Keterampilan komunikasi digital menjadi bekal penting di era informasi saat ini. Menyadari hal tersebut, Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel Kota Surabaya menggelar Pelatihan Broadcasting dan Videografi pada Rabu (11/3/2026) sore.
Kegiatan yang berlangsung di Ahmad Dahlan Education Center (ADEC) lantai 6 SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) ini diikuti sekitar 60 peserta.
Mereka berasal dari berbagai unsur di lingkungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ngagel, mulai dari anggota ranting, takmir masjid, organisasi otonom (Ortom), hingga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dari jenjang TK Aisyiyah hingga SMA Muhammadiyah.
Pelatihan Broadcasting dan Videografi ini menghadirkan dua narasumber yang berpengalaman di bidang komunikasi dan media, yakni Didi Adhyaksa sebagai public speaker dan Asti Lukita, presenter dari Jawa Pos TV.
Pada sesi pertama, Didi Adhyaksa membagikan berbagai tips dan trik untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum. Dia menekankan pentingnya kepercayaan diri serta kemampuan membangun koneksi dengan audiens.
Menurutnya, seorang pembicara yang baik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mampu menghadirkan energi positif yang membuat audiens merasa terlibat.
“Berbicara di depan umum adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kuncinya adalah keberanian untuk mencoba, terus belajar, dan terbuka terhadap masukan,” ujarnya.
Suasana pelatihan pun berlangsung hidup. Para peserta tampak antusias mengikuti materi dan aktif mengajukan pertanyaan. Interaksi yang dinamis membuat sesi ini terasa lebih aplikatif dan mudah dipahami.
Selain mendapatkan teori, peserta juga berkesempatan mempraktikkan langsung kemampuan berbicara di depan publik.
Dari praktik tersebut, mereka memperoleh umpan balik langsung dari narasumber sehingga dapat memperbaiki teknik komunikasi yang dimiliki.
Teknik Tampil Percaya Diri di Depan Kamera
Memasuki sesi kedua, Asti Lukita membedah teknik berbicara di depan kamera agar tampil percaya diri dan komunikatif.
Dia menjelaskan bahwa di era digital saat ini, seorang guru tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi secara informatif, tetapi juga menarik secara visual.
“Di era audiovisual, kemampuan berbicara di depan kamera menjadi keterampilan penting, terutama bagi guru yang ingin menyampaikan materi pembelajaran secara kreatif,” jelasnya.
Asti kemudian membagikan tiga tips penting agar tidak merasa grogi ketika berbicara di depan kamera.
Pertama, membangun kedekatan dengan kamera. Ia menyarankan agar kamera dianggap sebagai teman berbicara, bukan benda mati yang menegangkan. Dengan cara ini, ekspresi wajah akan terlihat lebih santai dan natural.
Kedua, melakukan persiapan matang menggunakan cue card. Para guru dianjurkan menyiapkan naskah berupa poin-poin penting yang memuat unsur 5W + 1H agar alur pembicaraan tetap terstruktur dan informasi tersampaikan dengan lengkap.
Ketiga, latihan intensif. Asti menekankan pentingnya melatih teknik dasar seperti pengaturan pernapasan, kekuatan suara, artikulasi yang jelas, intonasi yang dinamis, hingga penguasaan gestur tubuh.
“Semua itu harus terus dilatih agar saat tampil di depan kamera terlihat alami dan meyakinkan,” tambahnya.
Praktik Menjadi Presenter Berita
Tidak hanya mendapatkan materi teori, para peserta juga diajak untuk langsung mempraktikkan ilmu yang telah dipelajari. Mereka diminta mencoba membacakan naskah hard news (berita lugas) dan soft news (berita ringan) layaknya presenter profesional.
Para guru dan kader Muhammadiyah terlihat antusias mengikuti sesi praktik ini. Beberapa peserta bahkan mencoba mengatur intonasi suara dan gestur tubuh seperti presenter televisi.
Pelatihan Broadcasting dan Videografi kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Banyak peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi mengenai berbagai kendala teknis saat tampil di depan kamera di sekolah masing-masing.
Melalui pelatihan broadcasting dan videografi ini, MPI PCM Ngagel berharap para kader dan guru Muhammadiyah semakin kreatif dalam mengemas materi pendidikan dan dakwah.
Dengan keterampilan broadcasting dan videografi yang lebih baik, pesan-pesan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai dakwah diharapkan dapat tersampaikan secara lebih efektif kepada siswa dan masyarakat di era digital yang semakin visual dan dinamis. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments