Gerbang bulan suci Ramadan telah datang.
Kehadirannya senantiasa membawa aroma kedamaian, sebuah fragmen waktu yang dijanjikan sebagai fase penuh limpahan rahmat, ampunan, dan pembebasan.
Namun, di tengah hiruk-pikuk rutinitas duniawi yang kian akseleratif, sering kali kita terjebak pada ritualitas lahiriah semata.
Kita menjalankan puasa sebagai kewajiban biologis, namun luput menyelami fondasi teologis yang mendasarinya, yakni pemaknaan mendalam atas sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim Allah SWT.
Sifat Rahman dan Rahim bukanlah sekadar atribut pelengkap dalam asma-Nya.
Keduanya adalah esensi yang menyatu secara harmonis dengan seluruh kesempurnaan ilahiah.
Allah adalah Sang Maha Pengasih yang kasih-Nya meliputi segala sesuatu, sekaligus Maha Bijaksana yang kehendak-Nya tak pernah luput dari perhitungan ilmu yang maha luas.
Dalam perspektif tauhid, spektrum kehidupan manusia—baik itu manisnya kesehatan, getirnya penyakit, lapangnya rezeki, hingga sempitnya ujian—hanyalah manifestasi dari tarikan napas kasih sayang-Nya yang sering kali tak terjamah oleh nalar manusia yang terbatas.
Dinamika kehidupan yang dialami manusia pada hakikatnya merupakan panggung manifestasi kehendak Allah.
Di sana, rahmat dan peringatan berkelindan secara halus. Kita sering kali terkecoh oleh bungkus luar sebuah kejadian.
Ada kenikmatan yang melimpah namun justru menjadi istidraj—sebuah kesenangan yang perlahan menjerumuskan manusia ke dalam jurang kelalaian dan kesengsaraan abadi.
Sebaliknya, tidak jarang kita menemui penderitaan yang menyayat hati, namun ternyata ia adalah jalan setapak yang sengaja dibentangkan Allah untuk menuntun hamba-Nya menuju kemuliaan dan kebahagiaan sejati.
Di titik inilah, mata hati kita ditantang untuk mampu melihat “kasih sayang yang menyamar” di balik setiap guratan takdir.
Al-Qur’an telah memberikan peringatan presisi melalui Surah Al-Fajr ayat 15-16.
Allah menggambarkan bagaimana manusia sering kali salah dalam menafsirkan kemuliaan dan kehinaan.
Ketika diberi kesenangan, manusia merasa dimuliakan; namun ketika disempitkan rezekinya, mereka merasa dihinakan.
Padahal, keduanya adalah ujian yang setara bobotnya.
Oleh karena itu, sikap yang dituntut dari seorang mukmin sejati bukanlah keluhan, melainkan rasa syukur saat lapang dan introspeksi diri (muhasabah) saat sempit.
Kesulitan bukanlah tanda kebencian Sang Khaliq, melainkan undangan eksklusif bagi hamba-Nya untuk kembali bersimpuh di hadirat-Nya.
Dalam kerangka inilah, konsep tawakal harus diletakkan pada proporsi yang benar.
Tawakal bukanlah kepasrahan fatalistik yang menafikan usaha, melainkan sebuah ikhtiar batiniah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh setelah segala daya upaya dikerahkan.
Ia adalah penyerahan diri yang aktif. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim memberikan tamsil yang sangat menyentuh: bahwa kesabaran atas ujian kehilangan penglihatan di dunia akan diganjar dengan kemewahan surga.
Hal ini mengajarkan kita bahwa Allah tidak pernah mengambil sesuatu dari hamba-Nya, melainkan untuk menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih besar dan abadi.
Ramadhan tahun ini seharusnya menjadi momentum emas bagi kita untuk membedah kembali makna Rahman dan Rahim.
Bulan ini bukan sekadar tentang menahan lapar, melainkan tentang mengasah kepekaan iman, memperkokoh ketakwaan, dan memperluas cakrawala kesabaran.
Setiap detak waktu di bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk menyerap energi ketuhanan tersebut ke dalam perilaku kita sehari-hari.
Kita harus senantiasa menyadari bahwa setiap embusan napas kita adalah bentuk nyata dari rahmat Allah.
Meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak zikir yang menghujam ke jantung, serta mendalami setiap ayat Al-Qur’an adalah cara kita membalas cinta-Nya.
Dengan memahami kedalaman makna Rahman dan Rahim, orientasi hidup kita akan bergeser; dari yang semula berfokus pada hasil, menjadi berfokus pada rida.
Pada akhirnya, mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai jembatan untuk bertransformasi.
Bukan hanya menjadi hamba yang saleh secara ritual, tetapi juga hamba yang mampu memantulkan sifat kasih sayang Allah kepada sesama makhluk.
Keyakinan akan kasih sayang Allah yang tak bertepi akan memberikan kita kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan kepala tegak dan hati yang tenang, apa pun warna takdir yang sedang kita jalani.
Semoga dengan memahami hakikat Rahman dan Rahim, kita keluar dari madrasah Ramadhan sebagai pribadi yang lebih tangguh, lebih bersyukur, dan lebih dekat dengan Sang Pemilik Kehidupan.***






0 Tanggapan
Empty Comments