Semangat dan kebersamaan begitu terasa di hamparan pasir Pantai Watu Lawang, Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tepat pukul 13.08 WIB, pantai yang dikenal dengan keindahan karangnya itu menjadi saksi kegiatan penuh makna yang mempertemukan para kader Tapak Suci se-Kota Yogyakarta.
Dengan seragam merah menyala yang menjadi identitas kebanggaan, kami menyusun langkah demi langkah dalam latihan seni bela diri di tengah alam yang luas dan jujur.
Lebih dari sekadar latihan fisik, kegiatan ini menjadi ruang untuk menyatukan semangat, mempererat persaudaraan, sekaligus melepas penat dari rutinitas harian. Debur ombak yang berkejaran seakan menjadi irama alami bagi setiap jurus dan gerakan.
Di bawah langit biru dan hembusan angin laut yang lembut, kami berdiri dalam satu irama: satu gerakan, satu cita, satu keluarga besar Tapak Suci.
Latihan dimulai dengan pemanasan di atas pasir pantai yang empuk namun menantang. Permukaan yang tidak rata melatih kekuatan kaki sekaligus keseimbangan tubuh.
Gerakan demi gerakan kami ulangi bersama, dipandu para pelatih yang penuh perhatian. Setiap hentakan kaki dan setiap kuda-kuda bukan sekadar ujian fisik, tetapi juga latihan mental—menumbuhkan fokus, kedisiplinan, dan keteguhan hati.
Di sini, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih hebat. Semua belajar dan tumbuh bersama. Kesalahan menjadi bahan evaluasi, sementara pencapaian sekecil apa pun dirayakan dengan semangat.
Kami saling menegur dengan tulus, mendukung, dan menyemangati. Atmosfer kekeluargaan membuat rasa percaya diri tumbuh alami.
Bagi kami, latihan ini bukan hanya tentang jurus, tetapi juga tentang membentuk karakter yang tangguh sekaligus rendah hati.
Selepas latihan utama, suasana mencair. Ada yang bermain air di tepian pantai, ada pula yang bercengkerama sambil duduk di atas pasir.
Kamera pun ramai mengabadikan momen. Tawa dan gurauan berpadu dengan suara ombak, menghadirkan kenangan yang akan selalu kami ingat.
Pantai Watu Lawang memberi latar yang begitu indah. Batu karang yang kokoh, pasir keemasan, dan ombak yang terus berlari menciptakan nuansa magis penuh spiritualitas.
Di tempat ini, kami merasa lebih dekat dengan alam sekaligus lebih jujur pada diri sendiri. Kami diingatkan kembali bahwa belajar tidak selalu harus di ruang tertutup.
Alam bisa menjadi guru: angin mengajarkan kelembutan, pasir melatih keseimbangan, dan ombak menunjukkan kekuatan yang tak kenal menyerah.
Tapak Suci bagi kami bukan sekadar organisasi, melainkan rumah kedua. Tempat kami belajar menjadi insan yang kuat jasmani, tajam pikiran, dan mulia sikap.
Setiap jurus yang dipelajari menyimpan nilai spiritual dan sosial. Kedisiplinan, keberanian, serta semangat persaudaraan menjadi bekal kami untuk hidup sehari-hari.
Saat matahari condong ke barat, latihan ditutup dengan doa bersama. Dalam hening yang ditemani semilir angin sore, kami mengucap syukur dan berikrar menjaga semangat ini di manapun berada. Bahwa persaudaraan dan nilai-nilai luhur ini tak hanya hidup di tepi pantai, tetapi juga dalam setiap langkah kehidupan.
Kami sadar, momen seperti ini tidak datang setiap hari. Perjalanan jauh, rasa lelah, dan kebersamaan yang terjalin menjadi kenangan abadi.
Dari Pantai Watu Lawang, kami pulang dengan tubuh yang letih namun hati yang penuh. Membawa bukan hanya pasir di kaki, tetapi semangat yang diperbarui. Pantai ini menjadi simbol perjuangan, harapan, dan kekuatan persaudaraan.
Seperti ombak yang tak pernah berhenti menyapa daratan, begitulah semangat kami: terus hidup, terus mengalir, tak akan pernah padam. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments