Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menyambut Kalam Ilahi: Adab Membaca Al-Quran yang Menghidupkan Hati

Iklan Landscape Smamda
Menyambut Kalam Ilahi: Adab Membaca Al-Quran yang Menghidupkan Hati
pwmu.co -

Empat Sifat Al-Quran

Dari empat ayat yang terdapat dalam surat al-Waqiah tersebut, maka akan ditemukan beberapa sifat keagungan dari al-Quran, di antaranya:

Pertama, adanya lafadz ­ كَرِيم yang menurut Quraish Shihab digunakan untuk menggambarkan terpenuhinya segala yang terpuji sesuai dengan objek yang disifatinya.

Al-Quran sebagai kitab yang mulia (istimewa) karena di dalamnya terdapat tuntunan yang jelas dan komperhensif hingga bukti-bukti kebenarannya ada sepanjang masa. Dan sifat ini menjadi pembeda dari kitab-kitab yang lain.

Kedua, sifat مَكْنُونٍ (terpelihara) yang juga menjadi sifat keagungan al-Quran. Ibn Kathir dalam Tafsir Al-Quranul ‘Adzim menyebutkan bahwa maknun ialah terpelihara dangan penuh keagungan dan kebesaran dan sangat dihormati.

Adapun dalam tafsir al-Azhar, Hamka menerangkan maknun dengan merujuk pada surat al-Buruj ayat 22 yang maknanya “Ada di Lauh mahfudz”. Ia melanjutkan bahwa tidak sembarang orang yang bisa mencapai tempat luhur tersebut melainkan mereka yang telah suci dalam artian kesucian hati.

Ketiga, terpelihara kesuciannya. Ini menegaskan bahwa tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali mereka yang dalam kondisi suci. Dalam hal ini para mufassir memiliki beragam pendapat tentang siapa yang dimaksud dalam ayat ini.

Ada yang mengatakan para malaikat saja, namun sebagian lain mengatakan bahwa orang-orang suci yang dimaksud ialah bukan hanya malaikat saja, tetapi juga manusia.

Keempat, diturunkan dari sisi Tuhan. Ini merupakan bentuk sanggahan dari tuduhan bahwa ayat-ayat ini turun dari jin atau setan yang sedang mengganggu Nabi Muhammad Saw.

Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir mensifati al-Quran dengan diturunkan secara gradual atau berangsur-angsur. Ini pula yang menjadikan keistimewaan dibanding kitab-kitab samawi lain yang diturunkan ke umat manusia secara utuh.

Begitu juga Rasulullah Saw bersabda,

عَنْ أَبِى بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ كِتَابًا فَكَانَ فِيهِ لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

Dari Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menulis surat untuk penduduk Yaman yang isinya, “Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an melainkan orang yang suci”. (HR. Daruquthni no. 449. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 122).

Ketiga, Membaca dengan Tartil dan Tajwid

Allah berfirman dalam al-Quran surat al-Muzzammil ayat 4:

اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ

“…dan bacalah al-Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan dan penuh penghayatan)”.

Tartil adalah membaca dengan memperhatikan hukum-hukum tajwid, tempo yang tenang, dan artikulasi yang jelas. Ulama menyebutkan bahwa tartil membantu hati lebih mudah merenungi ayat dan maknanya.

Dalam Li Yaddabbaru Ayatih/Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof Dr Umar bin Abdullah al-Muqbil, profesor Fakultas Syari’ah Universitas Qashim-Saudi Arabia menjelaskan ayat ini bahwa, Al-Hasan Al-Bashri berkata: Seorang sahabat Nabi melewati seorang laki-laki yang sedang membacakan sebuah ayat sambil menangis dan mengulanginya, maka beliau berkata: “Tidakkah kamu mendengarkan firman Allah ta’ala: { وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا } “Dan bacalah al -uran itu dengan perlahan-lahan, maka orang itu berkata: inilah tartil”.

Iklan Landscape UM SURABAYA

{ وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا } “Dan bacalah al-Quran itu dengan perlahan-lahan”, yakni: perlahan dan bedakan huruf-hurufnya agar jelas. Tujuannya agar pikiran mendapat ruang untuk mempertimbangkan dan memahami maknanya, sehingga melunakkan hati dan mengisinya dengan cahaya dan kasih sayang.

Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa orang yang membaca al-Quran harus membaca dengan tartil atau perlahan, sehingga dalam membacanya menghadirkan hati, dan mengingat maknanya, tidak seperti seseorang yang menemukan harta karun berupa permata karena kelalaian dan ketidaksadarannya.

Hikmah dalam membaca dengan tartil, yaitu memungkinkan tadabbur pada fakta dan rincian ayat-ayat, sehingga ketika sampai pada ayat yang mengingatkan kepada Allah SWT, ia merasakan keagungan dan kebesaran-Nya.

Ketika sampai pada ayat yang menyebutkan tentang janji dan ancaman, muncul harapan dan ketakutan kepada-Nya, dan hati disinari oleh cahaya Allah SWT, dan sebaliknya, mempercepat membaca menunjukkan kurangnya kesadaran akan maknanya.

Sesungguhnya Allah SWT memerintahakan dalam membaca al-Quran dengan tartil, karena dengan membaca al-Quran dengan tartil bisa mendatangkan perenungan, pemikiran bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, dan bersiap siaga secara sempurna untuk itu.

Keempat, Memulai Membaca Al-Quran dengan Membaca Ta’awudz.

Bacaan ta’awudz menurut jumhur (mayoritas ulama) adalah “a’udzu billahi minasy syaithonir rajiim”.

Perintah untuk membaca ta’awudz di sini disebutkan dalam ayat,

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS an-Nahl: 98)

(Apabila kamu membaca al-Quran) artinya bila kamu hendak membaca al-Quran (hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk) artinya ucapkanlah a`uudzu billaahi minasy syaithaanirrajiim.

Kelima, Tadabbur: Merenungi Makna

Allah SWT memerintahkan dalam firman-Nya surat Muhammad ayat 24:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi al-Quran? Atau apakah hati mereka terkunci?”.

(Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran) yang dapat membimbing mereka untuk mengetahui perkara yang hak (ataukah) sebenarnya (pada hati) mereka (terdapat kuncinya) karena itu mereka tidak dapat memahami kebenaran.

Maka Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa tadabbur adalah jalan untuk memahami petunjuk Allah. Membaca tanpa memahami akan melewatkan tujuan utama diturunkannya wahyu.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu