Berbeda dengan anggapan banyak orang bahwa Muhammadiyah dan NU sulit bersatu dalam satu derap langkah, warga Warulor, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, justru mampu menepis pandangan tersebut. Hal itu dibuktikan dengan terselenggaranya karnaval bersama dalam rangka peringatan HUT ke-80 RI, Jumat (29/8/2025).
Karnaval bersama antara Muhammadiyah dan NU Warulor digelar sebagai respons atas absennya Pemerintah Desa (Pemdes) Warulor dalam menyelenggarakan karnaval desa. Sebagai gantinya, Pengurus Perguruan Muhammadiyah dan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif sepakat untuk mengadakan karnaval khusus bagi kedua lembaga tersebut.
“Karnaval dua lembaga tanpa keterlibatan Pemdes baru terjadi tahun ini, karena biasanya karnaval diprogram dan diselenggarakan oleh Pemerintah Desa,” terang salah satu guru MTs Muhammadiyah 18 Warulor Lamongan, Ali Shodikin.
Ia juga menyampaikan bahwa ide ini diprakarsai oleh dua kepala lembaga, yakni LP Ma’arif dan Perguruan Muhammadiyah Warulor, dengan tujuan agar terlihat guyub, rukun, kompak, serta bekerja sama demi memeriahkan peringatan HUT ke-80 RI.
Ketika ditanya mengenai lokasi gedung sekolah yang berdampingan, ia menjelaskan bahwa sejak awal berdirinya, Lembaga Ma’arif Bahrul Ulum memang berlokasi di tempat tersebut. Sementara itu, Perguruan Muhammadiyah pada awalnya berdiri di sebelah barat lembaga Bahrul Ulum, berjarak sekitar 300 meter.
“Kemudian Perguruan Muhammadiyah mendapat wakaf tanah yang kebetulan berlokasi sekitar 2 meter di sebelah timur Lembaga Bahrul Ulum. Di atas tanah tersebut kemudian dibangun Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM 5) dan MTs Muhammadiyah 18,” jelasnya
Warga Terpesona dengan Tampilan Jidor Surya Nada
Selain karnaval terpadu antara Muhammadiyah dan NU, kemeriahan di Warulor semakin lengkap dengan hadirnya jidor Surya Nada dari SMPM 12 (Spemudas) Paciran yang menampilkan perpaduan musik religi rebana dan gamelan Jawa.
Sepanjang rute karnaval, warga Warulor, Sidokumpul, Weru, hingga Campurejo tampak terhibur dengan alunan musik jidor yang dimainkan para pelajar belasan tahun itu. Bahkan, saking antusiasnya, seorang warga Campurejo sempat menghentikan rombongan untuk membagikan teh botol secara cuma-cuma kepada 25 personel jidor.
“Sangat unik, sajian lagu-lagunya khas tradisional mengingatkan pada zaman para wali. Irama musiknya yang anggun dan menyejukkan hati membuat masyarakat terpesona,” kata seorang warga Campurejo, lelaki paruh baya yang enggan disebutkan namanya.
“Semoga rezeki Bapak makin lancar, penuh barokah, dan senantiasa diberi kesehatan,” timpal Hadiyanto mewakili personel Jidor. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments