
PWMU.CO – Di tengah hangatnya senja Batam yang berselimut semangat perubahan, kabar menggembirakan datang dari ajang Batam Autism Conference 2025, sebuah konferensi tingkat Internasional, yang digelar pada Ahad (29/6/2025) di Harmoni One Hotel & Convention Centre.
Tim Home Care & Terapi Inklusi SD Mumtaz berhasil meraih Juara 1 Scientific Competition tingkat Internasional, mengungguli berbagai institusi nasional yang hadir membawa misi kemanusiaan untuk anak-anak dengan autisme.
Dipimpin oleh Heni Dwi Utami SSos SPd, tim ini mempresentasikan karya ilmiah dan praktik terbaik bertajuk “A Holistic Educational Model for Children with Autism: Integrating Psychological, Clinical, and Qur’anic Interventions in Inclusive Islamic Schools.” Karya yang menjadi sorotan itu merupakan hasil kolaborasi bersama Tri Utami SPsi dan Meylinda SSos, dua kolega yang juga aktif mengembangkan layanan inklusif di SD Mumtaz.
Dalam sesi presentasi yang memukau, disampaikan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, Heni berdiri dengan percaya diri di hadapan para juri internasional, menyampaikan sebuah pesan kuat:
“Inclusive education has become a vital framework for ensuring equitable learning opportunities for all children, including those with Autism Spectrum Disorder (ASD)… In the context of Islamic schools, the integration of spiritual elements into educational and therapeutic models offers a unique potential to strengthen children’s emotional and behavioral development.”
Suasana ruangan mendadak hening dan menyimak. Kata-kata yang tak hanya disampaikan, tapi juga dihayati. Di hadapan juri, Heni menjelaskan tantangan nyata di sekolah Islam: keterbatasan adaptasi kurikulum, dukungan terapi yang minim, serta kurangnya intervensi yang kontekstual dengan nilai-nilai Islami. Dari sinilah, riset dan inovasi model SD Mumtaz dimulai.
Sekolah, Rumah, dan Langit
Penelitian ini dilakukan di SD Muhammadiyah 1&2 (SD Mumtaz) Sidoarjo, sekolah Islam inklusif terbesar di Jawa Timur. Dari 1.213 siswa, terdapat 98 siswa inklusi, dan 26 di antaranya terdiagnosis ASD. Data ini menjadi dasar kuat bagi tim untuk mengembangkan sebuah ekosistem pendidikan yang menyentuh tiga dimensi: psikologis, klinis, dan spiritual Qurani.
Model ini menggabungkan:
- Strategi psikologis yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap anak,
- Terapi klinis yang mendukung regulasi emosi dan perilaku,
- Intervensi Qurani seperti manual tracing, symptoms touch, dan pengulangan Doa Syifa sebagai bentuk sugesti positif dan penguatan spiritual.
“Spiritualitas dalam model ini bukanlah pemanis di akhir sesi,” ujar Heni saat menjawab pertanyaan juri, “tetapi jantung yang berdetak dalam setiap strategi pembelajaran dan terapi.”

Riset yang Berbicara
Menggunakan pendekatan mixed-methods sequential explanatory, tim menyusun model berbasis data kuantitatif dan kualitatif. Sebanyak 20 siswa terlibat dalam pengukuran dengan skala BECS, sedangkan 6 siswa diamati secara mendalam melalui jurnal harian, wawancara, dan refleksi guru serta orangtua.
Hasilnya
- Terjadi penurunan signifikan tantrum dan peningkatan regulasi emosi,
- Guru menyaksikan siswa menjadi lebih fokus, kooperatif, bahkan menunjukkan empati,
- Orangtua merasakan anak lebih tenang, rutin dalam ibadah, dan lebih stabil emosinya.
Mengubah Dunia, Dimulai dari Satu Anak
Konferensi ini mengangkat tema “Creating Decisive Change Through Positive Action.” Bagi Heni dan timnya, perubahan itu dimulai dari ruang kelas yang memuliakan setiap perbedaan dan dari lantunan doa yang dibaca dengan khusyuk bersama anak-anak spesial
Dr Mohd Adnan Bin Sulaiman, Direktur Penawar Hospital Group Malaysia, menyampaikan apresiasi penuh, “This is not just a model. It is a perfect blend of science and soul. I hope this paper becomes a regional reference for inclusive Islamic schools.”
Kemenangan ini menjadi pengingat: ketika pendidikan menyentuh langit spiritual dan berpijak kuat pada ilmu pengetahuan, maka keajaiban akan menemukan jalannya. Selamat untuk SD Mumtaz, pelopor inklusi Islami yang tak sekadar mendidik, tapi juga memanusiakan. (*)
Penulis Umi Muzakki Editor M Tanwirul Huda






0 Tanggapan
Empty Comments