Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Milad ke-113 Muhammadiyah: Komitmen Nyata Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Iklan Landscape Smamda
Milad ke-113 Muhammadiyah: Komitmen Nyata Memajukan Kesejahteraan Bangsa
Alfain Jalaluddin Ramadlan. (Dok. Pribadi/PWMU.CO)
Oleh : Alfain Jalaluddin Ramadlan Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua PC IMM Lamongan Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman, Ketua Bidang Pustaka dan Literasi Kwarwil HW Jawa Timur, dan Pengajar Ponpes Al Mizan Muhammadiyah Lamongan

Milad ke-113 Muhammadiyah yang diperingati pada 18 November 2025 mengangkat tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.” Tema ini lahir bukan dari ruang kosong, melainkan dari rekam jejak historis Muhammadiyah yang telah lebih dari satu abad menghadirkan pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi yang nyata di tengah masyarakat Indonesia.

Inilah momentum untuk melihat kembali kontribusi Muhammadiyah berdasarkan data dan fakta yang dapat diukur, bukan sekadar narasi normatif.

Sejak awal berdirinya pada 1912, Muhammadiyah memilih jalur dakwah melalui amal nyata, bukan hanya retorika. Pilihan tersebut tercermin jelas dalam sektor pendidikan.

Data resmi Muhammadiyah menunjukkan bahwa pada 2025, persyarikatan ini mengelola lebih dari 5.400 sekolah dan madrasah dari jenjang dasar hingga menengah. Ini menjadikan Muhammadiyah sebagai salah satu jaringan pendidikan swasta terbesar di Asia Tenggara.

Tidak hanya itu, Muhammadiyah juga menaungi 174 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Artinya, hampir setiap provinsi di Indonesia memiliki kampus Muhammadiyah yang aktif melahirkan puluhan ribu sarjana setiap tahun.

Kontribusi pendidikan sebesar ini memberi dampak langsung bagi kesejahteraan bangsa. Data Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa wilayah dengan akses pendidikan lebih baik cenderung memiliki peningkatan kualitas ekonomi dan indeks pembangunan manusia (IPM).

Dalam konteks itu, sekolah-sekolah Muhammadiyah sering menjadi satu-satunya lembaga pendidikan bermutu di daerah terpencil. Banyak desa dan kecamatan yang mengalami mobilitas sosial karena hadirnya sekolah Muhammadiyah; melahirkan guru, tenaga kesehatan, pengusaha muda, hingga aparatur negara.

Selain pendidikan, sektor kesehatan menjadi bukti signifikan peran Muhammadiyah. Melalui Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU), Muhammadiyah kini mengelola sekitar 123 rumah sakit dan lebih dari 500 klinik layanan kesehatan (klinik pratama, BKIA, balai pengobatan, klinik bersalin, dan sebagainya).

Dengan skala tersebut, Muhammadiyah merupakan jaringan penyelenggara layanan kesehatan nonpemerintah terbesar di Indonesia.

Bukti peran strategis ini terlihat saat pandemi Covid-19. Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) tercatat: melibatkan 82 rumah sakit rujukan, menyalurkan lebih dari 1,2 juta paket bantuan kepada masyarakat, melakukan edukasi kesehatan di lebih dari 500 titik komunitas, dan menjalankan program vaksinasi bekerja sama dengan Kemenkes dan lembaga internasional.

Komitmen tersebut membuat WHO, UNICEF, dan berbagai lembaga dunia mengakui Muhammadiyah sebagai mitra strategis dalam penanganan kesehatan dan kebencanaan.

Di bidang ekonomi, Muhammadiyah juga menghadirkan bukti kerja nyata melalui Baitul  Tamwil Muhammadiyah (BTM) dan koperasi-koperasi syariah yang tersebar di berbagai daerah. Hingga 2024, jaringan BTM Muhammadiyah mencapai lebih dari 300 unit dengan total pembiayaan yang terus meningkat setiap tahun.

Lembaga ini memfasilitasi modal usaha bagi UMKM, petani, nelayan, serta pedagang mikro yang kerap kesulitan mengakses perbankan konvensional. Peran ini berkontribusi pada pengurangan ketergantungan masyarakat terhadap rentenir dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif.

Sementara itu, Lazismu sebagai lembaga pengelola zakat Muhammadiyah menjadi bukti lain kontribusi sosial yang terukur. Pada 2023, Lazismu berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp 1,9 triliun dan meningkat menjadi lebih dari Rp 2 triliun pada 2024. Dana tersebut disalurkan untuk program ekonomi produktif, beasiswa pendidikan, layanan kesehatan, penanganan bencana nasional, pemberdayaan difabel, dan program pengentasan kemiskinan berbasis komunitas.

Dari data penyaluran Lazismu, lebih dari 5 juta jiwa menerima manfaat setiap tahunnya.

Bukan hanya itu, kontribusi Muhammadiyah juga terlihat dari kiprahnya dalam diplomasi kemanusiaan global. Melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Indonesia kerap diwakili dalam sejumlah misi bantuan internasional, termasuk ke Turki, Suriah, Palestina, Nepal, dan Filipina.

Eksistensi global ini membuat Muhammadiyah dipandang sebagai organisasi moderat yang konsisten membawa misi perdamaian dan kemanusiaan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tantangan Kesejahteraan Bangsa

Namun, Milad ke-113 adalah momentum untuk mengingatkan diri bahwa tantangan kesejahteraan bangsa kini semakin kompleks. Kesenjangan digital, pengangguran muda, perubahan iklim, dan penetrasi budaya global menuntut Muhammadiyah untuk semakin adaptif.

Pendidikan harus menyesuaikan diri dengan transformasi teknologi; rumah sakit harus memperkuat digitalisasi; BTM harus bersaing dengan fintech; dan gerakan sosial harus lebih struktural, bukan hanya karitatif.

Dengan modal amal usaha yang kuat, jaringan kader pendidikan tinggi, dan reputasi internasional yang semakin baik, Muhammadiyah memiliki kapasitas untuk menjadi lokomotif peradaban dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa.

Tema Milad ke-113 ini bukan sekadar slogan, melainkan mandat sejarah yang harus terus dihidupi: bahwa dakwah bukan hanya soal kata-kata, tetapi tentang menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi umat dan bangsa.

Dengan data, bukti, dan sejarah panjang tersebut, jelas bahwa kontribusi Muhammadiyah terhadap kesejahteraan bangsa bukan sekadar wacana, melainkan fakta yang berdiri kokoh. Dan pada usia 113 tahun, Muhammadiyah kembali menegaskan komitmennya: menjadi pelayan kemanusiaan, pembawa pencerahan, dan penggerak kemajuan Indonesia.

Harapan untuk Muhammadiyah ke Depan

Melihat tantangan zaman yang kian kompleks, harapan bagi Muhammadiyah ke depan adalah agar persyarikatan ini tidak hanya mempertahankan capaian besarnya, tetapi juga melakukan lompatan lebih jauh. Muhammadiyah diharapkan mampu:

Satu, Melahirkan pusat inovasi pendidikan dan teknologi, terutama melalui PTMA, sehingga kader bangsa tidak hanya religius tetapi juga menjadi penggerak kemajuan industri, sains, dan digitalisasi.

Dua, Memperkuat kemandirian ekonomi umat, dengan memperbesar skala BTM, koperasi syariah, serta ekosistem usaha UMKM Muhammadiyah yang terintegrasi dari pusat hingga ranting.

Tiga, Memperluas layanan kesehatan berbasis teknologi, termasuk telemedicine dan rekam medis digital, agar pelayanan kesehatan Muhammadiyah tetap kompetitif dan ramah masyarakat.

Empat, Meneguhkan dakwah berkemajuan yang ramah terhadap generasi muda, melalui pendekatan kreatif, dialogis, dan berbasis realita sosial sehingga mampu menjawab kegelisahan dan kebutuhan anak muda Indonesia.

Lima, Meningkatkan peran global, khususnya dalam diplomasi kemanusiaan, perdamaian, dan isu-isu dunia Islam, agar Muhammadiyah semakin dikenal sebagai kekuatan moral dunia.

Pada akhirnya, harapan terbesar untuk Muhammadiyah adalah agar tetap menjadi rumah besar yang teduh bagi umat, sekaligus motor perubahan bagi bangsa. Muhammadiyah harus terus hadir sebagai gerakan pencerahan yang membawa nilai, ilmu, dan solusi bagi kemajuan Indonesia di masa depan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡