Meskipun sedang menikmati masa liburan selama 20 hari di rumah, para santri Ponpes Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur tetap menjalankan aktivitas mengaji. Kegiatan tersebut dipantau secara daring melalui grup WhatsApp masing-masing kelas selama masa libur yang berlangsung pada 9–29 Maret 2026.
Melalui sistem tersebut, para santri diminta mengirimkan rekaman bacaan Al-Qur’an sebagai bentuk laporan kegiatan selama berada di rumah. Dengan cara ini, aktivitas ibadah para santri tetap terpantau oleh pihak sekolah dan wali kelas.
Kepala sekolah SMPM 12 Paciran, Aminuddin M.Pd., membenarkan adanya tugas tersebut. Ia menyampaikan bahwa program ini berlaku untuk seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Ponpes Al-Ishlah.
“Ini merupakan keputusan bersama dari tiga kepala lembaga, yaitu SMPM 12 Paciran, Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustha (MDTW) Al-Ishlah, dan MA Al-Ishlah Sendangagung. Aturan ini berlaku sejak dimulainya liburan hingga selesai masa liburan,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Selasa (10/3/2026).
Santri Kirim Rekaman Bacaan Al-Qur’an
Aminuddin yang juga alumnus SMPM 12 Paciran tahun 1990 menjelaskan bahwa mekanisme pelaksanaan tugas ini dikoordinasikan oleh masing-masing wali kelas. Para santri diwajibkan mengirimkan rekaman bacaan Al-Qur’an secara berkala selama masa liburan.
Beberapa ketentuan yang harus dipatuhi santri dalam pelaksanaan tugas tersebut antara lain:
1. Panjang bacaan minimal satu halaman.
2. Ayat yang dibaca menyesuaikan dengan capaian bacaan masing-masing siswa.
3. Rekaman suara dikirim ke grup WhatsApp kelas.
4. Rekaman harus mencantumkan nama siswa, nomor juz, dan nomor halaman.
5. Selama masa liburan santri wajib mengirimkan 10 rekaman, dengan ketentuan satu hari satu rekaman dan tidak boleh dirapel.
6. Jika tidak dapat diselesaikan selama bulan Ramadan karena uzur, maka tugas dapat dilanjutkan setelah Hari Raya dengan batas akhir 28 Maret 2026.
Menurut Aminuddin, program ini bertujuan menjaga konsistensi santri dalam membaca Al-Qur’an meskipun sedang menjalani masa liburan di rumah.
“Ini semua demi terjaganya istiqamah santri dalam membaca Al-Qur’an selama liburan. Dengan cara ini kegiatan santri tetap terpantau dan wali kelas dapat bersinergi dengan wali santri,” imbuh ayah tiga anak tersebut.
Liburan Tetap Diisi Kegiatan Positif
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPM 12 Paciran, Titin Yuliana, S.P., menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan bentuk ketidakpercayaan kepada para siswa.
Menurutnya, program tersebut justru menjadi upaya untuk tetap menghadirkan aktivitas yang positif dan terarah bagi santri selama masa liburan Ramadan dan Idul Fitri.
“Menurut saya pribadi, kegiatan ini bukan karena kurang percaya kepada siswa. Justru sebaliknya, ini sebagai bentuk ikhtiar agar anak-anak tetap memiliki aktivitas positif selama liburan Ramadan dan Hari Raya,” ujarnya.
Ia berharap waktu liburan para santri tetap terisi dengan kegiatan yang bermanfaat, baik dalam bentuk ibadah maupun pembiasaan kegiatan baik di rumah.
Tiga Lembaga Sepakat Bersinergi
Kepala MDTW Al-Ishlah, Abdul Kholiq, S.Pd., serta Kepala MA Al-Ishlah, M. Arromuharmuzi, M.Pd.I., juga membenarkan adanya program pemantauan kegiatan santri selama masa libur tersebut.
Keduanya menyatakan dukungan terhadap kebijakan yang telah disepakati bersama oleh tiga pimpinan lembaga pendidikan di lingkungan Ponpes Al-Ishlah.
Menurut Abdul Kholiq, program ini tidak hanya bertujuan menjaga kebiasaan mengaji para santri, tetapi juga memperkuat komunikasi antara pihak sekolah dengan wali santri.
“Semoga kita juga lebih bisa memantau santri, membangun kerja sama dengan wali santri, serta mendukung pembiasaan mengaji. Selain itu, ini juga menjadi edukasi bagi santri bahwa ponsel dapat dimanfaatkan sebagai alat penunjang belajar, bukan hanya untuk bermain gim,” ujarnya.
Dengan program tersebut, pihak Ponpes Al-Ishlah berharap para santri tetap menjaga kebiasaan membaca Al-Qur’an sekaligus memanfaatkan teknologi secara positif selama masa liburan Ramadan.






0 Tanggapan
Empty Comments