Selama puluhan tahun, sebuah narasi usang terus menghantui wajah Muhammadiyah: tuduhan bahwa gerakan ini adalah “musuh” kebudayaan lokal.
Muhammadiyah sering dicap kaku karena ketegasannya menyisir praktik keagamaan.
Namun, benarkah organisasi yang lahir di jantung budaya Jawa—Yogyakarta—ini anti terhadap tradisi? Mari kita bedah lebih dalam.
Meluruskan Salah Kaprah: Pemurnian Bukan Penghapusan
Lahir pada 1912, Muhammadiyah membawa misi tajdid (pembaruan) dan pemurnian.
Kiai Haji Ahmad Dahlan tidak datang untuk menghapus identitas bangsa.
Beliau justru mengajak kita untuk “pulang” ke rumah yang bersih—kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah.
Banyak yang terjebak dalam persepsi bahwa memurnikan ajaran berarti membabat habis tradisi.
Padahal, menurut Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), fokus utamanya adalah memastikan ibadah kita tidak tercemar oleh TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Churafat).
Ini bukan soal kebencian pada seni atau adat, melainkan soal menjaga kemurnian tauhid agar tidak bercampur dengan ritual yang menyimpang secara akidah.
Kunci memahami posisi Muhammadiyah terletak pada kemampuan membedakan mana yang merupakan “ibadah” dan mana yang merupakan “muamalah” atau budaya.
Muhammadiyah tidak mengharamkan gamelan, tidak melarang batik, dan tidak memusuhi bahasa daerah.
Budaya adalah ekspresi kemanusiaan yang indah. Namun, garis tegas ditarik ketika sebuah tradisi mulai menyentuh ranah ketuhanan secara keliru.
Sebagai contoh, sebuah prosesi pernikahan adat Jawa tetaplah menjadi warisan yang luhur selama ia berfungsi sebagai estetika dan penghormatan sosial.
Namun, ketika ritual tersebut disisipi dengan sesajen untuk roh penunggu atau praktik syirik, di situlah Muhammadiyah hadir sebagai pengingat.
Kita boleh berbudaya setinggi langit, namun kaki kita harus tetap berpijak pada tauhid yang murni.
Membangun Peradaban yang Berkemajuan
Alih-alih menjadi penghalang, Muhammadiyah sebenarnya sedang membangun “Kebudayaan Islam yang Berkemajuan”. Sebuah peradaban di mana kearifan lokal tetap dihargai, namun telah melalui proses filterisasi nilai-nilai Islam.
Masyarakat perlu memahami bahwa sikap kritis Muhammadiyah terhadap praktik keagamaan tertentu bukanlah upaya untuk mencabut akar budaya kita. Sebaliknya, itu adalah upaya untuk memastikan bahwa pohon kebudayaan kita tumbuh di tanah yang suci, berbuah manfaat, dan tidak rapuh oleh keyakinan-keyakinan yang menyesatkan.
Sudah saatnya kita berhenti melihat Muhammadiyah dan budaya sebagai dua kutub yang saling bertabrakan. Muhammadiyah adalah penyaring yang memastikan permata tradisi kita tetap bersinar tanpa noda kesyirikan.
Muhammadiyah tidak memberikan cek kosong terhadap semua tradisi, namun juga tidak memukul rata semuanya sebagai larangan.
Ada kompas yang digunakan, yaitu Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).
Sebuah budaya dinyatakan selaras dengan napas Islam apabila memenuhi tiga kriteria utama:
- Steril dari Syirik: Tradisi tersebut tidak boleh menduakan otoritas Allah. Tidak ada ruang bagi pengagungan makhluk yang berlebihan atau ketergantungan pada kekuatan gaib selain-Nya.
- Harmoni dengan Syariat: Budaya yang baik adalah yang tidak menjadi bungkus bagi kemaksiatan. Ia harus bersih dari unsur kemungkaran yang diharamkan agama.
- Memuat Maslahat: Islam adalah agama kemanfaatan. Tradisi seperti gotong royong, sedekah saat kelahiran bayi (aqiqah), hingga seni pertunjukan yang santun adalah bentuk kearifan lokal yang justru mempererat kohesi sosial dan persaudaraan.
Ketegasan Muhammadiyah sering kali disalahpahami sebagai kebencian.
Padahal, penolakan tersebut adalah bentuk “proteksi akidah“.
Muhammadiyah berdiri di depan pintu untuk menghalau tiga virus mental yang merusak tauhid:
- Khurafat: Memutus rantai takhayul, seperti ketakutan pada angka sial atau ketergantungan pada jimat yang tidak rasional.
- Bid’ah: Memastikan ritual ibadah tetap murni sesuai tuntunan Rasulullah SAW tanpa modifikasi yang mengada-ada.
- Syirik: Menjaga agar doa dan pengabdian hanya tertuju pada Allah, bukan kepada roh leluhur atau benda-benda keramat.
Diplomasi Kultural: Menimbang Tradisi dengan Bijak
Untuk memahami betapa cairnya Muhammadiyah dalam memandang tradisi, kita bisa melihat beberapa praktik nyata.
Dalam hal Ziarah Kubur, Muhammadiyah memandangnya sebagai pengingat akan kematian dan wasilah doa bagi yang wafat.
Namun, ia menjadi terlarang saat kuburan berubah menjadi tempat pemujaan atau ajang meminta berkah.
Begitu pula dengan Seni dan Tradisi Selamatan.
Muhammadiyah tidak mengharamkan makan bersama atau berkumpulnya warga.
Yang dikritisi adalah motivasinya: apakah itu bentuk syukur yang tulus atau justru ritual tolak bala yang berbau sesajen?
Muhammadiyah justru mendorong lahirnya seni yang bermartabat.
Wayang, batik, dan musik tradisional dipandang sebagai media dakwah yang efektif selama kontennya mengandung nilai-nilai kebajikan.
Pada akhirnya, Muhammadiyah ingin menegaskan bahwa menjadi Muslim yang taat tidak berarti harus kehilangan identitas sebagai orang Indonesia.
Kita bisa tetap memakai batik, berbicara dengan unggah-ungguh lokal, dan mencintai tanah air, sambil tetap memastikan bahwa hati kita hanya terpaut pada tauhid yang murni.
Sintesis Peradaban: Islam dan Budaya dalam Harmoni
Muhammadiyah meyakini bahwa Islam tidak hadir untuk menciptakan kekosongan budaya.
Sebaliknya, Islam yang dibawa Rasulullah SAW bersifat universal dan elastis terhadap keragaman tradisi.
Merujuk pada Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), kehadiran agama adalah untuk menyempurnakan akhlak, bukan memberangus identitas lokal.
Sejarah mencatat bahwa Rasulullah tidak menghapus seluruh tradisi Arab di Makkah dan Madinah.
Beliau hanya memangkas duri-duri penyimpangan dan membiarkan bunga tradisi yang baik tetap mekar.
Inilah yang diadopsi Muhammadiyah: sebuah harmoni di mana tauhid menjadi fondasi, dan budaya menjadi ekspresi yang memperkaya peradaban.
Peran Muhammadiyah dalam kebudayaan tidak berhenti pada kritik, melainkan mewujud dalam kerja nyata.
Melalui ribuan amal usaha—mulai dari universitas hingga rumah sakit—Muhammadiyah sedang membangun “Budaya Islam yang Berkemajuan“.
Ini adalah bentuk kebudayaan baru: budaya yang menghargai ilmu pengetahuan, menjunjung tinggi etos kerja, dan mengedepankan filantropi melalui gerakan Lembaga Resiliensi Bencana (MDMC) atau Lazismu.
Dalam ranah estetika, Muhammadiyah tidak menutup mata.
Organisasi ini memberi ruang bagi kreativitas seni dan sastra selama ia menjadi sarana pendakian spiritual dan kemanusiaan.
Banyak cendekiawan dan seniman Muhammadiyah yang membuktikan bahwa religiositas tidak harus membunuh imajinasi; justru iman menjadi ruh bagi karya yang abadi.
Di sinilah letak strategi cerdas Muhammadiyah: Dakwah Kultural.
Ini adalah upaya membumikan nilai Islam ke dalam denyut jantung masyarakat tanpa harus menciptakan benturan yang tidak perlu.
Muhammadiyah menggunakan pendekatan yang persuasif, masuk melalui celah-celah tradisi untuk memberikan warna islami yang lebih jernih.
Dakwah kultural memastikan bahwa pesan Tuhan tidak terdengar asing di telinga masyarakat lokal.
Dengan memanfaatkan seni, sastra, dan media modern, pesan-pesan tauhid disampaikan secara estetis, sehingga Islam diterima bukan sebagai ancaman bagi identitas lokal, melainkan sebagai cahaya yang menyempurnakannya.
Tauhid yang Menghidupkan, Bukan Mematikan
Jadi, tuduhan bahwa Muhammadiyah anti-budaya adalah sebuah anakronisme yang tidak berdasar.
Muhammadiyah tidak sedang memerangi budaya; ia sedang menjaga kemurnian tauhid agar umat tidak tersesat dalam rimba takhayul.
Sikap Muhammadiyah sangat lugas: menerima yang maslahat, meluruskan yang bengkok, dan menolak yang syirik.
Islam dan budaya bukanlah dua rival yang harus saling mengalahkan.
Keduanya bisa berjalan beriringan membentuk peradaban yang anggun—sebuah peradaban di mana kita bisa menjadi Muslim yang paripurna sekaligus orang Indonesia yang bangga akan akarnya.***





0 Tanggapan
Empty Comments