
PWMU.CO – Istilah ngopi saat ini tidak harus minum kopi di warung atau atau kafe, arti ngopi lebih sering pada kegiatan ngobrol santai di waktu senggang, atau juga ngopi bermakna ngolah pikiran atau tukar fikiran, saling take and give dalam satu persoalan atau beberapa.
Hal ini pulalah yang dilakukan Ustadz Dawam atau Drs KH Muhammad Dawam Saleh, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur saat bertemu dengan pakar pendidikan, Dr Isa Iskandar SSi MPd di Kantor Sekretariat Ponpes Al-Ishlah, Sabtu (24/5/2025).
Kehadiran Pak Isa (biasa disapa demikian) di Ponpes dengan 2000 lebih santri ini merupakan rangkaian kegiatan sebagai pemateri di kawasan Paciran. Setelah sehari mengadakan Workshop Kurikulum Unggulan di Al-Ishlah, besoknya berencana menghadiri kegiatan Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Paciran, untuk itu Pak Isa bermalam di Ponpes Al-Ishlah.
Ditemani camilan, makanan ringan seperti kemplang khas Sendangagung, kacang rebus, rengginang, ada juga jahe hangat dan teh, bincang santai Ustadz Dawam sambil lesehan itu diikuti pula olehNyai Dra Hj Mutmainnah (istri Ustadz Dawam), Freti Fatmawati SE MPd, Gondo Waloyo, Azzam Musoffa Lc MIRKH, dan Muhammad Iqbal Lc.
Konsultasi Pendidikan
Kesempatan mahal ini dimanfaat oleh beberapa ustadz untuk curhat dan minta pendapat dari Pak Isa, konsultan pendidikan tentang program angket evaluasi liburan yang diadakan oleh staf pengasuhan.
“Setiap akhir semester staf mengedarkan angket evaluasi yang harus diisi oleh wali santri. Angket ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar dampak pendidikan non akademik di pondok terhadap kebiasaan santri ketika di rumah meliputi ibadah, akhlaq, tanggung jawab, gaya hidup dan lainnya,” ungkap Muhammad Iqbal Lc yang menjabat Kepala Staf Pengasuhan santri putra.
Ia menambahkan bahwa program ini baru ada mulai tahun ajaran 2024/2025 dan rencananya akan dirutinkan tiap libur semester. Sebagaimana di setiap akhir semester ada evaluasi hasil pendidikan yang sifatnya akademik, maka penting juga pondok melakukan evaluasi hasil pendidikan non akademik.
Pak Isa yang juga Ketua Forum Guru Muhammadiyah ini mengapresiasi dan mendukung karena memang sudah semestinya setiap capaian diukur dengan data, bukan hanya asumsi saja, dia juga menyarankan agar di angket itu ditambahkan kolom kritik dan saran untuk kemajuan pondok.
Selain itu, mantan Kepala Sekolah SMPM 12 Gresik ini juga menyarankan alangkah baiknya jika dibuat juga angket untuk menilai performa guru dari sudut pandang siswa, sehebat apapun seorang guru pasti punya kekurangan.
“Dengan adanya angket evaluasi guru, pondok atau sekolah bisa memetakan letak kekurangan setiap guru itu ada di bagian mana, sehingga di kemudian hari bisa dijadikan bahan untuk perbaikan,” tutur Isa. (*)
Penulis Gondo Waloyo Editor Amanat Solikah






0 Tanggapan
Empty Comments