Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menyelami Asal-usul Lalapan, Hidangan Khas Rakyat Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Menyelami Asal-usul Lalapan, Hidangan Khas Rakyat Indonesia
pwmu.co -
Ilustrasi lalapan dan sambal (Jauza/PWMU.CO)

PWMU.CO Lalapan sayur merupakan salah satu kekayaan kuliner tradisional Indonesia yang telah lama dikenal dan menjadi bagian penting dalam keseharian masyarakat.

Hidangan ini terdiri atas berbagai jenis sayuran segar, mentah maupun matang, yang disajikan bersama sambal serta lauk seperti ayam goreng, ikan bakar, tempe, atau tahu.

Keunikan lalapan bukan hanya terletak pada cita rasanya yang segar dan pedas, tetapi juga pada nilai budaya dan sejarah yang melekat di dalamnya.

Sejarah lalapan tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan masyarakat agraris di Nusantara yang terbiasa mengonsumsi hasil alam secara langsung.

Pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha seperti Kerajaan Mataram Kuno dan Majapahit, konsumsi sayuran segar sudah dikenal dalam bentuk jamu atau makanan harian. Namun, bentuk lalapan seperti yang dikenal saat ini berkembang seiring dengan pengaruh budaya lokal dan luar.

Lalapan diduga berkembang pesat di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di Jawa Barat, masyarakat Sunda memiliki tradisi makan lalapan sejak lama. Dalam kebudayaan Sunda, lalapan adalah makanan pokok yang menyatu dengan identitas kedaerahan. Bagi orang Sunda, lalapan bukan sekadar makanan pelengkap, tetapi juga mencerminkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam.

Pengaruh luar seperti dari India dan Timur Tengah juga memperkaya ragam bumbu dan sambal yang disajikan bersama lalapan. Misalnya, penggunaan rempah-rempah dan teknik pengolahan sambal bisa ditelusuri dari akulturasi budaya pedagang asing yang datang ke Nusantara sejak abad ke-7.

Perkembangan Lalapan dari Masa ke Masa

Pada era kolonial Belanda, lalapan tetap bertahan sebagai makanan rakyat yang murah dan bergizi. Sementara itu, kaum kolonial cenderung mengonsumsi makanan yang lebih kompleks dan berbahan daging atau susu.

Namun, makanan pribumi seperti lalapan tidak hilang. Sebaliknya, ia justru berkembang sebagai bentuk perlawanan budaya, di mana masyarakat tetap mempertahankan kebiasaan makan yang alami dan sederhana.

Pada dekade 1970-an hingga 1990-an, lalapan mulai populer di kota-kota besar Indonesia, terutama dengan munculnya warung-warung makan sederhana yang menyajikan ayam lalapan atau lele lalapan. Dalam konteks ini, lalapan tidak lagi hanya sekadar sayur, tetapi menjadi identitas masakan yang mengandalkan kombinasi antara lauk goreng dan sambal.

Kini, lalapan telah menjelma menjadi sajian khas yang tersedia di berbagai restoran, dari warung kaki lima hingga rumah makan mewah. Beberapa kreasi modern juga mulai menambahkan sayuran nontradisional seperti selada air, tomat ceri, atau mentimun Jepang.

Fungsi Sosial dan Kesehatan

Selain menjadi bagian dari budaya makan, lalapan juga memiliki fungsi sosial. Menyantap lalapan bersama-sama dalam satu hidangan mencerminkan nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong yang tinggi. Tidak sedikit masyarakat yang merasa lebih “lengkap” jika makan tidak disertai lalapan dan sambal.

Dari segi kesehatan, lalapan mengandung banyak serat, vitamin, dan mineral karena terdiri atas sayuran segar yang tidak dimasak. Kandungan nutrisi dalam lalapan terbukti baik untuk pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh. Namun, kebersihan sayuran mentah perlu diperhatikan agar terhindar dari risiko penyakit.

Lalapan sayur bukan hanya makanan, melainkan warisan budaya yang hidup dan terus berkembang. Di tengah modernisasi dan globalisasi kuliner, lalapan tetap bertahan sebagai simbol kesederhanaan, kealamian, dan kekayaan rasa Nusantara. Dengan mengenal sejarah lalapan, kita dapat lebih menghargai kekayaan kuliner lokal yang sederhana, tetapi penuh makna.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang kekayaan kuliner Jawa Timur, termasuk resep, sejarah, dan rekomendasi tempat makan, Anda dapat mengunjungi situs Foryourplate.id yang menyajikan berbagai informasi menarik seputar dunia makanan Jawa Timur.

Penulis Jauza Kamelia Azmi Editor Zahra Putri Pratiwig

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu