
PWMU.CO – Dalam Al-Qur’an, cahaya (an-nur) sering menjadi simbol petunjuk, ilmu, dan keimanan. Cahaya datang dari Allah, disalurkan kepada para nabi, dan diteruskan oleh umat yang berjuang.
۞ اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ ٣
“Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang (pada dinding) yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang (yang berkilauan seperti) mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk menuju cahaya-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nur: 35).
Dalam konteks gerakan, cahaya bukan sekadar metafora religius, melainkan merupakan misi sosial yang nyata. Menjadi cahaya berarti hadir dengan ilmu di tengah kebingungan, hadir dengan kepedulian di tengah kemiskinan, hadir dengan keteladanan di tengah kekosongan nilai, dan hadir dengan keteduhan di tengah konflik.
Tiga pilar
Sejak awal, Muhammadiyah telah menempatkan kader-kadernya untuk menjadi cahaya di tempat-tempat yang gelap—melalui pendirian sekolah di kampung miskin, panti asuhan di kota penuh kelam, dan dakwah yang menyala di daerah rawan nilai.
Dalam refleksi kaderisasi dan dinamika gerakan, terdapat 3 (tiga) pilar strategis yang harus menjadi fokus utama Gerakan Pemuda Muhammadiyah ke depan.
Pertama, spiritualitas yang mendasar. Gerakan pemuda harus berpijak pada nilai-nilai spiritual yang kokoh, bukan sekadar ritual, tetapi spiritualitas yang membentuk karakter. Shalat yang khusyuk, puasa yang mendidik, dan dzikir yang membangun kesadaran sosial menjadi fondasi pendidikan iman—benteng pertama untuk melawan zaman yang gelap. Seperti pesan KH Ahmad Dahlan, “Jangan pernah lepaskan Al-Qur’an dan shalat malam jika ingin selamat memimpin umat.”
Kedua, intelektualitas dan literasi sosial. Kader Muhammadiyah harus mampu berpikir tajam dan kritis, membaca realitas sosial, memahami teori perubahan, serta menulis gagasan. Dunia digital yang sarat disinformasi hanya bisa dilawan dengan budaya literasi. Oleh karena itu, membaca, berdiskusi, dan menulis harus menjadi gaya hidup kader. Program seperti pelatihan jurnalistik dakwah, bedah buku, kajian tafsir sosial, dan sekolah ideologi perlu diperluas dan diperkuat sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran intelektual.
Ketiga, aktivisme sosial dan kepekaan terhadap komunitas. Gerakan Pemuda Muhammadiyah tidak boleh eksklusif, tetapi harus menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat. Kader harus hadir sebagai guru di sekolah informal, relawan dalam penanggulangan bencana, pendamping warga miskin, dan penyambung aspirasi masyarakat. Aktivisme sosial bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari gerakan. Program seperti rumah literasi kampung, dapur solidaritas, layanan kesehatan gratis, dan advokasi pendidikan warga miskin harus menjadi agenda yang berkelanjutan dan terus diperjuangkan.
Kepemimpinan yang adaptif dan melayani
Menjadi pemimpin bukan soal jabatan, tetapi soal kemauan menjadi pelayan nilai. Pemuda Muhammadiyah harus melahirkan pemimpin yang mau belajar dan mendengar, siap turun tangan (bukan sekadar mengarahkan), mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan sosial, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat.
Di tengah era digital, urbanisasi cepat, dan krisis nilai, pemimpin harus mampu memadukan hikmah masa lalu dengan strategi masa kini. Sebagaimana pesan Buya Syafii Maarif, “Pemimpin yang sejati adalah mereka yang bisa hidup bersama rakyat, berjalan bersama kader, dan tidak kehilangan akarnya.”
Tantangan zaman kian kompleks. Urbanisasi yang pesat menyebabkan banyak anak muda kehilangan akar budaya dan identitas agamanya. Politisasi agama menimbulkan fragmentasi umat, bahkan merembet ke internal organisasi. Sementara itu, polarisasi sosial dan politik membuat banyak kader terjebak dalam perdebatan tanpa aksi nyata. Dalam situasi ini, Pemuda Muhammadiyah dituntut menjadi penyejuk: menjaga netralitas, memperjuangkan substansi dakwah, serta membangun komunikasi lintas kelompok dan golongan.
Menghadapi masa depan, Pemuda Muhammadiyah tidak bisa lepas dari realitas digitalisasi dan internasionalisasi. Gerakan ini harus hadir di ruang digital dengan konten edukatif, literasi media, dan narasi Islam berkemajuan. Basis data kader dan peta dakwah perlu disusun dengan dukungan teknologi. Kolaborasi internasional pun menjadi keniscayaan—dalam forum pemuda, komunitas diaspora, dan solidaritas global untuk Palestina, kemanusiaan, dan lingkungan hidup. Digitalisasi bukan tren sesaat, melainkan cara baru untuk menyampaikan nilai lama. Internasionalisasi bukan mimpi muluk, tetapi bagian dari tanggung jawab gerakan yang sudah berusia lebih dari satu abad.
Bukan waktunya ragu
Kepada seluruh kader Pemuda Muhammadiyah dan generasi muda Islam di mana pun berada: ini bukan saatnya ragu. Bukan waktunya bertanya siapa yang akan memulai. Kitalah yang harus bergerak lebih dahulu. Menjadi cahaya bukan soal besar kecilnya terang, tetapi apakah ia mau dinyalakan atau tidak. Dunia hari ini tidak membutuhkan sosok yang sempurna, tetapi orang yang bersedia berjuang. Kader Muhammadiyah adalah mereka yang tetap memilih bergerak, bahkan ketika semua orang memilih diam.
Gerakan Pemuda Muhammadiyah bukan sekadar bagian dari struktur organisasi. Ia adalah denyut kehidupan umat. Gerakan ini akan terus hidup selama kadernya mau belajar, mau berubah, dan mau melayani. Sebagaimana pesan KH Ahmad Dahlan, “Sesungguhnya Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya.”
Mari kita jaga cahaya ini, mari terus melangkah. Dan mari menjadi pelita di zaman yang gelap, seterang-terangnya. Yakinlah, bersama Allah, perjuangan ini akan menjadi berkah.***
Editor Notonegoro






0 Tanggapan
Empty Comments