seruan untuk membaca, tetapi deklarasi bahwa peradaban dimulai dari literasi. Bahwa pena menjadi jembatan antara manusia dan ilmu, dan ilmu adalah jalan menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Tuhan.

Karena itu, ketika kita membudayakan literasi, sesungguhnya kita sedang menyambung kembali nyala pertama wahyu, nyala yang menuntun manusia dari gelap menuju terang.

Di sekolah-sekolah, di perpustakaan kecil yang sunyi, di beranda rumah tempat anak belajar mengeja, hingga di ruang diskusi mahasiswa, literasi dapat tumbuh seperti pohon yang perlahan mengakar. Kita hanya perlu merawatnya dengan kebiasaan kecil: membaca satu halaman, menulis satu paragraf, merenungkan satu gagasan, atau berdialog dengan satu pertanyaan bermakna.

Dari kebiasaan sederhana inilah tumbuh kemampuan besar: kemampuan untuk menjadi mampu, dan menjadi berpengetahuan.

Budaya literasi tidak lahir dari seremonial sesaat. Ia lahir dari komitmen yang diulang setiap hari dari keberanian untuk terus belajar, dari kerendahan hati untuk bertanya, dari ketekunan untuk menulis, dan dari kejujuran mencari kebenaran. Inilah jalan para ulama, para cendekiawan, para pembaharu: jalan ilmu yang tak pernah padam

Bangsa yang melek literasi adalah bangsa yang tidak mudah tertipu hoaks, tidak gampang digoyang isu, dan tidak cepat larut dalam narasi menyesatkan. Literasi membentuk kebijaksanaan, bukan sekadar kecerdasan.

Maka mari kita nyalakan kembali lentera literasi di rumah, di sekolah, di kampus, di ruang-ruang publik, dan di hati kita sendiri. Selama literasi bernafas dalam kehidupan kita, cahaya pengetahuan akan terus menyinari langkah bangsa.

Dengan literasi, kita bukan hanya memahami dunia, tetapi juga memahami diri.

Dengan literasi, kita tidak hanya menjadi cakap, tetapi juga bijak.

Dan dengan literasi, kita menapaki jalan kemuliaan yang Allah tinggikan: jalan ilmu. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu