Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya hadirkan kajian parenting yang menekankan makna cinta Al-Qur’an untuk anak maupun orang tua sebagai bentuk pendidikan bagi penerus generasi Islam.
Hal ini tersampaikan dalam agenda Halal Bihalal pada hari Sabtu (04/04/2026), yang terselenggara di Masjid Al-Mufidah.
Turut hadir seluruh wali murid dari jenjang kelas 1 hingga 6 dan wakil ketua PDM Surabaya, Muhammad Jemadi SAg MA MPd.
Silaturahim dan Cinta Al-Quran
Lebih lanjut, kajian dengan tema “Membangun Generasi Qur’ani yang mandiri dan Gemar Silaturahim” ini terhadiri dengan penuh antusias.
Norma Setyaningrum MPd dalam sambutannya sebagai Kepala Sekolah menyampaikan bahwa melalui silaturahim sebagai bentuk nyata cinta Al-Quran.
Sebab, silaturahim juga bagian dari tuntunan Islam yang jelas tercantum dalam Al-Qur’an. Sekaligus jalan dakwah untuk menyampaikan kebaikan, maka sebarkan dan saling mengajak sangat dianjurkan.
Selanjutnya, Norma menambahkan jika silaturahim dalam halal bihalal identik saling memaafkan. Namun melalui agenda ini yang menghadirkan orang tua menjadi momen penting untuk memberikan edukasi terkait membangun karakter cinta Al-Qur’an.
“Umumnya, cinta Al-Qur’an dikenal sebagai ahli membaca dan terus membaca. Namun ada sisi yang terlewatkan bahwa karakter suka Al-Qur’an juga perlu menerapkan kandungan yang ada di dalamnya, meski hanya 1 ayat saja” tambahnya.
Peran Sentral Orang Tua
Selain itu, Norma menjelaskan bahwa setiap insan yang berkarakter baik, itu berawal dari didikan orangtua. Terutama dilandasi dengan nilai keislaman.
Demikian dengan Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk untuk mengarahkan manusia, kemana langkah yang akan dituju.
Makna langkah ini bukan berarti selalu jalan terus menerus dengan angan-angan melalui jalan yang besar. Justru langkah kecil dimulai pembiasaan membaca Al-Qur’an, sehingga menjadi jembatan kecil yang berdampak besar.
Oleh karena itu, dalam membangun cinta Al-qur’an pada anak-anak, penting melibatkan rasa ikhlas. Karena setiap ikhtiar berupa mendengarkan, membaca, menghafal, bahkan memahami maknanya, dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemudian, amal yang dilakukan boleh jadi menjadi ladang amal jariyah. Selain itu, dengan pembiasan dekat dengan Al-Qur’an juga akan terbentuk karakter sesuai apa yang dipegang, di dekatnya, dan dicintai yakni Al-Qur’an.





0 Tanggapan
Empty Comments