Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Merawat Hati dengan Prasangka Baik

Iklan Landscape Smamda
Merawat Hati dengan Prasangka Baik
Foto: Stockcake
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita terlalu sibuk menjaga kesehatan fisik—mengatur pola makan, olahraga, dan istirahat—namun lupa bahwa penyakit hati justru berawal dari pikiran.

Iri, dengki, su’uzan, putus asa, dan rasa tidak puas terhadap takdir adalah penyakit yang perlahan menggerogoti ketenangan jiwa.

Salah satu benteng paling kuat untuk menjaga hati tetap bersih adalah berpikir positif. Bukan sekadar berpikir manis tanpa usaha, melainkan cara pandang yang sehat, jernih, dan penuh iman terhadap Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.

1. Berpikir Positif kepada Allah

Berprasangka baik kepada Allah adalah fondasi utama ketenangan batin. Banyak orang yang saat diuji justru tergelincir pada pikiran, “Mengapa hidupku begini? Mengapa doaku belum dikabulkan?”

Padahal, bisa jadi Allah sedang menyiapkan jawaban yang jauh lebih indah daripada yang kita bayangkan.

Bayangkan seorang pedagang kecil yang tokonya sepi berbulan-bulan. Setiap hari ia membuka pintu toko dengan doa dan senyum, meski penghasilan pas-pasan. Ia tetap jujur, tidak mengurangi timbangan, dan terus bersedekah meski sedikit.

Dalam hatinya ia berkata, “Allah tahu apa yang terbaik untukku.” Beberapa waktu kemudian, rezekinya datang dari arah yang tak disangka—bukan dari tokonya, tetapi dari peluang usaha lain yang lebih berkah.

Inilah makna firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah:

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.
Jika ia berprasangka baik kepada-Ku, maka baginya kebaikan.
Jika ia berprasangka buruk kepada-Ku, maka baginya keburukan.”

Berpikir positif kepada Allah bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar, tetapi meyakini bahwa setiap ketentuan-Nya sarat hikmah, meskipun hari ini belum kita pahami.

2. Berpikir Positif terhadap Diri Sendiri

Tidak ada satu pun manusia yang diciptakan sia-sia. Setiap kita lahir membawa potensi, meski terkadang tertutup oleh rasa minder, trauma masa lalu, atau perkataan orang lain yang meremehkan.

Dalam kehidupan, kita sering menjumpai orang yang sebenarnya mampu, namun memilih mundur sebelum melangkah.

Ada mahasiswa cerdas yang tidak berani berbicara karena takut salah. Ada karyawan rajin yang enggan berkembang karena merasa dirinya “biasa saja.” Semua itu berakar dari pikiran negatif tentang diri sendiri.

Menganggap diri tidak berarti, tidak bermakna, dan tidak berdaya adalah bentuk ketidakadilan terhadap ciptaan Allah. Jika Allah saja memuliakan manusia, mengapa kita merendahkan diri sendiri?

Orang-orang yang mudah putus asa, cepat menyerah, dan kehilangan semangat hidup sering kali bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena pikiran yang kalah lebih dulu.

Maka, lihatlah diri kita sebagai karya agung Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa, yang diciptakan dengan tujuan dan amanah.

Sekecil apa pun peran kita hari ini, yakinlah bahwa Allah tidak pernah salah menempatkan hambanya.

3. Berpikir Positif terhadap Orang Lain

Tidak ada hubungan yang sehat tanpa prasangka baik. Seseorang yang selalu berpikir negatif akan sulit dipercaya, sulit dicintai, dan akhirnya merasa kesepian meski berada di tengah keramaian.

Coba perhatikan lingkungan kerja atau keluarga. Saat seseorang terlambat, ada yang langsung menuduh malas, ada pula yang berpikir, “Mungkin ada kendala di jalan.”

Cara berpikir yang berbeda ini menghasilkan suasana yang sangat berbeda pula. Prasangka baik melahirkan empati, sementara prasangka buruk melahirkan jarak dan luka.

Tidak ada orang yang nyaman berada di sekitar kita jika yang terpancar adalah kecurigaan dan penilaian negatif.

Sebaliknya, sikap positif membuat orang merasa dihargai, diterima, dan akhirnya tumbuh rasa persaudaraan.

Dengan berpikir positif kepada sesama, hati kita pun terhindar dari iri dan dengki—dua penyakit hati yang diam-diam menghabiskan pahala.

Perbanyak Selawat, Menenangkan Hati

Di tengah kegelisahan hidup, jangan lupa memperbanyak shalawat. Panggil Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dengan shalawat yang tulus.

Selawat bukan hanya amalan lisan, tetapi obat hati yang menenangkan, melapangkan dada, dan menghadirkan keberkahan.

Mustahil panggilan kita kepada Rasulullah diabaikan. Setiap shalawat yang terucap adalah jembatan rahmat, yang menghubungkan kegundahan kita dengan pertolongan Allah.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa menolong seluruh urusan kita, membimbing langkah kita di jalan yang lurus, dan melimpahkan rahmat dari sisi-Nya.

Semoga pula kita mampu mengisi hari-hari dalam kalender 1447 Hijriah dan Masehi 2026 ini dengan amal saleh, kesehatan, kebahagiaan, serta rasa syukur yang tak pernah putus.

“Yaa Allah, limpahkanlah kepada kami rahmat dan keberkahan-Mu, penuhi hidup kami dengan kebajikan dan iman, serta lindungilah kami dari segala bentuk musibah dan marabahaya.” (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu