
Oleh: Alfain Jalaluddin Ramadlan (Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan dan Ketua Bidang Pustaka dan Literasi Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Timur)
PWMU.CO – Alhamdulillah wa syukrulillah, bertepatan pada 8 Dzulhijjah 1446 Hijriyah atau Rabu, 4 Juni 2025 M, Muhammadiyah genap berusia 116 tahun Hijriyah.
Ini bukan sekadar angka, tetapi menandakan kekuatan dan ketahanan sebuah gerakan Islam yang telah melalui pelbagai zaman, tantangan, dan transformasi sosial.
Didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 1912 M, Muhammadiyah hadir sebagai gerakan Islam tajdid yang mengakar pada al-Quran dan Sunnah, tetapi senantiasa beradaptasi dengan dinamika zaman.
Dalam lebih dari satu abad usianya, Muhammadiyah bukan hanya menjadi pelopor dakwah dan pendidikan, tetapi juga telah tumbuh sebagai kekuatan sosial modern yang mempengaruhi banyak sektor kehidupan masyarakat.
Semangat keikhlasan, profesionalisme, dan keberanian untuk berubah adalah fondasi yang menjaga konsistensi Muhammadiyah dalam menebar Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Akar Historis Reformisme yang Mengakar
Lahir dari semangat pembaruan, Muhammadiyah memulai langkahnya dengan menghadirkan wajah Islam yang rasional, inklusif, dan kontekstual. KH Ahmad Dahlan memimpikan sebuah masyarakat yang tercerahkan (berkemajuan), dan untuk itu Ahmad Dahlan membangun jalan dakwah yang tidak hanya menyentuh aspek teologis, tetapi juga sosial, pendidikan, dan kesehatan.
Pendekatan ini menjadikan Muhammadiyah tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, tetapi menjelma sebagai agen perubahan yang nyata.
Melalui ribuan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga sosial, Muhammadiyah terus menunjukkan komitmennya dalam membangun peradaban yang mencerdaskan dan memanusiakan manusia. Dalam istilah yang lebih luas, inilah wajah Islam berkemajuan (agama yang aktif memecahkan persoalan, bukan menambah beban kehidupan).
Menjawab Tantangan Global dan Zaman Digital
Memasuki era disrupsi, revolusi industri 4.0 bahkan 5.0, Muhammadiyah menghadapi tantangan baru: digitalisasi, krisis lingkungan, ideologisasi agama, dan disinformasi global. Namun, tantangan ini justru menjadi peluang untuk melakukan lompatan.
Berbagai amal usaha Muhammadiyah telah menerapkan pendekatan digital dalam manajemen dan pelayanan. E-learning di kampus, rekam medis digital di rumah sakit, hingga integrasi data organisasi adalah contoh konkret bahwa Muhammadiyah tidak antipati terhadap teknologi, tetapi menggunakannya sebagai alat perjuangan.
Lebih dari itu, Muhammadiyah terus mendorong literasi digital kader guna menghadapi tantangan media sosial, hoaks, dan ujaran kebencian. Gerakan ini tidak boleh lengah, sebab identitas keislaman hari ini seringkali diganggu oleh narasi ekstrem yang justru menjauhkan esensi Islam yang damai dan mencerahkan.
Islam Berkemajuan sebagai Pilar Adaptif
Muhammadiyah memandang Islam bukan sebagai dogma beku, melainkan sebagai sumber nilai yang dinamis dan adaptif. Islam berkemajuan adalah filosofi dasar Muhammadiyah dalam menjawab tantangan zaman. Islam berkemajuan adalah bentuk keberislaman yang tercerahkan, rasional, dan berdampak sosial.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir, menekankan pentingnya ijtihad kolektif untuk menjawab persoalan kekinian dengan semangat keilmuan dan keberanian moral. Dalam konteks globalisasi dan kompetisi internasional, Muhammadiyah harus menjaga keseimbangan antara purifikasi ajaran dan kontekstualisasi gerakan.
Pendidikan dan Kesehatan: Pilar Strategis Perubahan
Kekuatan Muhammadiyah yang paling menonjol adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. Dengan mengelola lebih dari 172 perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah, ribuan sekolah dan madrasah, serta ratusan rumah sakit dan klinik, Muhammadiyah tidak hanya menyediakan layanan dasar umat, tetapi mencetak generasi unggul dan berdaya saing.
Tantangan ke depan adalah bagaimana menjadikan lembaga pendidikan Muhammadiyah sebagai pusat inovasi. Transformasi kurikulum, peningkatan kapasitas dosen dan guru, serta internasionalisasi pendidikan menjadi keharusan agar Muhammadiyah tetap unggul dan kontributif.
Hal serupa berlaku untuk sektor kesehatan. Di era pasca pandemi, penguatan sistem layanan berbasis teknologi dan inklusivitas layanan menjadi agenda penting. MDMC dan Lazismu telah membuktikan bahwa Muhammadiyah memiliki kapasitas besar dalam penanganan bencana dan aksi kemanusiaan, bahkan di tingkat internasional.
Profesionalisme Organisasi dan Tata Kelola Modern
Usia 116 tahun menuntut Muhammadiyah untuk memperkuat fondasi kelembagaan. Organisasi besar ini tidak boleh berjalan dengan sistem lama. Transformasi menuju organisasi yang modern, akuntabel, dan transparan harus menjadi ruh gerakan.
Melalui penguatan good governance, pembinaan kader sistematis, dan tata kelola digital, Muhammadiyah terus menegaskan dirinya sebagai organisasi modern berbasis nilai. Prinsip kolektif-kolegial dan etos ikhlas menjadi kekuatan sosial tersendiri yang sulit ditandingi.
Dakwah Kultural dan Inklusif
Muhammadiyah tidak semata berdakwah dari mimbar masjid. Namun berdakwah lewat rumah sakit, sekolah, taman kanak-kanak, pasar, hingga media sosial. Pendekatan kultural ini penting dalam menjangkau masyarakat yang semakin plural dan kompleks.
Dengan menjunjung tinggi toleransi, Muhammadiyah membuka ruang dialog lintas iman dan lintas sektor. Dakwah Muhammadiyah hari ini melalui bidangnya Lembaga Dakwah Khusus (LDK) adalah dakwah kolaboratif, yang bekerja bersama pemerintah, masyarakat sipil, dan komunitas global dalam membangun dunia yang lebih adil dan bermartabat.
Menuju 2045: Muhammadiyah Unggul Berkemajuan
Tema besar “Muhammadiyah Unggul Berkemajuan” menjadi penanda arah ke depan. Menuju 2045, seabad Indonesia merdeka, Muhammadiyah menyiapkan peta jalan (roadmap) transformasi organisasi dan pemikiran.
Tokoh sosiologi agama, Dr Zainal Abidin Bagir, menyebut bahwa Muhammadiyah memiliki modal sosial dan kelembagaan yang luar biasa. Kuncinya adalah menjaga relevansi dan daya saing dengan tetap berpijak pada prinsip keagamaan yang otentik.
Penutup
Milad ke-116 Muhammadiyah adalah saat yang tepat untuk refleksi dan proyeksi. Refleksi atas perjuangan para tokoh pendahulu yang telah menanamkan nilai-nilai keislaman yang mencerahkan. Dan proyeksi untuk menata langkah yang lebih progresif dan transformatif di masa depan.
Tantangan global bukan alasan untuk mundur atau stagnan. Sebaliknya, ini adalah panggilan sejarah agar Muhammadiyah terus mengambil peran besar dalam membentuk peradaban Islam yang unggul, rasional, dan manusiawi.
Muhammadiyah tidak hanya akan bertahan, tetapi menjadi pelopor perubahan dunia Islam yang berkemajuan. Aamiin.(*)
Editor Zahrah Khairani Karim






0 Tanggapan
Empty Comments