Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muhammadiyah Tak Pernah Bawa Proposal ke Presiden

Iklan Landscape Smamda
Muhammadiyah Tak Pernah Bawa Proposal ke Presiden
pwmu.co -
Busyro Muqoddas: Muhammadiyah Tak Pernah Bawa Proposal ke Presiden (Tangkapan layar Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Muhammadiyah Tak Pernah Bawa Proposal ke Presiden. Meminta bantuan ke presiden atau gubenur bukanlah tipikal Muhammadiyah. Dr H M Busyro Muqoddas SH MHum, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyampakan hal itu pada Penguatan Ideologi Muhammadiyah, Selasa (6/7/2021) pagi.

Kajian virtual yang digelar Mugeb Islamic Center (MIC) Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik itu bertajuk “Muhammadiyah dan Keadilan Sosial”.

Busyro menyatakan Muhammadiyah selama ini tidak melakukan perlawanan, tapi memberi jalan keluar. Misal, saat ada masalah kekurangan kampus, Muhammadiyah ikut menyediakan kampus.

Salah satunya, kampus di Surabaya dengan gedung 31 lantai. “Bukan mewah-mewah, tapi tanahnya tidak bisa melebar, sehingga harus (membangun) ke atas,” tegasnya.

Mengingat, kata Busyro, perguruan tinggi pemerintah juga tidak cukup menampung minat kuliah pelajar di Indonesia. Begitu pula dengan fasilitas rumah sakit dari pemerintah, apalagi di masa Covid-19 ini. “Tidak cukup sama sekali,” ungkapnya.

Pengaruh Wasiat Kiai Dahlan

Maka, dalam berbicara ideologi, Busyro mengaitkannya dengan wasiat KH Ahmad Dahlan. Tidak hanya wasiat, katanya, tapi juga memberi contoh. Ada tiga wasiat sang Pencerah yang Busyro paparkan.

Pertama, Aku Titipkan Muhammadiyah kepadamu. Kedua, Hidup-hidupilah Muhammadiyah Jangan Mencari-cari Kehidupan di Muhammadiyah. Ketiga, Menjadi Apa Saja, Kembalilah ke Muhammadiyah.

Wasiat itu, memberi pengaruh untuk meneguhkan gerakan Muhammadiyah. Pengaruhnya, pertama, jamaah, kader dan pimpinan bervisi tauhid fungsional secara nasional, lintas sektor, dan peran. Jadi melibatkan baik mubaligh, guru, dosen, kader, pimpinan, dan lainnya.       

Pengaruh lainnya, mendorong berdisiplin tinggi dalam beribadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Seperti halnya shalat yang memiliki pengaruh sosial.

Ketiga, wasiat itu merawat akhlaqul karimah antar generasi, dari pusat sampai ranting, yang berskala nasional maupun global. Busyro menekankan, sumber korupsi adalah krisis akhlak pejabat dan follower muqollid fanatiknya.

Pengaruh keempat, hidup suburnya jiwa “memberi daripada menerima dengan semangat fastabiqul khairat”. Ini sesuai dengan pepatah, tangan yang di atas (memberi) lebih terhormat daripada mengemis-ngemis.

Busyro menegaskan, Muhammadiyah tidak mengenal ketika ke presiden atau gubernur membawa map berisi proposal.

“Muhammadiyah itu dari ranting sampai pusat menjauhi sifat meminta-minta apa pun, kepada pihak mana pun, karena mengganggu muru’ah (martabat) organisasi dan pemimpin,” tegasnya.

Sifat ini menurutnya sangat penting, terutama bagi negara dan pemerintahan. Tindakan kejahatan korupsi oleh pejabat negara merupakan wujud dari sifat kikir dan bakhil. Menurut Busyro, yang membuat orang-orang itu enteng sekali berkorupsi adalah rakus jabatan. “Jabatan diperebutkan, lewat pilkada dan pemilu,” ujarnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Pengaruh lainnya, dari ranting, guru, ustad, dan mubaligh selalu merawat etos kebersinambungan amaliah ihsaniyah keumat-manusiaan universal.

Hasil Warisan Teladan Akhlak

Busyro mengatakan, Muhammadiyah, utamanya bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat sebagai pilar ikatan batin dan sosial bangsa. “Bangsa ini akan rusak kalau ikatan batinnya dirusak korupsi,” ujarnya.

Dia menyatakan, korupsi pasti merusak suasana batin. Memangnya orang korupsi itu tenang? Busyro menegaskan, “Tidak! Kalau tenang itu pura-pura tenang.”

Hasil warisan lainnya, Busyro menyatakan adanya peneguhan gerakan berbasis watak dan tradisi ikhlas, cerdas, serta kerja keras. Selain itu, juga istikamah pada prinsip kejujuran, kerakyatan, dan menjaga marwah (martabat) negara berdaulat. Jadi, menurutnya, bukan malah menggadaikan akidah, jabatan, profesi, dan ilmu demi pribadi, keluarga, kelompok, partai atau bos.

Busyro juga menyampaikan ada buah warisan yang berupa kepekaan (sensitif), responsif (tanggap) dan progresif (berkemajuan) dalam spirit dakwah dan tajdid (pembaruan).

Tujuannya, untuk proaktif dalam semua masalah kebangsaan dan kenegaraan yang menyimpang dari jiwa dan moralitas Pembukaan UUD 1945, Pancasila, dan kemanusiaan. “Kalau Majelis PKU mengirim surat ke presiden, belum lama ini, seminggu yang lalu kurang lebih, mengingatkan dan mengusulkan supaya PSBB— sekarang PKKM—itu antara lain setelah Pimpinan Pusat mengusulkan,” ungkapnya.

Maka, dia menekankan, proses pewarisan amaliah ihsaniah-insaniah bersumber tuntunan al-Quran dan  as-Sunnah sejak KH Ahmad Dahlan sampai sekarang, merupakan bukti konkrit ideologi Muhammadiyah yang bersumber pada MKCHM.

Tak Ragukan Peran Muhammadiyah

Untuk itu, dalam kaitannya dengan bahasan kebangsaan, Busyro menyatakan agar tidak perlu lagi meragukan ideologi dan peran Muhammadiyah.

Sebab, bisa dilihat dari peran besar Muhammadiyah sejak prakemerdekaan. Di antaranya, ada aktivis Pandu HW Sudirman sebagai Perintas TNI dan Kasman Singodimejo sebagai Jaksa Agung Pertama.

Muhammadiyah juga ikut berperan sebagai perumus Pancasila bersama tokoh-tokoh lain. Itu merupakan bukti bahwa ideologi Muhammadiyah bersifat Islam moderat, kultural, dan integratif dengan nilai dan semangat keindonesiaan. (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah Editor Mohammad Nurfatoni

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu