Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2026 bukan sekadar perayaan profesi kewartawanan. Bagi Muhammadiyah, khususnya di Jawa Timur, HPN harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk melakukan refleksi dan lompatan gerakan.
Di tengah era digital yang ditandai dengan banjir informasi, disrupsi media, dan pertarungan narasi di ruang publik, sudah saatnya Muhammadiyah Jawa Timur meneguhkan satu agenda besar: melahirkan 1.000 jurnalis Muhammadiyah yang aktif, berintegritas, dan berkemajuan.
Gagasan 1.000 jurnalis bukan sekadar angka simbolik. Ia adalah kebutuhan objektif. Muhammadiyah Jawa Timur merupakan salah satu wilayah dengan kekuatan struktural dan kultural terbesar. Puluhan bahkan ratusan media digital telah tumbuh dan berkembang, baik yang dikelola oleh PWM, PDM, Perguruan Tinggi Muhammadiyah–’Aisyiyah (PTMA), Organisasi Otonom (Ortom), lembaga pendidikan, hingga media komunitas kader Muhammadiyah yang lahir secara swadaya. Tanpa dukungan sumber daya jurnalistik yang memadai, potensi besar ini berisiko tidak terkelola secara optimal.
Dalam dua dekade terakhir, wajah media Muhammadiyah di Jawa Timur mengalami transformasi signifikan. Media cetak mungkin menyusut, tetapi media digital justru tumbuh pesat. Website persyarikatan, kanal berita kampus, media Ortom, media sekolah, hingga akun media sosial komunitas kader bermunculan hampir di setiap daerah. Ini adalah aset besar yang jarang dimiliki organisasi kemasyarakatan lain.
Era Digital dan Pertarungan Narasi
Namun, keberlimpahan media tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas dan kontinuitas konten. Banyak media hidup dari semangat voluntarisme, tetapi rapuh dari sisi manajemen redaksi dan regenerasi penulis. Di sinilah pentingnya kehadiran jurnalis Muhammadiyah yang terlatih, konsisten, dan memiliki kesadaran ideologis. Bukan sekadar admin media sosial, tetapi jurnalis yang memahami etika, verifikasi, narasi, dan misi dakwah pencerahan.
HPN 2026 berlangsung di tengah era digital yang tidak netral. Algoritma media sosial, logika viralitas, dan ekonomi klik sering kali meminggirkan nilai kebenaran dan kedalaman. Jika Muhammadiyah tidak menyiapkan kader jurnalis yang kuat, maka ruang publik digital akan diisi oleh narasi yang dangkal, provokatif, bahkan menyesatkan.
Kader jurnalis Muhammadiyah harus mengambil peran signifikan dalam pertarungan narasi ini. Mereka bukan hanya peliput kegiatan, tetapi produsen makna. Mereka bertugas menyuarakan Islam berkemajuan, memperkuat literasi publik, serta menghadirkan perspektif keadilan, kebangsaan, dan kemanusiaan dalam setiap isu. Dalam konteks ini, jurnalisme Muhammadiyah adalah bagian dari jihad intelektual dan sosial.
Mengapa 1.000 Jurnalis?
Angka 1.000 mencerminkan skala dan sebaran Muhammadiyah Jawa Timur. Jika setiap PDM memiliki minimal 20–30 jurnalis aktif, ditambah jurnalis di PTMA, Ortom, sekolah, dan komunitas kader, maka angka tersebut sangat realistis. Yang dibutuhkan bukan memulai dari nol, tetapi mengonsolidasikan potensi yang sudah ada, memberi pengakuan, pelatihan, dan ekosistem yang mendukung.
Jurnalis Muhammadiyah tidak harus semuanya bekerja di media arus utama. Mereka bisa menjadi kontributor, penulis opini, pewarta kegiatan, kreator konten edukatif, hingga editor media persyarikatan. Yang terpenting adalah adanya kesadaran bersama bahwa menulis, meliput, dan menyebarkan informasi adalah bagian dari amal usaha dan pengabdian.
Menuju Gerakan Jurnalisme Muhammadiyah Jatim
Perguruan Tinggi Muhammadiyah–’Aisyiyah di Jawa Timur memiliki peran strategis dalam mewujudkan agenda ini. Kampus adalah ruang subur kaderisasi jurnalis muda. Lembaga pers mahasiswa, UKM jurnalistik, dan media kampus harus diintegrasikan dengan ekosistem media Muhammadiyah yang lebih luas.
Demikian pula Organisasi Otonom seperti Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, IPM, IMM, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Tapak Suci, Hizbul Wathan. Ortom adalah gudang kader kreatif yang akrab dengan dunia digital. Dengan pendampingan yang tepat, mereka dapat menjadi garda depan jurnalisme Muhammadiyah di era media baru.
Momentum HPN 2026 seharusnya tidak berhenti pada wacana. Ia perlu diterjemahkan menjadi gerakan nyata : pelatihan jurnalistik berjenjang, sekolah jurnalisme Muhammadiyah, forum jurnalis persyarikatan, hingga sistem apresiasi bagi kader yang konsisten berkarya. Lebih dari itu, diperlukan keberanian PWM Jawa Timur untuk menjadikan jurnalisme sebagai agenda strategis dakwah dan perkaderan.
Hari Pers Nasional 2026 adalah panggilan zaman bagi Muhammadiyah Jawa Timur. Di tengah derasnya arus informasi dan krisis kepercayaan publik, Muhammadiyah tidak boleh absen. Dengan 1.000 jurnalis yang tercerahkan dan mencerahkan, Muhammadiyah Jatim bukan hanya hadir di ruang publik, tetapi memimpin arah percakapan.
Inilah saatnya para kader jurnalis Muhammadiyah mengambil peran signifikan—menjadi pena pencerahan, penjaga akal sehat, dan peneguh nilai Islam berkemajuan di era digital. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments