Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Merayakan Kemerdekaan, Menghidupkan Masjid

Iklan Landscape Smamda
Merayakan Kemerdekaan, Menghidupkan Masjid
Bayu Firdaus
Oleh : Bayu Firdaus, S.Pd.,CPS Majelis Tabligh PDM Sidoarjo dan Sekretaris Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran
pwmu.co -

Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia menjadi momentum reflektif, bukan hanya bagi bangsa, tetapi juga bagi lembaga-lembaga sosial keagamaan, termasuk masjid.

Di tengah semangat kemerdekaan, penting bagi kita untuk menengok kembali bagaimana peranan masjid dalam sejarah Islam dan bagaimana seharusnya ia hadir hari ini sebagai pusat solusi umat, bukan hanya tempat ibadah ritual semata.

Bukan Hanya Rumah Ibadah

Pada masa Rasulullah saw, Masjid Nabawi bukan sekadar tempat salat. Masjid menjadi pusat dari seluruh aktivitas masyarakat Muslim kala itu.

Di sanalah Rasulullah merumuskan strategi dakwah, menyambut delegasi dari luar Madinah, menyelesaikan persoalan umat, bahkan menjadi tempat belajar, mengajar, hingga tempat istirahat sementara para sahabat yang tidak memiliki rumah.

Masjid menjadi jantung peradaban, sebuah institusi yang hidup dan memberi nyawa bagi masyarakat sekitarnya.

Fungsi Masjid Menurut Tuntunan Rasulullah

Sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw, masjid memiliki fungsi yang sangat luas:

  • Tempat ibadah: salat berjamaah, zikir, dan ibadah ritual lainnya.
  • Pusat pendidikan: Rasulullah mengajarkan ilmu agama dan kehidupan dari masjid.
  • Pusat sosial dan ekonomi: kegiatan sosial, pembagian zakat, bahkan musyawarah ekonomi dilakukan di masjid.
  • Pusat dakwah: dakwah yang rahmatan lil ‘alamin disampaikan secara terbuka dan santun.
  • Tempat mediasi dan solusi umat: masjid menjadi tempat menyelesaikan konflik dan memberikan solusi atas persoalan masyarakat.

Harus Bergerak dari Ritual ke Solusi

Sudah saatnya masyarakat menyadari bahwa masjid bukan hanya bangunan suci untuk salat. Masjid hari ini harus menjadi pusat perubahan dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam konteks kemerdekaan, masjid harus berperan aktif menyejahterakan umat, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga sosial, ekonomi, dan pendidikan.

Masjid yang baik adalah masjid yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya. Seperti program pelayanan kesehatan, pembinaan remaja, pelatihan wirausaha, santunan kemanusiaan, bahkan edukasi digital dan literasi media.

Visi dan Misi Masjid Harus Jelas

Terlalu banyak masjid dibangun megah, tetapi kosong dari aktivitas yang bermakna. Takmir atau pengurus masjid harus memiliki visi dan misi yang jelas: apakah masjid hanya ingin menjadi tempat ibadah, atau juga ingin menjadi pusat peradaban sebagaimana masjid pada zaman Nabi?

Karena itu, program-program masjid harus berbasis manfaat, bukan sekadar kegiatan seremonial. Fokus utamanya adalah memberi solusi atas persoalan umat: kemiskinan, kebodohan, ketimpangan sosial, hingga krisis moral generasi muda.

Jangan Terpaku pada Dana dan Pembangunan Fisik 

Bukan berarti pembangunan masjid tidak penting, tetapi jangan sampai seluruh energi dan waktu hanya tersedot untuk penggalangan dana dan pembangunan fisik. Yang lebih penting daripada tembok adalah ruh dan aktivitas yang menghidupkan masjid itu sendiri.

Masjid yang sederhana tetapi aktif dan produktif akan jauh lebih bermanfaat daripada masjid megah yang sepi kegiatan.

Masjid Harus Melek Teknologi dan Mengikuti Zaman

Iklan Landscape UM SURABAYA

Di era digital ini, pengurus masjid harus melek teknologi. Media sosial, situs web, bahkan aplikasi bisa digunakan sebagai sarana dakwah dan syiar.

Ceramah bisa disiarkan langsung, pengumuman program bisa dibagikan lewat grup digital, dan interaksi dengan jamaah bisa dibangun melalui platform daring.

Tak kalah penting, metode dakwah juga harus adaptif. Jika anak muda lebih senang konten singkat dan visual, maka gunakan media itu. Jangan terpaku pada ceramah panjang yang monoton dan tidak relevan dengan isu kekinian.

Libatkan Generasi Muda: Energi, Kreativitas, dan Harapan

Masjid tidak boleh dijauhkan dari generasi muda. Justru sebaliknya, anak muda harus dilibatkan aktif dalam program-program masjid. Mereka memiliki kreativitas, energi, serta pemahaman teknologi yang dapat menjadi jembatan antara masjid dan masyarakat digital saat ini.

Membentuk komunitas pemuda masjid, pelatihan kreatif digital, hingga kajian tematik kekinian bisa menjadi cara efektif merangkul generasi penerus bangsa.

Allah Memuliakan Orang yang Memakmurkan Masjid

Allah SWT  telah menegaskan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

Rasulullah saw juga bersabda:

“Barang siapa membangun masjid karena Allah, walau hanya sebesar sarang burung atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah)

Ayat dan hadis ini menjadi pengingat bahwa memakmurkan masjid bukan hanya tugas mulia, tetapi juga jalan menuju kemuliaan dan balasan dari Allah.

Saatnya Kita Bergerak!

Jangan hanya jadi penonton. Mari ambil bagian dalam memakmurkan masjid—dengan ilmu, tenaga, ide, atau bahkan sekadar kehadiran yang rutin. Jadilah penggerak, bukan sekadar pengamat.

Bangsa ini butuh masjid yang hidup. Umat ini butuh masjid yang peduli. Dan masjid yang kuat hanya bisa terwujud dengan peran kita semua.

Dirgahayu RI ke-80!
Dari masjid, kita bangun kembali peradaban. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu