Nama dr. H. Mutadi muncul sebagai sosok yang berperan besar dalam menyatukan, menata, dan membangun Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) hingga menjadi seperti sekarang.
Sederhana, tenang, tapi teguh dalam prinsip. Begitulah itulah kesan yang melekat pada dirinya. Dalam masa kepemimpinannya sebagai Rektor kedua UM Surabaya, Mutadi dikenal bukan hanya sebagai seorang dokter yang mumpuni, tetapi juga sebagai organisator, pendidik, dan pemimpin yang sabar.
Di bawah kepemimpinannya, universitas yang dulu tersebar di berbagai lokasi itu akhirnya menyatu dalam satu kampus terpadu di Jalan Sutorejo No. 59, Surabaya.
Kisah Mutadi tak bisa dilepaskan dari sosok dr. H. Moh. Suherman, Rektor pertama UM Surabaya. Keduanya bertemu di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair). Suherman adalah seniornya, namun hubungan mereka melampaui sekadar kakak-adik kelas.
Mereka sering berdiskusi, berdebat, dan bersama-sama aktif di organisasi kemahasiswaan, hingga akhirnya terjun ke Persyarikatan Muhammadiyah.
Setelah lulus, kedua dokter muda ini tetap berjalan beriringan. Suherman dengan semangat dakwah dan pendidikannya, sementara Mutadi dengan pengabdiannya di dunia kesehatan.
Persahabatan mereka seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Saling melengkapi dalam perjuangan membangun amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan tinggi.
Seperti ditulis dalam buku Jejak Langkah Perjalanan UM Surabaya dari Masa ke Masa (2020), Ketika wacana penyatuan berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah di Surabaya mulai bergulir, keduanya termasuk di barisan depan.
Ada Fakultas Ilmu Agama Jurusan Dakwah (FIAD) yang berdiri sejak 1964, Fakultas Tarbiyah Surabaya (1975), IKIP Muhammadiyah Surabaya (1980), Fakultas Syariah Surabaya (1982), hingga Institut Teknologi Muhammadiyah Surabaya (1983).

Semua lembaga itu kemudian berproses hingga lahirlah Universitas Muhammadiyah Surabaya pada tahun 1984—buah dari kerja keras, silaturahmi, dan tekad para perintisnya.
Sebagai dokter yang bekerja di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Surabaya, Mutadi memiliki karier yang stabil. Namun, semangatnya untuk berkhidmat di Muhammadiyah begitu besar. Dia mulai aktif di ranting Dinoyo, menghadiri pengajian, dan ikut menggerakkan kegiatan sosial.
Ketika keinginannya untuk bertugas di amal usaha kesehatan Muhammadiyah mendapat persetujuan dari Departemen Kesehatan, ada syarat berat yang harus diterima: negara tidak lagi menanggung gajinya. Artinya, dia harus hidup dari honor Muhammadiyah yang saat itu tentu tidak seberapa.
Lebih dari itu, rezim Orde Baru saat itu melarang PNS aktif di organisasi masyarakat, termasuk organisasi keagamaan.
Mutadi dihadapkan pada pilihan sulit: tetap sebagai PNS dengan jaminan karier atau total mengabdi di Muhammadiyah dengan segala risikonya. Dan dia memilih jalan kedua.
Keputusan itu bukan sekadar keberanian, tapi juga bentuk cinta dan keyakinan terhadap perjuangan Muhammadiyah. Ia melepas atribut negara demi sepenuhnya menjadi pelayan umat.
Merintis Kampus Sutorejo
Awalnya, kegiatan akademik UM Surabaya tersebar di beberapa lokasi. Perkuliahan dilakukan di berbagai tempat, termasuk Unair dan Poltekkes. Namun, tekad Mutadi untuk menyatukan semua aktivitas ke satu kampus terpadu tak pernah surut.
Sekitar tahun 1995–1996, seluruh fakultas resmi pindah ke kampus baru di Jalan Sutorejo. Saat itu, kondisi masih jauh dari ideal. Akses transportasi sulit; dari kawasan Pucang ke Sutorejo harus naik angkot dua kali dan berjalan kaki cukup jauh.
Namun, keterbatasan itu justru melahirkan semangat luar biasa. Dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa bahu-membahu membangun kampus baru.
Gotong royong dan rasa memiliki menjadi energi yang menyatukan semuanya. Gedung demi gedung berdiri. Sarana dan prasarana ditata, hingga wajah kampus berubah menjadi lebih representatif. Mahasiswa pun berdatangan dari berbagai daerah, dari Jawa, Madura, hingga luar pulau.
Dalam kepemimpinannya, Mutadi percaya bahwa kekuatan sebuah institusi bukan hanya pada bangunan fisiknya, tapi juga pada kekuatan hubungan antar manusianya. Dia menggagas kegiatan sederhana tapi bermakna: “arisan sivitas akademika.”
Arisan ini bukan tentang uang, melainkan tentang silaturahmi dan kebersamaan. Setiap pertemuan menjadi ruang untuk berbagi kabar, bertukar ide, dan memperkuat ikatan emosional antardosen dan staf.
Dari forum-forum kecil semacam itulah muncul gagasan besar tentang strategi pembangunan kampus, perekrutan dosen berkualitas, dan peningkatan kesejahteraan tenaga kependidikan.
Strategi Thobaq Anthobaq
Mutadi memiliki prinsip pembangunan yang khas, yakni “thobaq anthobaq”, berjalan setapak demi setapak, berhenti sejenak untuk menilai, lalu melangkah lagi dengan mantap.
Dia tahu bahwa membangun universitas bukan perlombaan cepat, melainkan proses panjang yang menuntut konsistensi dan kesabaran.
Pendekatan itu membuahkan hasil. Sumber daya manusia mulai terbentuk, loyalitas tumbuh, dan rasa memiliki terhadap kampus semakin kuat.
Dalam pengembangan sarana dan prasarana, dia tidak hanya mengandalkan dana dari mahasiswa, tetapi juga menggerakkan jaringan kedermawanan. Dukungan datang dari alumni, tokoh masyarakat, hingga donatur yang percaya pada integritasnya.
Di sisi lain, Mutadi juga memastikan bahwa kesejahteraan dosen dan staf tidak diabaikan. Dia memperkenalkan sistem gaji bulanan dan remunerasi sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja keras sivitas akademika.
Langkah itu sederhana, tetapi membangkitkan semangat baru di lingkungan kampus.
Kini, setiap kali kita melintasi Jalan Sutorejo No. 59, berdiri megah kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya, hasil dari ketekunan, pengorbanan, dan visi jauh ke depan seorang dokter yang memilih jalan pengabdian.
dr. H. Mutadi bukan hanya rektor yang memindahkan kampus dari satu lokasi ke lokasi lain, melainkan arsitek spiritual dari semangat keilmuan dan kebersamaan di UM Surabaya.
ia menanamkan nilai bahwa universitas bukan sekadar tempat belajar, tetapi rumah bagi perjuangan, pengabdian, dan cinta terhadap umat.
Warisan itu kini terus hidup, menjadi napas bagi generasi baru di bawah panji Muhammadiyah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments