Dakwah selama ini sering dipahami sebatas aktivitas tabligh: ceramah, khotbah, atau majelis taklim. Padahal, hakikat dakwah jauh lebih luas.
Dakwa adalah manifestasi keimanan yang hadir dalam pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu, bahkan dalam seni, ekonomi, dan politik.
Dakwah adalah gerakan perubahan sosial yang menembus batas ruang masjid dan menyapa kehidupan sehari-hari. Karena itu, setiap muslim sejatinya adalah dai: penyampai pesan Islam dengan caranya masing-masing.
Hari ini, salah satu medan dakwah yang mendesak adalah lingkungan hidup. Kerusakan alam—mulai dari krisis iklim, pencemaran sungai, hilangnya hutan, hingga udara yang kian sesak—bukan sekadar isu ekologis, tetapi juga isu moral dan spiritual.
Kerusakan itu adalah akibat cara pandang manusia yang keliru terhadap bumi. Manusia merasa berkuasa penuh, padahal sejatinya ia hanya khalifah yang diberi amanah untuk merawat, bukan merusak.
Di sinilah dakwah lingkungan menemukan relevansinya. Mengajak masyarakat menjaga alam adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.
Menyadarkan manusia bahwa merusak bumi adalah dosa, sedangkan merawatnya adalah ibadah, merupakan inti dari dakwah yang menyelamatkan kehidupan.
Namun, dakwah lingkungan tidak cukup dengan seruan moral. Ia membutuhkan sistem, strategi, dan organisasi sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. dalam mengelola masyarakat Madinah.
Dakwah harus mampu mendiagnosis akar masalah, menjawab kebutuhan jangka pendek maupun panjang, melibatkan masyarakat secara partisipatif, hingga menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.
Pendeknya, dakwah lingkungan harus menjadi gerakan kultural yang menyentuh kehidupan nyata umat.
Nilai-nilai Islam memberikan fondasi kuat untuk itu. Tauhid menegaskan bahwa alam adalah ciptaan Allah yang harus dihormati. Amanah mengingatkan bahwa bumi adalah titipan yang kelak dipertanggungjawabkan.
Adil menuntut keseimbangan antara kepentingan manusia dan makhluk lain. Khilafah menegaskan peran manusia sebagai pengelola, bukan penguasa tunggal.
Dan maslahah mengarahkan agar semua usaha dakwah membawa kebaikan bagi kehidupan bersama.
Gerakan dakwah lingkungan bisa hadir dalam banyak bentuk. Dari khutbah Jumat yang menyinggung pentingnya menjaga sungai, hingga film pendek yang mengajak generasi muda peduli sampah.
Dari aksi tanam pohon oleh siswa sekolah, hingga penelitian kampus tentang energi terbarukan. Semua itu adalah dakwah. Dakwah yang hidup, dakwah yang nyata, dakwah yang menyentuh persoalan umat di zamannya.
Jika umat Islam sungguh-sungguh menggarap dakwah lingkungan, maka Islam tidak hanya tampil sebagai agama ritual, tetapi juga agama peradaban. Islam yang menjaga bumi, menyelamatkan kehidupan, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments