
Siswa kelas 9 SMP Muhammadiyah 8 Benjeng Gresik usai pembuatan damar kurung dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025, Jumat (02/05/2025). (Linda Nur Fitria/PWMU.CO).
PWMU.CO – Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sebuah momentum penting untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara dan merefleksikan kemajuan dunia pendidikan.
Pada Jumat (02/05/2025), kelas 9 SMP Muhammadiyah 8 Benjeng, Gresik merayakan Hardiknas dengan cara yang unik dan penuh makna.
Yakni, mereka membuat damar kurung, lentera tradisional khas Gresik, sebagai simbol terang bagi masa depan pendidikan.
Damar Kurung: Warisan Budaya yang Mendidik
Damar kurung lebih dari sekadar lentera hias. Bagi masyarakat Gresik, benda ini adalah media bercerita, merekam kehidupan sosial, budaya, bahkan sejarah kota mereka.
Terbuat dari kerangka bambu dan kertas bergambar, damar kurung dihiasi dengan ilustrasi khas bernuansa naif yang menggambarkan kegiatan sehari-hari. Antara lain anak-anak bermain, pasar rakyat, hingga tradisi keagamaan.
Gaya gambar ini dipopulerkan oleh seniman besar Gresik, Masmundari, yang hingga usia lanjut terus melestarikan seni ini sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
Dalam semangat Hardiknas, damar kurung dapat dimaknai lebih dalam. Yaitu sebagai simbol cahaya ilmu yang menerangi gelapnya kebodohan.
Setiap gambar dalam damar kurung bisa menjadi pelajaran tentang nilai gotong royong, kearifan lokal, serta pentingnya pendidikan karakter.
Melalui aktivitas membuat damar kurung, anak-anak berkesempatan untuk mengekspresikan gagasan, belajar menggambar, dan menceritakan dunia sekitar mereka sebagai sebuah bentuk pembelajaran kontekstual yang menyenangkan.
Belajar Sambil Melestarikan Budaya
Merayakan Hardiknas dengan membuat damar kurung dapat menjadi kegiatan edukatif di sekolah-sekolah, sanggar, hingga komunitas.
Para siswa tidak hanya berkreasi secara visual, tetapi juga belajar tentang sejarah, budaya lokal, serta pentingnya melestarikan tradisi. Hal ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar yang mengutamakan pembelajaran yang bermakna, merdeka, dan relevan dengan kehidupan siswa.
Di tengah tantangan pendidikan saat ini, mulai dari digitalisasi hingga kesenjangan akses, kita membutuhkan “Lentera” yang bisa menyinari jalan ke depan.
Damar kurung dari Gresik mengingatkan kita bahwa pendidikan tak melulu soal buku dan angka, tetapi juga soal rasa, cerita, dan budaya.
Mari kita jadikan Hardiknas sebagai momen untuk menyalakan kembali semangat belajar, dengan cahaya lokal yang hangat dan membumi.
Penulis Linda Nur Fitria, Editor Danar Trivasya Fikri





0 Tanggapan
Empty Comments