Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menyambut Ramadan: Saatnya Menaikkan Value Diri

Iklan Landscape Smamda
Menyambut Ramadan: Saatnya Menaikkan Value Diri
Taufik Hardiyanto. Foto: Chat-GPT/PWMU.CO
Oleh : Taufik Hardiyanto Ulama’ Muhammadiyah
pwmu.co -

Ada pelajaran sederhana yang sering luput kita renungkan. Pecahan uang rupiah terbesar adalah seratus ribu. Karena nilainya tinggi, ia paling sering dipilih ketika seseorang membutuhkan nilai besar dalam satu lembar.

Hukum hidup ternyata mirip.

Orang yang memiliki value tinggi akan lebih mudah dipercaya, diandalkan, dan dipilih dalam banyak kesempatan. Bukan karena ia paling sempurna, tetapi karena ia paling bernilai: akhlaknya baik, ilmunya terus tumbuh, dan manfaatnya terasa.

Lalu menjelang Ramadhan, ada satu pertanyaan jujur yang seharusnya kita ajukan pada diri sendiri:

Sudahkah value diri kita naik di hadapan Allah dan manusia?

Ramadan: Madrasah Kenaikan Kualitas Diri

Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah peningkatan kualitas jiwa.

Di bulan inilah:

yang biasa belajar disiplin,

yang lalai kembali fokus,

yang biasa saja berusaha naik kelas menjadi lebih bernilai.

Jika uang dipilih karena nilainya, manusia “dipilih” karena keteladanan dan manfaatnya.

Ramadan hadir sebagai kesempatan emas untuk menaikkan nilai diri.

Empat Langkah Naik Level

Ramadhan bisa menjadi titik balik jika kita benar-benar menjadikannya momentum perubahan.

Perbaiki shalat — dari sinilah kekuatan jiwa lahir.

Jaga lisan — di sinilah kehormatan terpelihara.

Luaskan manfaat — karena manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat.

Luruskan niat — karena Allah menilai hati sebelum melihat aksi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tidak perlu menunggu sempurna untuk mulai. Tidak perlu menunggu hebat untuk bergerak. Yang Allah lihat adalah kesungguhan untuk terus memperbaiki diri setiap hari.

Barangkali tahun lalu kita masih biasa.

Ramadan ini… saatnya naik kelas.

Bukan Viral, Tapi Bernilai

Kita hidup di zaman ketika orang berlomba menjadi terlihat. Padahal kemuliaan tidak diukur dari seberapa viral seseorang, tetapi dari seberapa bernilai dirinya di sisi Allah.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Artinya jelas: yang naik derajat bukan yang paling kaya, bukan yang paling populer, tetapi yang paling tinggi nilai takwanya.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ahmad)

Maka mari memasuki Ramadan dengan tekad baru:

menjadi pribadi yang kuat ibadahnya, lembut akhlaknya, luas manfaatnya, dan indah keteladanannya.

Sebab pada akhirnya, bukan yang paling ramai yang akan bertahan.

Tetapi yang paling bernilai — yang akan selalu dipilih.

Bismillah, saatnya naik level.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu