Upaya memperkuat pemahaman umat Islam terhadap sistem penanggalan yang lebih terintegrasi secara global terus dilakukan. Salah satunya melalui kajian tentang Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang digelar oleh SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya.
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung The Millennium Building (TMB) lantai 4 sekolah setempat pada Sabtu (14/3/2026). Kajian ini menghadirkan narasumber Drs. Jarot Iswanto, M.Pd.I, dari Divisi Hisab dan Falak Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya sistem kalender Islam yang dapat digunakan secara seragam oleh umat Islam di seluruh dunia.
Dalam paparannya, Jarot Iswanto menjelaskan bahwa transisi menuju sistem Kalender Hijriyah Global Tunggal merupakan bentuk nyata dari pemikiran global yang dikembangkan oleh Muhammadiyah.
Menurutnya, sistem kalender yang bersifat global diharapkan mampu memberikan kepastian waktu pelaksanaan ibadah umat Islam, mulai dari awal Ramadan, Idulfitri, hingga Iduladha.
Dia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 107 yang menegaskan bahwa diutusnya Rasulullah SAW adalah sebagai rahmat bagi semesta alam.
“Jika keputusan telah ditetapkan untuk kemaslahatan umat secara global, maka sudah semestinya umat mengikuti satu ketetapan yang dapat menyatukan,” jelas Jarot di hadapan para peserta kajian.
Jarot menegaskan bahwa gagasan kalender global bukan sekadar wacana organisasi, melainkan sebuah kebutuhan umat Islam di era globalisasi yang menuntut keseragaman sistem penanggalan.

Berbasis Ilmu Astronomi Modern
Secara ilmiah, Jarot menjelaskan bahwa Kalender Hijriyah Global Tunggal didasarkan pada prinsip astronomi modern yang memiliki tingkat presisi sangat tinggi dalam menghitung pergerakan benda langit.
Menurutnya, posisi bulan, matahari, dan bumi dapat dihitung secara akurat menggunakan metode astronomi modern sehingga memungkinkan pembuatan kalender prediktif yang dapat digunakan untuk jangka panjang.
“Ilmu astronomi modern memiliki presisi tinggi dalam menghitung posisi bulan, matahari, dan bumi. Ini menjadi dasar kuat untuk membuat kalender prediktif yang akurat hingga puluhan bahkan ratusan tahun ke depan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam sistem sinodis bulan yang objektif, satu bulan dalam kalender hijriyah hanya terdiri dari dua kemungkinan jumlah hari.
“Dalam satu siklus sinodis bulan, jumlah hari hanya mungkin 29 atau 30 hari. Tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih,” tegasnya.
Jarot juga menyoroti bahwa warga Muhammadiyah saat ini telah tersebar di berbagai negara. Oleh karena itu, diperlukan langkah diplomasi dan sosialisasi secara internasional agar konsep KHGT dapat diterima lebih luas oleh dunia Islam.
Beberapa langkah strategis yang dilakukan antara lain:
1. Membuka ruang dialog ilmiah dengan berbagai organisasi Islam dan negara-negara Muslim.
2. Memaksimalkan peran Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di sekitar 30 negara sebagai ujung tombak sosialisasi.
3. Mengkampanyekan KHGT dalam forum internasional seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dengan dukungan lembaga riset seperti Gulf Research Center.
Menurut Jarot, langkah tersebut penting agar upaya penyatuan kalender Islam tidak hanya berhenti pada tataran wacana nasional, tetapi juga mendapat pengakuan di tingkat global.
Kajian yang diikuti oleh guru, pengurus, dan masyarakat ini juga berlangsung interaktif. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan terkait berbagai persoalan yang selama ini muncul dalam penentuan awal bulan hijriyah.
Salah satunya disampaikan oleh Ustadz Djama’adi yang menanyakan mengenai perbedaan waktu perayaan hari raya di berbagai negara maupun organisasi Islam.
Menanggapi hal tersebut, Jarot menjelaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi melalui proses edukasi dan dialog ilmiah.
“Keyakinan tidak bisa diubah secara instan. Karena itu semua organisasi Islam perlu duduk bersama dalam diskusi agar kita bisa saling belajar dan menemukan titik temu,” tuturnya.
Sementara itu, Ustadzah Erfin menanyakan mengenai perubahan informasi tanggal pelaksanaan salat Id yang pernah terjadi pada tahun sebelumnya.
Jarot mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumbernya.
Dia menyarankan agar masyarakat merujuk pada sumber resmi yang telah disediakan oleh Muhammadiyah, seperti aplikasi HisabMu KHGT maupun laman resmi hisabmu.com yang telah terintegrasi dengan sistem perhitungan astronomi modern.
Edukasi untuk Persatuan Umat
Kepala SD Mudipat, Edy Susanto, M.Pd menegaskan, kajian ini diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat mengenai sistem kalender Islam yang berbasis ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat semangat persatuan umat.
“Melalui kegiatan ini, SD Muhammadiyah 4 Surabaya ingin memberikan kontribusi nyata dalam menyosialisasikan konsep Kalender Hijriyah Global Tunggal sebagai instrumen pemersatu waktu ibadah umat Islam,” katanya.
Menurut dia, dengan adanya kalender yang seragam, diharapkan pelaksanaan ibadah umat Islam di seluruh dunia dapat berjalan lebih teratur dan terkoordinasi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments