Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kajian Islam Multidisipliner ke-5 dengan tema “Muhammadiyah Menjaga Ideologi Bangsa: Negara Kesatuan ‘Tanpa Persatuan’ Republik Indonesia”, Kamis (28/8/2025).
Acara ini berlangsung di Aula Masjid AR Fachruddin Lt.2 UMM dan menghadirkan ratusan peserta dari kalangan dosen, aktivis, hingga para guru.
Hadir sebagai pemateri adalah Dr Saiman MSi (Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan UMM) dan Dr Nurul Zuriah MSi (Dosen Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UMM).
Keduanya memaparkan pandangan strategis mengenai posisi Muhammadiyah dalam menjaga ideologi bangsa di tengah tantangan persatuan nasional.
Peran Muhammadiyah Menjaga NKRI
Dalam sambutan pembuka, Kepala PSIB UMM Zaenal Abidin MSi menegaskan bahwa tema ini dipilih karena relevan dengan kondisi kebangsaan Indonesia yang kerap diuji oleh polarisasi sosial dan politik.
“Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak akan pernah kuat bila kehilangan semangat persatuan. Muhammadiyah punya tanggung jawab moral dan historis untuk menjaga agar ideologi bangsa tetap utuh dan hidup di tengah masyarakat,” jelasnya.
Zaenal juga menambahkan, melalui kajian multidisipliner seperti ini, PSIB berupaya menghadirkan ruang dialog kritis lintas bidang ilmu agar nilai-nilai Islam berkemajuan terus memberi solusi nyata bagi bangsa.
Ideologi Bukan Sekadar Formalitas
Dr Saiman MSi dalam pemaparannya menyebut bahwa persatuan bangsa bukan hanya jargon konstitusional, melainkan kebutuhan riil bagi eksistensi Indonesia.
“Tanpa persatuan, NKRI hanya akan menjadi nama formal. Yang menjaga keutuhan itu bukan sekadar sistem pemerintahan, tapi juga peran masyarakat sipil seperti Muhammadiyah,” tegasnya.
Ia juga menyinggung bahwa ideologi bangsa akan rapuh jika dibiarkan tanpa pengawalan dari kekuatan sosial-keagamaan yang konsisten dalam perjuangan kebangsaan.
Sementara itu, Dr Nurul Zuriah MSi menggarisbawahi pentingnya pendidikan ideologi di ranah keluarga dan sekolah. Menurutnya, tanpa basis pendidikan yang kokoh, nilai persatuan mudah digoyahkan.
“Muhammadiyah tidak hanya menjaga ideologi di tataran wacana, tetapi juga diimplementasikan melalui amal usaha pendidikan. Dari sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi, semua itu bagian dari menjaga NKRI agar tetap bernafaskan persatuan,” paparnya.
Ia mengingatkan, jika ideologi hanya berhenti pada dokumen, maka bangsa ini akan kehilangan ruh kebersamaan.
“Kita harus menyalakan semangat persatuan dalam praktik sehari-hari. Tanpa itu, ideologi bangsa hanya akan menjadi teks mati,” tandasnya.
Suasana kajian terasa hangat dan penuh semangat. Peserta yang terdiri dari dosen lintas fakultas, aktivis organisasi, hingga para guru dari sekolah Muhammadiyah antusias menyimak setiap materi. Diskusi interaktif pun mencuat saat sesi tanya jawab dibuka.
Beberapa peserta menanyakan tentang strategi Muhammadiyah menghadapi tantangan globalisasi dan arus ideologi transnasional yang sering kali bertentangan dengan Pancasila.
Ada juga yang menyoroti pentingnya memperkuat pendidikan multikultural di sekolah Muhammadiyah agar persatuan bangsa semakin kokoh.
Acara yang dimulai pukul 15.00 WIB ini diawali dengan shalat Ashar berjamaah di masjid, lalu dilanjutkan dengan kajian hingga pukul 17.15 WIB.
Di akhir acara, para peserta menyepakati bahwa Muhammadiyah harus terus memperkuat komitmennya dalam menjaga ideologi bangsa. Tidak hanya melalui pemikiran, tetapi juga lewat amal nyata di masyarakat.
PSIB UMM berjanji akan terus menghadirkan kajian serupa dengan tema-tema aktual kebangsaan, agar perguruan tinggi Muhammadiyah tetap menjadi pusat penggerak Islam berkemajuan yang mampu merespons tantangan zaman. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments