Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menyemai Adab, Merawat Cita: Hardiknas yang Hangat di SD Mumtaz

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Kegiatan Upacara Peringatan Hardiknas di Gedung 2 SD Mumtaz (Heni Dwi Utami/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pagi itu, Jumat (2/5/2025), langit tampak malu-malu menyapa. Awan kelabu menggantung rendah, dan gerimis kecil jatuh pelan, seolah langit pun turut khusyuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Namun, di tengah cuaca yang sendu, semangat para siswa SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman (SD Mumtaz) tetap menyala. Di halaman dua kampus—Kampus 1 untuk siswa kelas 4 hingga 6, dan Kampus 2 untuk kelas 1 hingga 3—barisan tetap tegak, langkah tertib, dan wajah-wajah kecil itu berseri penuh semangat.

Dengan penuh khidmat, upacara dimulai di bawah payung semangat dan disiplin. Di Kampus 1, Rahadian Arif Rahman SS MAP, Kepala SD Muhammadiyah 1 sekaligus pembina upacara, menyampaikan pidato yang membekas di hati. “Belajar bukan hanya tentang angka, huruf, dan rumus. Belajar juga tentang menundukkan hati, menyemai adab, dan menjadikan diri manusia yang utuh,” ucapnya tegas namun menghangatkan. Ia mengajak para siswa menjadikan pendidikan sebagai jalan menuju akhlak mulia.

Sementara itu, di Kampus 2, Amrozi SFil MPd, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, memimpin upacara dengan semangat yang tak kalah menggugah. Di hadapan siswa-siswi kelas 1 hingga 3, ia menyampaikan kisah tentang KH Ahmad Dahlan, tokoh Muhammadiyah yang berjuang melalui jalur pendidikan. “Dulu, para pendiri bangsa belajar dengan penerangan lampu minyak dan beralas tikar. Sekarang kalian bisa belajar dengan fasilitas yang lebih baik. Mari kita bersyukur dan balas perjuangan itu dengan semangat belajar yang tinggi,” ujarnya penuh semangat. Anak-anak mendengarkan dalam diam, namun mata mereka berbinar, seolah benih kesadaran baru tumbuh dalam jiwa-jiwa kecil itu.

Masih dalam rangkaian upacara, diumumkan pula nama-nama siswa yang menerima penghargaan atas prestasi akademik maupun keteladanan ibadah selama bulan Ramadan. Gerimis yang turun menjadi saksi kebahagiaan sederhana yang tercermin dari sorot mata para penerima penghargaan—kebahagiaan bukan karena hadiah, melainkan karena diakui dan dipercaya.

Selepas upacara, para siswa kembali ke kelas untuk mengikuti pengalaman belajar yang berbeda. Mereka diajak menyaksikan film dokumenter tentang sejarah pendidikan Indonesia: dari masa gelap penjajahan hingga era kemerdekaan yang terus membangun. Film tersebut membuka mata dan menggetarkan hati mereka tentang betapa berharganya setiap huruf yang kini bisa mereka baca.

Kegiatan berlanjut dengan menuliskan cita-cita dan menggambarkannya di atas kertas. Tak hanya itu, mereka juga diminta menuliskan aspirasi: seandainya bisa bertemu dengan Bapak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, apa yang ingin mereka sampaikan?

Salah satu suara jujur datang dari Kahesa Arabelle, siswi kelas 3C. “Aku penasaran tentang sistem zonasi,” ujarnya polos. “Bukankah itu membuat anak-anak jadi malas belajar kalau mereka tahu akan tetap masuk sekolah dekat rumah?” Sebuah pertanyaan sederhana, namun menggambarkan kepekaan dan nalar kritis anak-anak masa kini terhadap sistem yang membentuk masa depan mereka.

Hari itu, meski mendung menggelayut dan gerimis mengiringi langkah, SD Mumtaz menjelma menjadi ladang harapan dan cita-cita. Pendidikan tidak sekadar dikenang hari ini, tetapi ditanamkan dalam-dalam: sebagai cahaya yang membentuk karakter, sebagai obor yang membakar semangat, dan sebagai jalan menuju masa depan Indonesia yang lebih beradab. (*)

Penulis Heni Dwi Utami Editor Wildan Nanda Rahmatullah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu