Malam itu, langit di atas Genteng Banyuwangi sedang mendung. Semilir angin malam terasa sejuk menerpa wajah. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat saya untuk menunggu panggilan telepon dari sopir.
Memang tadi pagi saya telah memesan tiket perjalanan darat melalui seorang teman yang terkoneksi dengan agen travel perjalanan, Jumat (12/12/2025).
Beberapa saat kemudian ringtone panggilan di ponsel saya berbunyi. Dan benar saja, sopir yang menelepon. Ia mengatakan akan menjemput saya nanti malam. Karena ia masih harus mengurus sesuatu di Kecamatan Rogojampi.
“Pak, nanti saya jemput terakhir saja saat akan berangkat,” katanya.
Senang mendengarnya, karena dengan begitu saya memiliki waktu untuk melihat pertandingan sepak bola antara timnas Indonesia melawan tim Myanmar.
Sayang, hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi. Timnas gagal masuk ke semifinal. Hasil akhir pertandingan skor 3-1 kemenangan bagi Timnas Indonesia, belumlah cukup untuk menjadikan Timnas Garuda Muda lolos ke semifinal cabang sepak bola sea games di tahun ini.
Pukul 20.45 WIB ponsel berbunyi kembali. Ternyata mobil elf telah berada di depan rumah dan siap meluncur ke Surabaya.
Meskipun harus menempuh perjalanan selama 7 jam, hal ini tak mengurangi semangat untuk menghadiri undangan Focus Group Discussion (FGD) Riset Buku Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur yang diselenggarakan MPID Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim di lantai 23 At Ta’awun Tower Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
Semangat untuk menjaga asa literasi mampu mengalahkan hawa dingin perjalanan.Tak terasa Kabupaten Jember pun telah terlewati. Pukul 24.30 sampai di Kabupaten Lumajang. Sopir segera menepikan mobilnya. Semua penumpang turun.
Terlihat kondisi tanah masih basah di sini, sepertinya tadi baru saja turun hujan. Hawa semakin dingin di sini. Namun, badan terasa hangat kembali setelah menyantap soto ayam yang disandingkan dengan teh panas menyegarkan. Perjalanan dilanjutkan kembali.
Menjelang waktu Subuh, perjalanan telah memasuki Kota Surabaya. Ketika mengantar penumpang ke alamatnya, tiba-tiba sopir menghentikan kendaraannya. Dia menyilakan saya untuk menunaikan shalat Subuh di sebuah masjid yang berada di kawasan Rungkut.
Setelah bermunajat di pagi hari itu, saya bercengkrama dengan petugas security masjid sambil menunggu jemputan mobil tadi. Kira-kira 15 menit kemudian, mobil tiba. Kemudian meluncur lagi menuju kawasan Mulyorejo tempat kampus Umsura berdiri dengan megah.
Serasa kuliah lagi, seperti kata teman saya ketika melihat foto saya berdiri dengan background At Ta’awun Tower di pagi itu.
Masjid Al Khoori yang berada di sebelah Barat kampus menjadi tempat yang nyaman untuk merehat sejenak setelah menempuh perjalanan selama 7 jam. Suasana masih sangat sunyi, belum ada seorang pun di sini.
Ketika saya sedang menyantai duduk di serambi masjid, datang tiga orang mendekat.
“Assalamualaikum,” kata salah satu dari mereka.
Ternyata ketiganya adalah utusan MPID PDM Pacitan; Luqman Haroni, Said, dan Heru Prasetyo.
Karena waktu masih lumayan lama menuju FGD yang akan digelar, maka kami berdialog dan bertukar pengalaman seputar pergerakan Muhammadiyah dan literasi di tempat kami masing-masing.
Pukul 7.30 kami berjalan menuju At Ta’awun Tower. Disambut oleh dua orang panitia yang langsung menyilakan kami naik ke lantai 23 tempat FGD akan dilangsungkan.
Rupanya, di puncak tower ini telah berkumpul para editor PWMU.CO yang bertugas sebagai panitia penyelenggara. Seperti Azrohal Hasan, Wildan Nanda Rahmatullah dan Zahra Putri Pratiwig yang membantu peserta untuk melakukan registrasi melalui google form.
FGD segera dimulai setelah datangnya para narasumber yaitu Prof Syafig A Mughni, Prof Achmad Jainuri, Dr Mustakim. Mereka hadir didampingi Ketua PWM Jatim, Prof Sukadiono bersama jajaran PWM.
Suasana FGD menjadi sangat hidup dengan riset buku sejarah Muhammadiyah Jatim. Buku berjudul Membangun Tradisi Baru ini menjadi penyemangat baru bagi pembaca di tengah rendahnya tingkat literasi anak bangsa.
Banyak masukan dan usulan yang berasal dari para narasumber dan peserta terkait penyusunan buku sejarah Muhammadiyah Jatim ini. Antara lain, tentang rumusan, kepenulisan, sistematika buku, dan konten buku yang harus ditulis dengan cermat dan objektif.
Semoga buku Membangun Tradisi Baru yang disusun oleh tim penulis sejarawan muda Muhammadiyah Jatim ini segara terbit. Sehingga dapat menjadi tambahan khazanah literasi yang mencerahkan umat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments