Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mereka yang Diringankan Kuburnya karena Al-Qur’an

Iklan Landscape Smamda
Mereka yang Diringankan Kuburnya karena Al-Qur’an
Foto: Pexels
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Syafaat di alam barzakh terutama berasal dari amal baik seseorang yang terus memberikan manfaat setelah kematiannya, seperti sedekah, membaca Al-Qur’an, salat lima waktu, dan berbakti kepada orang tua.

Amal-amal ini berfungsi sebagai “penolong” atau “pelindung” yang memberikan cahaya, menaungi dari siksa, dan menjadi kabar gembira bagi ruh di alam kubur.

Pada tulisan ini fokus di sajian bahwa Alquran menjadi penolong di alam barzakh. Berikut hadis yang mengabarkan tentang itu.

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ”

“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” (HR. Muslim).

Al-Qur’an akan menjadi syafaat di hari Kiamat dalam bentuk sosok indah yang membela orang yang membacanya di dunia.

Sosok ini akan melindungi dari siksa kubur, menjawab pertanyaan malaikat, dan memastikan pembacanya tidak mengalami kesulitan setelah kematian.

Al-Qur’an yang diamalkan akan menjadi pelindung dan teman setia di alam kubur, memberikan pertolongan bahkan di akhirat kelak.

Generasi terbaik dalam membaca Al-Qur’an adalah generasi sahabat Nabi Muhammad SAW, karena mereka adalah generasi yang tumbuh di bawah naungan Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup.

Selain para sahabat, Yusuf Qardhawi menyebutkan “generasi Qur’ani” sebagai generasi ideal yang tidak hanya membaca, tetapi juga menghafal, mengamalkan, dan mendakwahkan Al-Qur’an.

Generasi Sahabat Nabi

Menghidupi Al-Qur’an: Para sahabat tidak hanya membaca, tetapi benar-benar menghayati dan menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan dalam kehidupan sehari-hari, mengingatkan mereka kepada Allah dan memahami petunjuk-Nya.

Teladan dari Rasulullah: Mereka mencontoh langsung cara Nabi Muhammad saw membaca Al-Qur’an, yaitu dengan tenang, jelas, dan penuh penghayatan, sehingga bukan hanya sekadar suara indah yang penting, tetapi juga kehadiran hati.

Sahabat seperti Abu Musa Al-Asy’ari memiliki suara yang sangat merdu hingga membuat Rasulullah SAW terharu dan bahkan menunda salat untuk mendengarkannya. Ia juga diutus untuk memimpin shalat dan membimbing sahabat lainnya.

Generasi yang diridhai Allah adalah mereka orang-orang semangat membaca Al Quran dan menjadwal diri untuk baca Al-Qur’an.

*عَنْ أَبِى مُوسَى رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى لأَعْرِفُ أَصْوَاتَ رُفْقَةِ الأَشْعَرِيِّينَ بِالْقُرْآنِ حِينَ يَدْخُلُونَ بِاللَّيْلِ وَأَعْرِفُ مَنَازِلَهُمْ مِنْ أَصْوَاتِهِمْ بِالْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ وَإِنْ كُنْتُ لَمْ أَرَ مَنَازِلَهُمْ حِينَ نَزَلُوا بِالنَّهَار

“Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suara kelompok orang-orang keturunan Asy’ary dengan bacaan Al Quran, jika mereka memasuki waktu malam dan aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka membaca Al Quran pada waktu malam, meskipun sebenarnya aku belum melihat rumah-rumah mereka ketika mereka berdiam (disana) pada siang hari…” (HR. Muslim).

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu