Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

MSI Jatim Angkat Peran ‘Aisyiyah dan Jawa Dwipa dalam Perjuangan Bahasa Nasional

Iklan Landscape Smamda
MSI Jatim Angkat Peran ‘Aisyiyah dan Jawa Dwipa dalam Perjuangan Bahasa Nasional
Salah satu slide pemaparan M. Ichsan. Foto: M.Ichsan/PWMU.CO
pwmu.co -

Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Wilayah Jawa Timur kembali menggelar diskusi sejarah bertema “Jawa Dwipa dan Aisyiyah dalam Memperjuangkan Bahasa Nasional”, Sabtu malam (1/11/2025). Kegiatan ini diadakan secara daring mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai melalui platform Zoom Meeting.

Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Dr. Samidi, S.S., M.A. dari Universitas Airlangga dan M. Ichsan Budi Prabowo, S.S., M.A. dari Museum Muhammadiyah Yogyakarta. Diskusi dipandu oleh Anis Bahtiyar, S.Hum. dari Masyarakat Penerbitan Naskah Nusantara, sementara Ainun Novaldi, M.Pd. dari SMA 4 Pamekasan bertugas sebagai host.

Peran organisasi perempuan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dalam perjuangan kebangsaan tidak hanya tampak pada bidang pendidikan dan sosial, tetapi juga pada ranah bahasa. Dalam forum diskusi bertajuk “Jawa Dwipa dan Aisyiyah dalam Memperjuangkan Bahasa Nasional” yang digelar Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Timur, M. Ichsan Budi Prabowo, S.S., M.A. dari Museum Muhammadiyah Yogyakarta menegaskan bahwa ‘Aisyiyah menjadi salah satu pelopor pembentukan kesadaran berbahasa Indonesia di masa kolonial.

Menurut Ichsan, bahasa bagi ‘Aisyiyah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol persamaan dan kemandirian. Ia menjelaskan, “Dalam berbagai majalah dan kegiatan pendidikannya, ‘Aisyiyah memilih menggunakan bahasa Melayu tinggi — bukan bahasa Belanda atau Jawa krama — sebagai pernyataan ideologis bahwa bangsa ini harus punya bahasa sendiri.”

Dalam makalahnya yang berjudul “Bahasa Ibu, Bahasa Bangsa: ‘Aisyiyah dalam Perjuangan Bahasa Indonesia di Masa Kolonial 1925–1942”, Ichsan menunjukkan bahwa sejak berdirinya tahun 1917, ‘Aisyiyahtelah menanamkan semangat nasionalisme melalui bahasa. Sekolah-sekolah ‘Aisyiyah di Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya menggunakan bahasa Melayu dalam pengajaran agar mudah diakses berbagai lapisan masyarakat.

Iklan Landscape UM SURABAYA

MSI Jatim Angkat Peran ‘Aisyiyah dan Jawa Dwipa dalam Perjuangan Bahasa Nasional
M.Ichsan saat pemparan dalam diskusi MSI Jatim. Foto: M.Ichsan/PWMU.CO

Kongres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta tahun 1931 menjadi momentum penting ketika para aktivis ‘Aisyiyah tampil sebagai pembicara menggunakan bahasa Indonesia. “Di tengah dominasi kolonial yang menempatkan bahasa Belanda sebagai simbol status sosial, langkah ‘Aisyiyah merupakan bentuk perlawanan kultural,” papar Ichsan.

Ia juga menekankan bahwa peran perempuan dalam sejarah bahasa Indonesia sering kali terabaikan. “Padahal, melalui kegiatan pengajaran, tabligh, dan majalah seperti Suara ‘Aisyiyah, para perempuan ini turut memperluas penggunaan bahasa nasional bahkan sebelum Sumpah Pemuda,” tambahnya.

Ichsan menutup dengan refleksi bahwa perjuangan ‘Aisyiyah dalam bahasa adalah perjuangan kesetaraan. “Bahasa Indonesia lahir dari ruang-ruang perempuan yang mengajarkan literasi, keimanan, dan kebangsaan secara bersamaan,” ujarnya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu