
PWMU.CO – Suasana berbeda tampak di Lapangan AR Fakhruddin Square SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A, Rabu (16/7/2025). Biasanya digunakan untuk kegiatan olahraga dan upacara, hari itu lapangan disulap menjadi panggung sederhana tempat digelarnya mini drama edukatif bertema “Cegah Perundungan”. Pertunjukan ini menarik perhatian para murid yang menyaksikannya dengan penuh antusias.
Mini drama tersebut merupakan bagian dari program pembinaan karakter murid yang tahun ini difokuskan pada isu anti-perundungan. Tiga guru dari tim Bimbingan Konseling Assyamsu Sirojan Ikhroja SPsi (Bu Sissy), Devi Anggraini SPsi, dan Alfian Mufthi Yafi SPsi berperan langsung dalam pementasan tersebut. Mereka menyampaikan pesan moral melalui alur cerita yang dekat dengan keseharian anak-anak.
Dalam cerita, Bu Sissy tampil sebagai guru kelas yang sabar dan bijaksana. Sementara Bu Devi dan Pak Alfian berperan sebagai dua murid yang saling bersaing dan sering saling mengejek. Konflik bermula dari perbedaan gaya belajar dan kebiasaan, lalu berkembang menjadi tindakan perundungan secara verbal—mulai dari mengejek nama, membandingkan nilai, hingga membuat lelucon yang merendahkan. Suasana hening menyelimuti lapangan ketika adegan menunjukkan salah satu tokoh menangis karena merasa dikucilkan.
Situasi tersebut kemudian diredakan oleh Bu Sissy yang hadir dalam cerita sebagai sosok guru yang mendekati murid dengan dialog dan pengertian. Ia tidak memarahi, tetapi mengajak berdiskusi dan memahami persoalan secara bijak.
“Anak-anak, kita semua berbeda. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang perlu waktu lebih lama. Tapi semua punya kelebihan. Mengolok-olok teman, bahkan kalau hanya bercanda, bisa melukai hati mereka. Itu namanya perundungan. Jangan biarkan teman kita sedih karena kata-kata kita. Kita harus saling menguatkan, bukan menjatuhkan,” ucap Bu Sissy dalam naskah drama.
Penampilan yang berlangsung sekitar 15 menit ini ditutup dengan pelukan antara kedua tokoh yang sebelumnya berseteru. Seluruh murid diajak bersama-sama meneriakkan slogan, “Stop Perundungan, Jadilah Teman yang Menyenangkan!” sebagai bentuk komitmen bersama.

Setelah pertunjukan, Koordinator Bimbingan Konseling SD Mugres Kampus A, Alfian Mufthi Yafi SPsi, menjelaskan bahwa drama dipilih sebagai metode pembelajaran karena mampu menyentuh sisi emosional anak secara langsung.
“Kami ingin mengajak anak-anak memahami bahwa bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik. Kata-kata, sindiran, atau mengucilkan teman juga termasuk bentuk perundungan. Lewat drama, mereka bisa melihat langsung akibatnya, dan semoga tumbuh rasa empati,” ujar Alfian.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini akan menjadi agenda rutin yang dikemas dalam berbagai metode, seperti bercerita, roleplay, diskusi kelompok, dan sesi konseling tematik. Program ini sejalan dengan visi sekolah dalam membentuk karakter murid yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara sosial dan emosional.
Respons murid terhadap kegiatan ini pun positif. Beberapa murid secara spontan berdialog dengan guru kelas setelah pertunjukan, menanyakan bagaimana sebaiknya bersikap jika mereka pernah mengalami atau melakukan perundungan. Guru-guru menyambut respons itu dengan pendekatan dialogis dan terbuka.
Alfian berharap, kegiatan seperti ini bisa terus dikembangkan. Menurutnya, pendidikan karakter tidak harus disampaikan melalui ceramah, tetapi bisa dibawakan secara kreatif dan menyentuh. “Harapannya, semakin banyak murid yang memahami pentingnya menghargai perbedaan dan menjalin persahabatan yang sehat,” tuturnya. (*)
Penulis Abizar Purnama Editor M Tanwirul Huda






0 Tanggapan
Empty Comments