Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mungkin Ia Punya Udzur: Pelajaran Akhlak di Bulan Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Mungkin Ia Punya Udzur: Pelajaran Akhlak di Bulan Ramadan
Oleh : Angga Adi Prasetya, M.Pd Guru SD Muhammadiyah 1 Malang Sekretaris Bidang Dakwah PDPM Kota Malang
pwmu.co -

Bulan Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menahan diri dari prasangka.

Di tengah kehidupan yang serba terbuka dan serba cepat hari ini, kita sering kali terlalu mudah menilai orang lain.

Padahal bisa jadi, ia hanya sedang menjalani ujian yang tidak kita ketahui. Mungkin ia punya udzur.

Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang wahai bulan penuh rahmat, ampunan, dan cahaya iman.

Bulan yang Allah hadirkan setiap tahun sebagai momentum mentarbiyah diri: memperbaiki hati, melatih kesabaran, menundukkan ego, dan menumbuhkan empati.

Ramadhan mengajarkan keimanan yang utuh. Ia tidak berhenti pada ritual, tetapi merambah akhlak sosial. Di sinilah pentingnya husnuzan—berprasangka baik kepada sesama.

Di Era Serba Terbuka, Menilai Terasa Mudah

Media sosial hari ini memperlihatkan banyak hal: aktivitas ibadah, kegiatan organisasi, bahkan potongan kehidupan pribadi. Tanpa sadar, kita sering menyimpulkan sesuatu hanya dari apa yang tampak.

Seseorang tidak hadir dalam pengajian, jarang terlihat di masjid, atau tidak aktif dalam grup dakwah, lalu kita memberi label: kurang semangat, kurang peduli, bahkan kurang iman.

Padahal boleh jadi ia sedang merawat orang tua yang sakit, bekerja hingga larut demi keluarga, atau berjuang dalam diam memperbaiki dirinya.

Mungkin ia punya udzur.

Larangan Prasangka dalam Al-Qur’an

Allah SWT telah mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 agar kaum beriman menjauhi banyak prasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa.

Ayat ini bukan sekadar larangan, tetapi pedoman etika sosial agar kehidupan umat tetap teduh dan harmonis.

Dalam khazanah ulama terdapat maqolah yang masyhur:

Iltamis li akhîka sab’îna ‘udzran
“Carilah untuk saudaramu tujuh puluh alasan.”

Pesannya jelas: jangan tergesa-gesa menghakimi. Bahkan jika belum menemukan alasan yang tepat, para ulama menganjurkan untuk berkata dalam hati, “Mungkin ada alasan yang belum aku ketahui.”

Iklan Landscape UM SURABAYA

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga berpesan:

“Barang siapa menasihati saudaranya secara sembunyi-sembunyi, maka ia telah menghiasinya. Dan barang siapa menasihatinya secara terang-terangan, maka ia telah mempermalukannya.”

Nasihat ini mengajarkan adab sosial yang tinggi. Jika tujuan kita benar-benar ingin memperbaiki, maka caranya pun harus menjaga kehormatan.

Ramadhan dan Ujian Rasa Paling Benar

Bagi warga Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid, akhlak sosial adalah fondasi. Dakwah bukan sekadar program kerja atau ceramah, melainkan kelapangan hati.

Ramadhan sering kali menjadi momen pembanding: siapa paling rajin tarawih, siapa paling aktif berbagi takjil, siapa paling sering mengunggah kajian.

Tanpa sadar, ukuran-ukuran lahiriah itu dijadikan standar keimanan. Padahal Allah menilai hati dan ketulusan.

Ada maqolah yang patut direnungkan:

Man ‘arafa nafsahu isytaghala bi ishlâhihâ ‘an ‘uyûbi ghairih
“Siapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari-cari aib orang lain.”

Betapa sering kita lebih tajam melihat kekurangan orang lain dibanding kekurangan diri sendiri. Padahal perjalanan menuju Allah adalah perjalanan personal yang penuh ujian berbeda-beda.

Menahan Lidah, Menjaga Ukhuwah

Berprasangka baik bukan berarti menutup mata terhadap kemungkaran. Namun husnuzan adalah sikap awal sebelum bertindak. Ia adalah fondasi adab sebelum kritik, cahaya hati sebelum kata-kata terucap.

Jika suatu hari kita melihat saudara kita berbeda dari yang kita harapkan, cobalah menahan diri sejenak. Ucapkan dalam hati: “Mungkin ia punya udzur.”

Dengan kalimat sederhana itu, kita telah menyelamatkan diri dari dosa prasangka, menjaga ukhuwah, dan memelihara kemuliaan akhlak.

Pada akhirnya, masyarakat yang kuat bukan hanya yang rajin beribadah, tetapi yang saling menjaga kehormatan. Sebab bisa jadi, di mata Allah, orang yang kita sangka biasa saja justru lebih mulia karena sabar dalam ujian yang tak pernah kita tahu.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu