Merajut Harapan dan Kemandirian: Literasi Finansial Diaspora Indonesia di Penang, Malaysia
Pada Ahad, 31 Agustus 2025, ruang pertemuan Kantor Persatuan Masyarakat Indonesia (Permai) Penang dipenuhi wajah-wajah penuh semangat. Mereka bukan sekadar pekerja migran atau perantau, tetapi juga orang tua, pengusaha, seniman, dan pejuang keluarga yang menanggung harapan generasi berikutnya.
Hari itu, mereka berkumpul dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Literasi Finansial, hasil kerja sama Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya (FISIPOL Unesa) dengan Permai Penang, Malaysia.
Cerita yang Mengalir dari Kehidupan
Diskusi yang diformat dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) berjalan cair. Tidak ada jarak antara akademisi dan komunitas; semua duduk sejajar, berbagi kisah tentang bagaimana mereka bertahan dan mengelola hidup di negeri jiran, khususnya di Penang, Malaysia.
Syifa, perempuan asal Lampung, membuka cerita dengan sederhana namun kuat. Baginya, kunci bertahan hidup di Malaysia adalah menahan diri dari gaya hidup tinggi.
“Tidak perlu gengsi. Yang penting kebutuhan pokok terpenuhi, selebihnya disesuaikan dengan kemampuan,” ujarnya. Filosofi hidupnya mencerminkan literasi finansial dalam bentuk paling mendasar: kesadaran akan prioritas.
Kisah berbeda datang dari Bu Ayu, perempuan Palembang yang sudah tiga tahun tinggal di Penang, Malaysia. Dengan suami, anak, dan cucu, ia menjalani hari-hari penuh kesibukan: mengelola sanggar tari Kamila, menerima pesanan makanan dan pakaian secara daring, sekaligus mendampingi cucu di rumah.
Di sela aktivitas itu, ia masih menyempatkan diri menolong warga Indonesia yang kesulitan dokumen atau mencari pekerjaan. “Bagi saya, berbagi itu tidak selalu soal uang. Kadang cukup tenaga, waktu, dan hati,” tuturnya.
Zulfahmi dari Aceh menambahkan dengan singkat namun tegas: “Di sini yang penting kerja sungguh-sungguh dan disiplin.” Kalimat sederhana itu menggambarkan etos diaspora yang memahami bahwa adaptasi dan keuletan adalah mata uang sosial yang berharga.
Cerita paling panjang datang dari Edi Sukoco, pria 57 tahun asal Lamongan yang sudah 39 tahun merantau. Ia memulai dari gaji 10 Ringgit untuk delapan jam kerja, kini bisa memperoleh 25 Ringgit per jam. Dari jerih payah itu, dua anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi di Jakarta dan Universiti Utara Malaysia.
Namun, ia juga menyebut sisi lain: “Banyak yang tergoda membeli barang branded dengan cicilan, padahal tabungan untuk pendidikan jauh lebih penting.”
Jalan Menjadi Pengusaha: Refleksi Pak Agung
Di tengah sesi, Pak Agung Prihatin, Sekretaris Jenderal Permai Penang, Malaysia, berbagi kisah hidupnya yang sarat refleksi. Setelah bertahun-tahun bekerja ikut orang, pada 2014 ia memilih berhenti dan membuka usaha sendiri. Kini ia menjalankan katering online untuk instansi sekaligus mengelola pengiriman barang ke Indonesia.
“Jalan menjadi pengusaha penuh risiko. Tapi saya percaya diaspora Indonesia punya potensi besar untuk mandiri,” katanya, disambut anggukan peserta.
Pak Agung juga menyinggung masalah klasik yang membatasi mobilitas ekonomi: keterbatasan bahasa Inggris dan dokumen resmi. Menjawab itu, Permai menggagas kursus bahasa Inggris, bimbingan fiqh, hingga program Qur’an Academy. “Ini bukan hanya soal ekonomi. Ini soal menjaga budaya, iman, dan harapan,” tambahnya.
Lebih jauh, ia menguraikan peluang legal bagi diaspora di Malaysia. Warga dengan status IC merah dapat berusaha melalui skema modal bersama (51 persen warga lokal, 49 persen orang Indonesia). Sementara anak-anak yang lahir di Malaysia otomatis mendapatkan IC biru, dengan hak penuh untuk berniaga dan memiliki aset.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh delegasi Prodi Sosiologi FISIPOL Unesa: Dr Moh. Mudzakkir SSos MA PhD, Febriandita Tedjomurti MSosio, Farid Pribadi, M.Sosio, Kholida Ulfi Mubaroka, MSosio, Wardatul Adawiah MSi, Putri Dwi Permata Indah, MSosio, dan Eufrasia Kartika Hanindraputri, M.Sos. Dari Permai Penang hadir Pak Agung Prihatin dan Hanif Abdurrahman Siswanto.
Selain pelatihan dan FGD, hari itu juga diwarnai dengan penandatanganan kerja sama antara Unesa dan Permai Penang, Malaysia. Nota kesepahaman ini membuka ruang kolaborasi baru: riset bersama, pemberdayaan ekonomi, hingga pelestarian seni dan budaya.
Literasi Finansial sebagai Modal Sosial
Ketua Prodi Magister Sosiologi Unesa yang juga Wakil Sekretaris PWM Jawa Timur, Moh Mudzakkir PhD menekankan bahwa pengalaman diaspora di Penang, Malaysia adalah “buku terbuka” tentang literasi finansial.
“Dari mereka kita belajar, bahwa literasi finansial tidak berhenti pada angka, laporan, atau teori. Ia hidup dalam cerita perjuangan sehari-hari: bagaimana mengatur pendapatan, menahan diri, dan tetap menabung demi masa depan,” ujarnya.
Merawat Harapan di Negeri Perantauan
Hali itu, cerita demi cerita terjalin dalam satu benang merah: bahwa hidup di perantauan adalah tentang keberanian menata prioritas, kesabaran menghadapi keterbatasan, dan solidaritas sesama.
Dari Syifa yang memilih hidup sederhana, Bu Ayu yang menyeimbangkan usaha dan keluarga, Zulfahmi yang teguh dengan disiplin, Edi yang belajar dari perjalanan panjang, hingga Pak Agung yang membuka jalan wirausaha, semuanya menunjukkan wajah nyata literasi finansial.
Bagi diaspora Indonesia di Penang, Malaysia, literasi finansial bukan sekadar teori keuangan. Ia adalah seni bertahan, seni berbagi, dan seni merawat harapan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments